Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kesehatan Perempuan Hanya Dapat 6 Persen Investasi, Dunia Diminta Berubah

Kompas.com, 26 Januari 2026, 09:08 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Investasi untuk kesehatan perempuan dinilai masih sangat tertinggal. Padahal perempuan mencakup hampir setengah populasi dunia, menurut laporan dari World Economic Forum.

Dalam laporan berjudul Women’s Health Investment Outlook, World Economic Forum menyebut bahwa kesehatan perempuan hanya menerima enam persen dari total investasi layanan kesehatan swasta global.

Baca juga:

Angka ini dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan dampak kesehatan dan ekonomi yang ditanggung perempuan setiap hari.

Laporan tersebut juga menegaskan bahwa kurangnya transparansi menjadi penghambat utama masuknya modal ke sektor kesehatan perempuan.

"Kesehatan laki-laki telah lama menjadi patokan standar untuk penelitian dan pengembangan produk, dengan standar klinis, desain uji coba, dan jalur inovasi yang sering kali disesuaikan dengan fisiologi dan kebutuhan laki-laki," ucap Kepala Pusat Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan, World Economic Forum, Shyam Bishen lewat keterangan resmi, dikutip Jumat (23/1/2026).

"Pendekatan ini secara sistematis mengesampingkan kondisi yang memengaruhi perempuan secara unik, berbeda, atau tidak proporsional sehingga area-area penting tersebut kekurangan dana, kurang diteliti, dan kurang terlayani," tambah dia. 

Investasi untuk kesehatan perempuan masih cukup kecil

Investasi dinilai terkonsentrasi pada isu tertentu

Laporan World Economic Forum mengungkap investasi kesehatan perempuan masih rendah meski dampaknya besar bagi ekonomi global.Freepik Laporan World Economic Forum mengungkap investasi kesehatan perempuan masih rendah meski dampaknya besar bagi ekonomi global.

Dari investasi yang sudah terbatas itu, 90 persen dana hanya mengalir ke tiga bidang utama yaitu kanker perempuan, kesehatan reproduksi, dan kesehatan ibu.

Akibatnya, banyak kondisi kesehatan lain yang berdampak besar pada perempuan justru terabaikan. Kondisi ini meliputi penyakit yang memengaruhi perempuan secara unik, berbeda, atau jauh lebih berat dibanding laki-laki.

Negara berpendapatan rendah dan menengah menjadi pihak yang paling terdampak oleh kesenjangan pendanaan ini.

World Economic Forum menilai situasi tersebut tidak hanya mengancam kesehatan perempuan, tetapi juga membuat potensi ekonomi global tidak tergarap.

Baca juga:

Perempuan hidup lebih lama, tapi lebih lama sakit

Laporan World Economic Forum mengungkap investasi kesehatan perempuan masih rendah meski dampaknya besar bagi ekonomi global.Dok. Freepik/Freepik Laporan World Economic Forum mengungkap investasi kesehatan perempuan masih rendah meski dampaknya besar bagi ekonomi global.

Laporan tersebut juga menyampaikan, meski perempuan memiliki harapan hidup lebih panjang, mereka menghabiskan sekitar 25 persen lebih banyak waktu hidup dalam kondisi sakit atau disabilitas.

Hal ini dipicu oleh akumulasi penyakit yang lebih sering atau lebih berat dialami perempuan. Faktor biologis, perbedaan gejala, dan progres penyakit menjadi penyebab utama.

Dampaknya tidak hanya pada kesehatan pribadi, tapi juga pada partisipasi kerja dan produktivitas ekonomi.

Fokus investasi yang terbatas membuat beberapa penyakit dengan prevalensi tinggi terabaikan selama bertahun-tahun.

Beberapa di antaranya adalah penyakit jantung, osteoporosis, menopause, dan Alzheimer.

Keempat bidang ini diperkirakan memiliki potensi pasar lebih dari 100 miliar dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 1.678,1 triliun) di Amerika Serikat saja pada tahun 2030, jika layanan standar bisa menjangkau seluruh perempuan.

Selain itu, kondisi seperti endometriosis, PCOS, dan kesehatan menstruasi memengaruhi puluhan juta perempuan di dunia.

Namun, laporan tersebut mencatat bahwa seluruh isu ini hanya menerima kurang dari dua persen investasi kesehatan perempuan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau