Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029

Kompas.com, 20 Januari 2026, 21:07 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Australia menunda penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar, Eraring power station (pembangkit listrik Eraring), hingga tahun 2029. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran soal keamanan pasokan listrik saat negara tersebut menjalani masa transisi energi.

Operator pembangkit, Origin Energy, mengumumkan bahwa Pembangkit Listrik Eraring di negara bagian New South Wales (NSW) ini akan tetap beroperasi hingga 30 April 2029.

Baca juga:

Sebelumnya, pembangkit berkapasitas 2.880 megawatt (MW) itu dijadwalkan berhenti beroperasi pada tahun 2027.

Menteri Lingkungan Hidup Australia, Penny Sharpe, mengonfirmasi bahwa Origin telah memberitahu Pemerintah NSW, Bursa Efek Australia, dan Operator Pasar Energi Australia (Aemo) bahwa mereka akan mengoperasikan Eraring hingga April 2029. Keempat unit pembangkit listrik tersebut akan terus digunakan.

"Keputusan Origin memberikan kepastian bagi pekerja, pasar, dan konsumen energi di seluruh negara bagian, serta berkontribusi terhadap target pengurangan emisi NSW pada tahun 2030," kata Sharpe, dilansir dari The Guardian, Selasa (20/1/2026). 

Penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di Australia ditunda

Ditunda demi menjaga stabilitas pasokan listrik

Australia menunda penutupan pembangkit batu bara terbesar hingga 2029 demi menjaga pasokan listrik selama transisi energi.PIXABAY/ANATOLY STAFICHUK Australia menunda penutupan pembangkit batu bara terbesar hingga 2029 demi menjaga pasokan listrik selama transisi energi.

Sebagai informasi, Eraring berada sekitar 95 kilometer di utara Sydney, NSW. Selama puluhan tahun, pembangkit ini menjadi tulang punggung pasokan listrik wilayah tersebut.

Origin Energy menyebut keputusan penundaan penutupan dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan listrik. Masa transisi menuju energi bersih dinilai masih membutuhkan dukungan pembangkit konvensional.

Langkah ini muncul setelah Aemo mengeluarkan peringatan penting pada Desember lalu. Dalam laporannya, Aemo menilai NSW berisiko mengalami pemadaman listrik jika Eraring ditutup pada tahun 2027.

Risiko itu muncul karena sejumlah proyek infrastruktur pendukung transisi energi belum selesai tepat waktu. Keterlambatan pembangunan jaringan transmisi dan fasilitas energi baru menjadi faktor utama.

CEO Origin Energy, Frank Calabria, mengatakan, perpanjangan operasi Eraring akan memberi waktu tambahan bagi sektor energi bersih untuk berkembang.

"Kemajuan yang baik sedang dicapai dalam pembangunan infrastruktur energi baru, termasuk pekerjaan transmisi utama dan proyek seperti baterai skala besar kami di Eraring, tetapi menjadi jelas bahwa pembangkit listrik Eraring perlu beroperasi lebih lama guna mendukung pasokan listrik yang aman dan stabil," jelas Calabria, dilansir dari Xinhua via Antara

Ia menambahkan, keputusan untuk menunda penutupan Eraring akan memberi banyak waktu untuk proyek-proyek energi terbarukan, penyimpanan, dan transmisi untuk direalisasikan. 

Baca juga:

Mendapat tanggapan beragam

Australia menunda penutupan pembangkit batu bara terbesar hingga 2029 demi menjaga pasokan listrik selama transisi energi.PIXABAY/BEN SCHERJON Australia menunda penutupan pembangkit batu bara terbesar hingga 2029 demi menjaga pasokan listrik selama transisi energi.

Meskipun penundaan penutupan ini akan berkontribusi terhadap pengurangan emisi di NSW, para aktivis iklim menggambarkannya sebagai " bencana".

Partai politik hijau di NSW, NSW Greens menyampaikan, penundaan penutupan Eraring merupakan "bencana bagi target iklim NSW dan Australia".

"Menjaga pembangkit listrik batu bara tetap beroperasi lebih lama adalah bencana bagi biaya hidup dan kesehatan manusia," kata juru bicara lingkungan NSW Greens, Abigail Boyd.

"Meskipun ada peringatan berulang bahwa NSW sudah tidak berada di jalur yang tepat untuk mencapai target iklim yang ditetapkan secara hukum, pemerintah NSW dari Partai Buruh terus melanjutkan kebijakan seperti biasa," lanjut dia. 

Adapun pemerintah NSW memiliki target iklim yang cukup ambisius. Emisi gas rumah kaca ditargetkan turun 50 persen dari tingkat tahun 2005 pada 2030. Target itu meningkat menjadi 70 persen pada 2035.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau