Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tinggal Dekat Pohon Bagus untuk Kesehatan Jantung, Ini Alasannya

Kompas.com, 23 Januari 2026, 14:06 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tinggal di lingkungan perkotaan yang ditumbuhi pepohonan bisa bermanfaat bagi kesehatan, termasuk mengurangi tingkat penyakit kardiovaskular. Temuan tersebut menurut studi dari University of California, Amerika Serikat. 

"Studi ini menunjukkan bahwa penguraian ruang hijau sangat penting untuk memahami efeknya terhadap kesehatan kardiovaskular," tulis studi yang terbit di jurnal Environmental Epidemiology ini, dilansir dari laman resminya, Jumat (23/1/2026).

Baca juga:

Adapun penyakit kardiovaskular meliputi kondisi yang merusak jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, strok, gagal jantung, dan pembekuan darah.

Berdasarkan studi tersebut, penurunan tingkat penyakit kardiovaskular sebesar empat persen terdeteksi pada orang-orang yang tinggal dekat area dengan tutupan pohon yang lebih banyak.

Namun, orang-orang yang tinggal di area rumput dan tanaman berbatang pendek lainnya menunjukkan pola yang berbeda.

Tinggal di area dengan lebih banyak rumput menunjukkan peningkatan penyakit kardiovaskular sebesar enam persen, sedangkan belukar menunjukkan peningkatan sebesar tiga persen.

Dengan demikian, ruang hijau saja tidak menjamin kesehatan yang lebih baik. Jenis vegetasi memberikan perbedaan yang besar.

"Temuan kami menunjukkan bahwa intervensi kesehatan masyarakat harus memprioritaskan pelestarian dan penanaman kanopi pohon di lingkungan sekitar," kata profesor madya di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Peter James, dikutip dari Earth.com

Baca juga:

Tinggal dekat pepohonan baik untuk kesehatan kardiovaskular

Bagaimana pohon melindungi jantung?

Tinggal di lingkungan perkotaan dengan pepohonan bermanfaat bagi kesehatan, termasuk mengurangi tingkat penyakit kardiovaskular.Dok. Freepik/Freepik Tinggal di lingkungan perkotaan dengan pepohonan bermanfaat bagi kesehatan, termasuk mengurangi tingkat penyakit kardiovaskular.

Pohon membantu mengurangi polusi udara dengan menjebak partikel berbahaya pada daun dan kulit kayu. Udara yang lebih bersih mengurangi tekanan pada pembuluh darah dan jantung.

Selain itu, pohon juga mengurangi kebisingan lalu lintas, yang membantu mengontrol tekanan darah.

Naungan dari pohon membantu mendinginkan jalan dan bangunan. Suhu yang lebih rendah mengurangi stres akibat panas, yang mana memberi tekanan pada jantung.

Jalan yang dipenuhi pohon juga meningkatkan suasana hati dan mengurangi stres. Lingkungan yang tenang mendukung ritme jantung yang lebih sehat dan keseimbangan hormon.

Pepohonan yang rimbun mendorong seseorang untuk berjalan kaki dan aktivitas luar ruangan, selain ada pengaruh dari infrastruktur. Jalan yang lebih aman dan sejuk mendorong aktivitas fisik dan kontak sosial, yang melindungi kesehatan kardiovaskular dari waktu ke waktu.

Namun, mengapa rumput menunjukkan efek yang berbeda?

Efek rumput tidak sama dengan pohon, kenapa?

Tinggal di lingkungan perkotaan dengan pepohonan bermanfaat bagi kesehatan, termasuk mengurangi tingkat penyakit kardiovaskular.Dok. Freepik/evening_tao Tinggal di lingkungan perkotaan dengan pepohonan bermanfaat bagi kesehatan, termasuk mengurangi tingkat penyakit kardiovaskular.

Rumput disebut menawarkan manfaat perlindungan yang lebih sedikit daripada pohon. Hamparan rerumputan memerlukan perawatan yang sering sehingga menambah polusi udara ke daerah sekitarnya.

Perawatan halaman rumput juga sering menggunakan pestisida kimia, dan paparan jangka panjang terhadap bahan kimia tersebut dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap penyakit jantung.

Rumput memberikan naungan dan pendinginan yang terbatas sehingga memungkinkan panas menumpuk, terutama di lingkungan perkotaan.

Hamparan rerumputan terbuka juga menyerap lebih sedikit kebisingan dan menyaring lebih sedikit polusi udara daripada kanopi pohon.

Baca juga:

Area dengan halaman rumput yang luas juga mencerminkan desain perkotaan yang berfokus pada perluasan wilayah. Desain seperti ini mengurangi kemudahan berjalan kaki dan justru dinilai meningkatkan penggunaan mobil yang membahayakan jantung.

Semak dan perdu menunjukkan keterbatasan serupa, menawarkan perlindungan yang lebih sedikit untuk kesehatan jantung dibandingkan dengan pohon.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Perkuat Reputasi Internasional, Proyek Elektrifikasi Kereta Cepat Malaysia Rampung Lebih Awal di Tangan Teknisi PLN
Pemerintah
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
5 Tips Membuat Resume Lamaran Kerja pada Era AI
LSM/Figur
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Longsor Bantargebang Tewaskan Empat Orang, KLH Bakal Tempuh Jalur Hukum
Pemerintah
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
Di Hulu Rantai Nilai, Ini Cerita Petani Indonesia Hadapi Tantangan Akses Pasar
BrandzView
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
KLH Tuang 10.000 Liter Ecoenzym ke Sungai Cisadane, Netralkan Cemaran Pestisida
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau