Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Green Financing untuk UMKM Belum Optimal, OJK Dorong Ekonomi Hijau di Daerah

Kompas.com, 13 Februari 2026, 16:09 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ludy Arlianto menyampaikan, pengembangan green financing atau pembiayaan hijau pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum optimal.

Kendati sudah didukung regulasi, pengembangan green financing untuk UMKM masih jauh dari yang diharapkan.

Baca juga:

"Secara prinsip itu sudah ada kebijakannya (green financing untuk UMKM). Cuma memang tendangannya kurang. Memang bank itu kan running business to busines. Jadi, memang ekonomi hijau versi UMKM ini harus kami dorong lagi," ujar Ludy dalam acara Promise II Impact di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Green financing untuk UMKM di Indonesia

Tiap daerah punya potensi kembangkan ekonomi hijau

Dengan mempertimbangkan risiko bisnis, kata Ludy, perbankan cenderung berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan kepada UMKM "hijau".

Oleh karena itu, pemerintah saat ini sedang menggodok kebijakan untuk mendorong pengembangan UMKM "hijau".

Setiap daerah di Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi hijau. OJK sedang berkolaborasi dengan berbagai pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi ekonomi hijau di wilayahnya masing-masing.

"Memang ini harus mulai dikembangkan. Karena kalau ekonomi hijau, sangat erat dengan keuangan berkelanjutan dan seterusnya. Biar ramah (lingkungan) di depannya," tutur Ludy.

Selain aspek pembiayaan, paradigma berpikir pelaku UMKM juga menjadi tantangan dalam mengadopsi praktik yang lebih ramah lingkungan ke dalam proses bisnis. 

Hal ini mengingat pelaku UMKM perlu mempertimbangkan aspek dampak lingkungan dari berbagai keputusan bisnisnya, mulai dari pemilihan bahan baku, sampai proses produksinya.

"Memang untuk starting point-nya mengubah paradigma UMKM kita itu memang menantang sebetulnya. Contoh yang sederhana, masalah warna tas saja jadi isu. Sekarang masalah mencari bahan yang lebih bagus, lebih produktif, itu juga akan jadi isu," ucapnya.

Baca juga:

Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK, Ludy Arlianto (kiri) usai mengisi acara Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM melalui Promise II Impact di Jakarta, Kamis (12/2/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK, Ludy Arlianto (kiri) usai mengisi acara Inklusi Keuangan dan Keberlanjutan UMKM melalui Promise II Impact di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Menurut Ludy, dukungan terhadap UMKM, termasuk melalui green financing, sangat penting karena dapat berdampak besar terhadap perekonomian Indonesia.

"Makanya memang benar kalau kita bisa menyelesaikan masalah UMKM, mungkin sebagian masalah bangsa kita bisa kelar," ujar Ludy.

Sebelumnya, UMKM di Indonesia sekarang juga dituntut ramah lingkungan, selain harus naik kelas dari usaha mikro ke skala kecil atau menengah.

UMKM di Indonesia menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 216 juta ton karbon dioksida tahun 2023 atau setara dengan lebih dari separuh emisi GRK yang disumbang sektor industri nasional tahun 2022.

Baca juga:

Menteri UMKM, Maman Abdurrahman menyebutkan beberapa penyebab sektor ini kesulitan mengurangi emisi GRK, antara lain rendahnya literasi tentang UMKM yang ramah lingkungan di kalangan pelaku usaha, serta masih terbatasnya akses pembiayaan terhadap UMKM yang ramah lingkungan.

"Ke depan, arah kebijakan dari Kementerian UMKM akan memasukkan sedikit porsi keberpihakan kami kepada UMKM hijau sebagai bentuk langkah konkrit kami berdasarkan respon positif yang dilakukan oleh Bappenas," kata Maman dalam webinar Peluncuran Buku Putih; Mewujudkan Masa Depan Bisnis Berkelanjutan Melalui Pemberdayaan UMKM Hijau, Selasa (16/9/2025).

"Tentunya, kurangnya terhadap prinsip keberlanjutan, di mana masih terjadi kendala yang membatasi daya saing UMKM di tengah tuntutan perubahan iklim dan ekonomi global yang semakin berorientasi pada arah keberlanjutan," tambah dia.

Di balik besarnya emisi GRK yang dihasilkan, kata Maman, para pelaku usaha UMKM telah berkontribusi menghidupi jutaan keluarga dengan menyerap banyak sekali tenaga kerja.

Keseimbangan antara keberlangsungan bisnis dan kelestarian lingkungan menjadi tantangan berat bagi para pelaku usaha UMKM.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau