Penulis
KOMPAS.com - Investasi untuk kesehatan perempuan dinilai masih sangat tertinggal. Padahal perempuan mencakup hampir setengah populasi dunia, menurut laporan dari World Economic Forum.
Dalam laporan berjudul Women’s Health Investment Outlook, World Economic Forum menyebut bahwa kesehatan perempuan hanya menerima enam persen dari total investasi layanan kesehatan swasta global.
Baca juga:
Angka ini dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan dampak kesehatan dan ekonomi yang ditanggung perempuan setiap hari.
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa kurangnya transparansi menjadi penghambat utama masuknya modal ke sektor kesehatan perempuan.
"Kesehatan laki-laki telah lama menjadi patokan standar untuk penelitian dan pengembangan produk, dengan standar klinis, desain uji coba, dan jalur inovasi yang sering kali disesuaikan dengan fisiologi dan kebutuhan laki-laki," ucap Kepala Pusat Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan, World Economic Forum, Shyam Bishen lewat keterangan resmi, dikutip Jumat (23/1/2026).
"Pendekatan ini secara sistematis mengesampingkan kondisi yang memengaruhi perempuan secara unik, berbeda, atau tidak proporsional sehingga area-area penting tersebut kekurangan dana, kurang diteliti, dan kurang terlayani," tambah dia.
Laporan World Economic Forum mengungkap investasi kesehatan perempuan masih rendah meski dampaknya besar bagi ekonomi global.Dari investasi yang sudah terbatas itu, 90 persen dana hanya mengalir ke tiga bidang utama yaitu kanker perempuan, kesehatan reproduksi, dan kesehatan ibu.
Akibatnya, banyak kondisi kesehatan lain yang berdampak besar pada perempuan justru terabaikan. Kondisi ini meliputi penyakit yang memengaruhi perempuan secara unik, berbeda, atau jauh lebih berat dibanding laki-laki.
Negara berpendapatan rendah dan menengah menjadi pihak yang paling terdampak oleh kesenjangan pendanaan ini.
World Economic Forum menilai situasi tersebut tidak hanya mengancam kesehatan perempuan, tetapi juga membuat potensi ekonomi global tidak tergarap.
Baca juga:
Laporan World Economic Forum mengungkap investasi kesehatan perempuan masih rendah meski dampaknya besar bagi ekonomi global.Laporan tersebut juga menyampaikan, meski perempuan memiliki harapan hidup lebih panjang, mereka menghabiskan sekitar 25 persen lebih banyak waktu hidup dalam kondisi sakit atau disabilitas.
Hal ini dipicu oleh akumulasi penyakit yang lebih sering atau lebih berat dialami perempuan. Faktor biologis, perbedaan gejala, dan progres penyakit menjadi penyebab utama.
Dampaknya tidak hanya pada kesehatan pribadi, tapi juga pada partisipasi kerja dan produktivitas ekonomi.
Fokus investasi yang terbatas membuat beberapa penyakit dengan prevalensi tinggi terabaikan selama bertahun-tahun.
Beberapa di antaranya adalah penyakit jantung, osteoporosis, menopause, dan Alzheimer.
Keempat bidang ini diperkirakan memiliki potensi pasar lebih dari 100 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 1.678,1 triliun) di Amerika Serikat saja pada tahun 2030, jika layanan standar bisa menjangkau seluruh perempuan.
Selain itu, kondisi seperti endometriosis, PCOS, dan kesehatan menstruasi memengaruhi puluhan juta perempuan di dunia.
Namun, laporan tersebut mencatat bahwa seluruh isu ini hanya menerima kurang dari dua persen investasi kesehatan perempuan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya