Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa Berencana Ubah Strategi Diplomasi Iklim Usai COP30

Kompas.com, 5 Februari 2026, 17:11 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Uni Eropa mempertimbangkan perubahan strategi diplomasi terkait mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pasca-Conference of the Parties (COP30) di Belem, Brasil, pada November 2025 lalu.

Hal ini dikarenakan Uni Eropa kesulitan menggalang dukungan negara anggota COP untuk mempercepat pemangkasan emisi dan pemanasan global yang lebih ambisius.

Baca juga: 

“Uni Eropa semakin kesulitan menggalang dukungan internasional untuk menerjemahkan tingkat ambisi tinggi menjadi hasil perundingan yang konkret,” demikian tertulis dalam dokumen Uni Eropa dilansir dari Reuters, Kamis (5/2/2026).

Uni Eropa pertimbangkan perubahan strategi mitigasi iklim

Dukungan tidak selalu solid

Uni Eropa menimbang perubahan strategi diplomasi iklim setelah COP30 Belem dinilai gagal mendorong ambisi global.SHUTTERSTOCK/Piyaset Uni Eropa menimbang perubahan strategi diplomasi iklim setelah COP30 Belem dinilai gagal mendorong ambisi global.

Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara ini memikirkan bagaimana memperkuat strateginya dalam perundingan mendatang, termasuk memanfaatkan pengaruh perdagangan, keuangan, dan pembangunan dalam pembicaraan iklim.

Dalam dokumennya, Uni Eropa mengaku belum maksimal memanfaatkan instrumen perdagangan dan pembangunan. Hal itu membatasi kemampuan negara-negaranya untuk memperkuat posisi tawar dalam perundingan iklim internasional.

Juru bicara pemerintah Siprus memastikan diskusi soal peran Uni Eropa dalam diplomasi iklim terus berlanjut. Para menteri iklim Uni Eropa akan membahas gagasan ini dalam forum di Siprus, Jumat (6/2/2026).

“Tujuan kami adalah menjaga momentum dan meningkatkan efektivitas perundingan COP31 mendatang,” kata dia.

Sementara itu, sejumlah perjanjian dagang Uni Eropa sudah memasukkan insentif terkait iklim dan energi bersih. Salah satunya, perjanjian dagang Uni Eropa-India yang mencakup bantuan senilai 500 juta euro (sekitar Rp 8,5 triliun) untuk mendukung upaya penurunan emisi.

Beberapa negara anggota juga mendorong Uni Eropa untuk bersikap lebih tegas, termasuk menolak kesepakatan COP masa depan jika dinilai terlalu lemah.

Di internal Uni Eropa dukungan terhadap kebijakan iklim ambisius juga tidak selalu solid.

Tahun lalu, UE baru menyepakati target iklim baru hanya beberapa hari sebelum COP30 dimulai setelah melalui perdebatan panjang antarnegara anggota.

Negara anggota COP30 sepakat untuk melipatgandakan pendanaan adaptasi iklim bagi negara-negara miskin dan berkembang.

Baca juga: 

Masyarakat adat berpartisipasi dalam pembukaan Desa COP selama KTT Iklim COP30 di Belem, Brasil, Selasa (11/11/2025).COP30 BRASIL/ALINE MASSUCA Masyarakat adat berpartisipasi dalam pembukaan Desa COP selama KTT Iklim COP30 di Belem, Brasil, Selasa (11/11/2025).

Pada negosiasi terakhir, teks kesepakatan Global Mutirao tidak menyebutkan secara eksplisit arahan phase out bahan bakar fosil dan peta jalan yang jelas untuk transisi energi.

Padahal, COP30 sebelumnya diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen negara-negara terhadap upaya dekarbonisasi.

Kondisi ini sempat membuat sejumlah negara Uni Eropa mempertimbangkan keluar dari perundingan pada jam-jam terakhir COP30.

Uni Eropa bersama negara-negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim serta beberapa negara Amerika Latin mendorong agar isu pengurangan bahan bakar fosil dimasukkan dalam kesepakatan akhir.

Usulan itu ditolak sejumlah negara, termasuk Arab Saudi yang merupakan eksportir minyak besar.

Di sisi lain, Uni Eropa mendapat kritik dari negara-negara berkembang karena dinilai lambat menyetujui peningkatan pendanaan iklim.

Presiden COP30, Andre Correa do Lago, mengatakan, perbedaan penilaian terhadap hasil KTT mencerminkan perbedaan prioritas tiap negara dalam menghadapi perubahan iklim.

“Kata ambisi tidak hanya ada dalam kosakata Uni Eropa. Ketika Anda mengatakan ambisi di Uni Eropa, itu berarti mitigasi. Ketika Anda mengatakan ambisi di India, itu berarti pembiayaan. Ketika Anda mengatakan ambisi di negara lain, itu berarti teknologi,” ucap do Lago.

Baca juga:

Kritik masyarakat

Uni Eropa menimbang perubahan strategi diplomasi iklim setelah COP30 Belem dinilai gagal mendorong ambisi global.Dok. Freepik/Freepik Uni Eropa menimbang perubahan strategi diplomasi iklim setelah COP30 Belem dinilai gagal mendorong ambisi global.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Greenpeace Brasil, Carolina Pasquali, mengatakan COP30 tidak berujung pada hasil yang diharapkan lantaran sikap banyak negara yang terpecah belah di meja perundingan.

"Kita berada di persimpangan jalan, di antara menahan laju kenaikan suhu Bumi di bawah 1,5 derajat celsius dan jalan tol menuju bencana iklim yang katastrofik," ujar Pasquali dalam keterangannya, Minggu (23/11/2025).

Menurut Pasquali, hasil COP30 tak adil bagi masyarakat adat. Perjuangan tersebut bahkan berbuah kebijakan yang mengamankan 2,4 juta hektar tanah masyarakat adat di Brasil.

"Lahirnya peta jalan untuk menghentikan energi fosil dan deforestasi, serta dukungan pendanaan, sebenarnya akan menjadi hasil yang bersejarah. Namun, perjuangan ini akan terus berlanjut,” papar Pasquali.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau