Peluncuran data ini dinilai menjadi sebuah momentum yang pas untuk mendukung industri.
Pasalnya, risiko iklim bukan lagi sekedar isu yang tak terjamah tetapi sudah menyebabkan kerugian finansial, penundaan operasional, dan penurunan nilai aset.
Investor dan perusahaan pun berada di bawah tekanan yang kian besar untuk memasukkan faktor risiko ESG dan iklim ke dalam strategi mereka, terutama karena peristiwa cuaca ekstrem menjadi semakin sering terjadi dan makin parah.
Baca juga:
Kepala BMI, Lyndsey Anderson mengatakan, solusi baru ini dirancang untuk membantu klien merespons tantangan ini secara lebih efektif.
“Meningkatnya ancaman iklim menyebabkan kerugian finansial yang semakin besar, penundaan operasional, dan penyusutan aset,” kata Anderson.
“Kami yakin bahwa analisis dan data dampak risiko iklim fisik kami akan memberdayakan klien untuk lebih tepat mengidentifikasi titik-titik rawan risiko iklim dan aset yang rentan, yang pada gilirannya akan mendukung strategi ketahanan dan adaptasi mereka,” tambahnya.
Dengan peluncuran solusi data risiko iklim dan ESG tingkat negara yang telah diperluas ini, BMI bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih jelas kepada investor dan pelaku bisnis mengenai bagaimana isu-isu ESG serta bahaya iklim dapat membentuk kinerja ekonomi dan stabilitas industri di tahun-tahun mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya