KOMPAS.com - Sektor manufaktur dunia disebut perlu mengutamakan prinsip berkelanjutan. Sebab, sektor tersebut dihadapkan dengan tekanan untuk mengurangi dampak lingkungan dan memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab.
Misalnya, Singapore Green Plan 2030 mendorong efisiensi energi dan penerapan ekonomi sirkular, yang memaksa produsen mengadopsi operasi menjadi lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Baca juga:
Indikator kinerja utama (KPI) manufaktur berkelanjutan menjadi inti dari upaya ini. KPI merupakan metrik terukur yang membantu pabrik-pabrik melacak dampak lingkungan, sosial, dan operasional mereka, dengan mengidentifikasi inefisiensi, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta memperkuat reputasi pasar mereka.
Berikut sejumlah KPI utama yang perlu dipantau oleh pabrik-pabrik untuk memastikan praktik manufaktur yang berkelanjutan, dilansir dari The European Business Review, Senin (19/1/2026).
Manufaktur berkelanjutan sebaiknya mengelola sumber daya secara efisien. Dengan menelusuri konsumsi energi per unit produksi, pabrik-pabrik bisa menentukan area mana yang perlu dihemat atau prosesnya dioptimalkan, termasuk dengan merencanakan mengadopsi sumber energi baru terbarukan (EBT).
Pabrik bisa mengidentifikasi proses atau peralatan yang boros energi dan menentukan di mana panel surya, sistem biomassa, atau solusi terbarukan lainnya mampu memberikan dampak terbesar.
Pola penggunaannya membantu pabrik mengoptimalkan waktu dan skala penerapan EBT, mengintegrasikan solusi penyimpanan energi secara efektif, serta menghitung potensi penghematan biaya dan pengurangan emisi.
Baca juga:
Sektor manufaktur global menghadapi tekanan lingkungan. Simak KPI penting untuk memastikan praktik manufaktur berkelanjutan.Manufaktur berkelanjutan sebaiknya mengelola limbah dan emisi. Pabrik perlu mengukur emisi gas rumah kaca (GRK), seperti karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida, untuk memahami dampak lingkungan dari proses produksi, yang dilanjutkan dengan menetapkan target pengurangannya.
Hasil analisis emisi GRK akan membantu pabrik mengidentifikasi operasi dan proses intensif energi paling berkontribusi terhadap jejak karbon, yang memungkinkan mereka menerapkan strategi dengan tepat sasaran.
Selain itu, pabrik perlu mengukur polutan udara, termasuk senyawa organik volatil dan partikel karena zat-zat ini dapat memengaruhi kualitas udara dan menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Manufatur berkelanjutan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dari keseluruhan siklup hidup produk.
Pabrik perlu mendesain produk agar tahan lama dan bisa didaur ulang untuk mengurangi limbah jangka panjang maupun mendukung prinsip ekonomi sirkular.
Pabrik-pabrik mengelola proses akhir masa pakai, seperti skema pengembalian atau inisiatif pemulihan material, untuk memastikan produk tetap digunakan dan tidak menambah tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya