Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Ubah Siklus Hidup N2O, Jadi Lebih Cepat Terurai di Atmosfer

Kompas.com, 5 Februari 2026, 16:06 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim menyebabkan dinitrogen oksida (N2O), gas rumah kaca (GRK) yang merusak ozon, terurai di atmosfer lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya. 

Fenomena ini menimbulkan ketidakpastian secara signifikan dalam proyeksi iklim untuk sisa abad ke-21.

Baca juga:

"Di sini, kami meninjau bukti observasional dan pemodelan terbaru mengenai peningkatan laju penyerapan yang disebabkan oleh berkurangnya umur N2O," tulis studi tersebut, dilansir dari laman Proceedings of the National Academy of Sciences, Kamis (5/2/2026).

Studi menunjukkan, masa hidup atmosfer N2O menurun dengan laju 1,4 persen per dekade. Pergeseran masa hidup tersebut disebabkan oleh perubahan sirkulasi dan suhu stratosfer akibat krisis iklim.

Bahkan, besarnya setara dengan perbedaan di berbagai skenario emisi GRK yang saat ini dipakai oleh Intergovernmental Panel Climate Change (IPCC) untuk penilaian iklim, dikutip dari Phys.org.

Diketahui, stratosfer adalah lapisan atmosfer sekitar 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan bumi. 

Baca juga:

Krisis iklim bikin N2O terurai di atmosfer lebih cepat

Pemahaman tentang N2O penting untuk memitigasi krisis iklim

Krisis iklim percepat penguraian dinitrogen oksida (N2O) di atmosfer. Temuan ini memicu ketidakpastian proyeksi iklim hingga akhir abad ke-21.Freepik Krisis iklim percepat penguraian dinitrogen oksida (N2O) di atmosfer. Temuan ini memicu ketidakpastian proyeksi iklim hingga akhir abad ke-21.

Temuan ini diperoleh para peneliti dari Departemen Ilmu Sistem Bumi Universitas California (UC), Irvine, Amerika Serikat. 

Mereka melakukan analisis dengan memakai pengamatan satelit jangka panjang dari Microwave Limb Sounder NASA. Waktunya mencakup dua dekade (2004–2024).

Temuan itu dibagikan dalam makalah yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Penulis bersama sekaligus profesor ilmu sistem Bumi di UC Irvine, Michael Prather mengatakan, perubahan dalam siklus hidup N2O di atmosfer merupakan bagian penting dari teka-teki yang sebagian besar telah diabaikan.

"Meskipun sebagian besar penelitian berfokus pada proyeksi perubahan emisi N2O dari aktivitas manusia, kami telah menunjukkan bahwa krisis iklim itu sendiri mengubah seberapa cepat gas ini dihancurkan di stratosfer, dan efek ini tidak dapat diabaikan dalam penilaian iklim di masa mendatang," ujar Prather.

Untuk diketahui, N2O merupakan emisi GRK berumur panjang terpenting ketiga setelah karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Saat ini, emisi GRK yang merusak ozon didominasi oleh sumber dari aktivitas manusia.

Pemahaman tentang N2O penting untuk memitigasi krisis iklim dan perlindungan ozon stratosfer. Hal ini mengingat konsentrasi N2O di atmosfer mencapai sekitar 337 bagian per miliar pada 2024 dan naik sekitar tiga persen per dekade.

Baca juga:

Perhitungkan bagaimana krisis iklim pengaruhi penyerapan stratosfer

Krisis iklim percepat penguraian dinitrogen oksida (N2O) di atmosfer. Temuan ini memicu ketidakpastian proyeksi iklim hingga akhir abad ke-21.shutterstock.com Krisis iklim percepat penguraian dinitrogen oksida (N2O) di atmosfer. Temuan ini memicu ketidakpastian proyeksi iklim hingga akhir abad ke-21.

Studi memperingatkan bahwa proyeksi kelimpahan N2O perlu memperhitungkan bagaimana krisis iklim memengaruhi penyerapan stratosfer tempat N2O dihancurkan.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa rata-rata umur N2O saat ini mencapai 117 tahun. Umur N2O menurun sekitar satu setengah tahun per dekade.

Penurunan umur N2O konsisten dengan perubahan yang diamati dalam sirkulasi stratosfer dan pola suhu.

Ketika diekstrapolasi hingga tahun 2100, perubahan umur itu menghasilkan pergeseran oksida nitrat atmosfer yang setara dengan pergeseran secara signifikan dalam skenario emisi GRK IPCC.

Studi mencatat, penumpukan CO2 di atmosfer memang mengakibatkan suhu yang lebih hangat di dekat permukaan bumi. Namun, CO2 juga mendinginkan stratosfer, yang memengaruhi reaksi kimia yang menghancurkan N2O dan menghasilkan oksida nitrogen yang menipiskan ozon.

"Pendinginan ini, dikombinasikan dengan perubahan pola sirkulasi atmosfer, mempercepat pengangkutan N2O ke wilayah tempat gas tersebut dihancurkan. Ini adalah lingkaran umpan balik yang menambah lapisan kompleksitas lain pada proyeksi iklim," ujar penulis bersama sekaligus mahasiswa pascasarjana di UC Irvine di bidang ilmu sistem Bumi, Calum Wilson.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau