KOMPAS.com - Lautan menyerap lebih banyak panas tahun 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sejak pengukuran modern dimulai sekitar tahun 1960, menurut analisis baru yang diterbitkan dalam Advances in Atmospheric Science.
"Pemanasan laut terus memberikan dampak yang signifikan terhadap sistem Bumi," tulis para peneliti, dilansir dari Eos.org, Rabu (21/1/2026).
Baca juga:
Lautan disebut menyerap lebih dari 90 persen kelebihan panas yang terperangkap di atmosfer bumi akibat emisi gas rumah kaca.
Seiring dengan menumpuknya panas di atmosfer, panas yang tersimpan di lautan turut meningkat. Hal itu menjadikan panas lautan indikator yang andal terhadapperubahan iklim jangka panjang.
Suhu lautan akan memengaruhi frekuensi dan intensitas gelombang panas laut, mengubah sirkulasi atmosfer, dan mengatur pola curah hujan global.
"Pemanasan laut global terus berlanjut tanpa henti pada tahun 2025 sebagai respons terhadap peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dan penurunan aerosol sulfat yang terjadi baru-baru ini," tulis para peneliti, dikutip dari laman Springer Nature Link.
Lautan dunia menyerap panas tertinggi sejak 1960. Tahun 2025 mencatat tambahan energi 23 zettajoule yang menandai krisis iklim makin nyata.Untuk mengetahui seberapa banyak laut mampu menyerap panas, ilmuwan mengukur panas lautan dengan berbagai cara.
Salah satu metrik umum adalah mengukur suhu permukaan laut rata-rata tahunan global, yang merupakan suhu rata-rata di beberapa meter teratas perairan laut.
Suhu permukaan laut global pada tahun 2025 adalah yang terpanas ketiga yang pernah tercatat, sekitar 0,5 derajat celsius di atas rata-rata tahun 1981-2010.
Metrik lain adalah kandungan panas laut yang mengukur total energi panas yang tersimpan di lautan dunia.
Kandungan panas diukur dalam zettajoule. Adapun satu zettajoule setara dengan 1.000.000.000.000.000.000.000 (satu sekstiliun) joule.
Untuk mengukur kandungan panas pada tahun 2025, para penulis studi lantas menilai data pengamatan laut dari 2.000 meter bagian atas laut, tempat sebagian besar panas diserap, dari Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA, Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, dan Akademi Ilmu Pengetahuan China.
Peneliti menemukan bahwa, secara total, lautan menyerap tambahan energi panas sebesar 23 zettajoule pada tahun 2025.
Angka tersebut memecahkan rekor kandungan panas lautan untuk tahun kesembilan berturut-turut dan menandai urutan rekor panas lautan berturut-turut terpanjang yang pernah tercatat.
Baca juga:
Lautan dunia menyerap panas tertinggi sejak 1960. Tahun 2025 mencatat tambahan energi 23 zettajoule yang menandai krisis iklim makin nyata.Sebagai informasi, 23 zettajoule dalam satu tahun tersebut setara dengan energi 12 bom Hiroshima yang meledak di laut setiap detiknya.
Hal tersebut merupakan peningkatan besar dibandingkan dengan 16 zettajoule panas yang diserap lautan pada tahun 2024.
Secara regional, sekitar 33 persen dari luas laut global masuk dalam tiga kondisi terpanas sepanjang sejarah (1985-2025).
"Sementara itu, sekitar 57 persen masuk dalam lima kondisi terpanas, termasuk Samudera Atlantik tropis dan selatan, Laut Mediterania, Samudera Hindia utara, dan Samudera Selatan (Samudera Antartika), yang menunjukkan pemanasan laut yang luas di berbagai basin," tulis penelitian tersebut.
Baca juga:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem iklim berada di luar keseimbangan termal dan sedang menumpuk panas.
Dalam kondisi normal, bumi seharusnya mengeluarkan energi panas ke luar angkasa sebanyak energi yang diterimanya dari matahari. Namun, saat ini bumi menahan jauh lebih banyak panas daripada yang bisa dilepaskan.
Lautan yang lebih panas mendukung peningkatan curah hujan global dan memicu badai tropis yang lebih ekstrem.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya