KOMPAS.com - Lembaga riset BMI baru-baru ini meluncurkan solusi data risiko iklim fisik dan ESG (Environment, Social, and Governance) tingkat negara yang baru.
Data ini bertujuan membantu investor dan perusahaan supaya dapat memahami lebih baik bagaimana risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola memengaruhi ekonomi serta industri.
Baca juga:
Layanan yang dikenal dengan layanan Risiko Iklim Fisik dan ESG Negara (ESG Country and Physical Climate Risk) ini menggunakan data alternatif dan data geospasial untuk mengukur secara kuantitatif, serta memantau dan memodelkan risiko terkait ESG di seluruh pasar global.
Menurut BMI, solusi ini dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan, khususnya ketika bahaya iklim dan tekanan ESG makin berpengaruh terhadap hasil finansial serta operasional, dilansir dari Know ESG, Selasa (3/2/2026).
Baca juga:
BMI merilis solusi data risiko iklim fisik dan ESG tingkat negara. Data geospasial ini bantu investor membaca dampak iklim dan ESG.BMI menyatakan bahwa layanan ESG Negara yang telah ditingkatkan ini menawarkan data ESG yang mendalam di berbagai indikator.
Indikator tersebut mencakup tingkat polusi, risiko iklim dan alam, kondisi hak asasi manusia, metrik gender dan kesehatan, hak politik, serta risiko kriminalitas dan konflik.
Dengan menyatukan poin-poin data ini, pengguna dapat menilai bagaimana tantangan ESG berbeda-beda di setiap negara dan bagaimana tantangan tersebut dapat berdampak pada industri tertentu.
Fitur utama dari data baru ini adalah penggunaan data geospasial untuk menilai risiko iklim fisik.
Layanan memungkinkan pengguna untuk mengevaluasi dampak dari bahaya utama yang didorong oleh iklim serta bencana alam terhadap populasi dan berbagai jenis aset.
Penilaian mencakup skor intensitas dampak dan skenario jalur iklim hingga tahun 2050, yang memungkinkan dilakukannya perencanaan risiko jangka panjang.
BMI menyatakan bahwa indeks ESG Negara mencakup lebih dari 140 pasar di seluruh dunia. Indeks ini juga menyertakan data geospasial yang berkaitan dengan enam jenis utama bencana alam serta sepuluh kategori aset dan industri yang berbeda.
Hal ini memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi titik rawan risiko iklim dan memahami sektor atau aset mana yang paling rentan terhadap gangguan terkait iklim.
BMI merilis solusi data risiko iklim fisik dan ESG tingkat negara. Data geospasial ini bantu investor membaca dampak iklim dan ESG.Peluncuran data ini dinilai menjadi sebuah momentum yang pas untuk mendukung industri.
Pasalnya, risiko iklim bukan lagi sekedar isu yang tak terjamah tetapi sudah menyebabkan kerugian finansial, penundaan operasional, dan penurunan nilai aset.
Investor dan perusahaan pun berada di bawah tekanan yang kian besar untuk memasukkan faktor risiko ESG dan iklim ke dalam strategi mereka, terutama karena peristiwa cuaca ekstrem menjadi semakin sering terjadi dan makin parah.
Baca juga:
Kepala BMI, Lyndsey Anderson mengatakan, solusi baru ini dirancang untuk membantu klien merespons tantangan ini secara lebih efektif.
“Meningkatnya ancaman iklim menyebabkan kerugian finansial yang semakin besar, penundaan operasional, dan penyusutan aset,” kata Anderson.
“Kami yakin bahwa analisis dan data dampak risiko iklim fisik kami akan memberdayakan klien untuk lebih tepat mengidentifikasi titik-titik rawan risiko iklim dan aset yang rentan, yang pada gilirannya akan mendukung strategi ketahanan dan adaptasi mereka,” tambahnya.
Dengan peluncuran solusi data risiko iklim dan ESG tingkat negara yang telah diperluas ini, BMI bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih jelas kepada investor dan pelaku bisnis mengenai bagaimana isu-isu ESG serta bahaya iklim dapat membentuk kinerja ekonomi dan stabilitas industri di tahun-tahun mendatang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya