Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

60 Persen Peluang La Nina Bergeser ke El Nino pada 2026, Waspada Cuaca Ekstrem

Kompas.com, 13 Februari 2026, 19:12 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Terdapat 60 persen kemungkinan pergeseran La Nina menuju El Nino dari Februari 2026 sampai April 2026, menurut Climate Prediction Center (Pusat Prediksi Iklim) Amerika Serikat (AS).

Fenomena iklim dengan pola seperti itu dikenal sebagai El Niño-Southern Oscillation (ENSO)-netral, yang kemungkinan akan berlanjut hingga musim panas di belahan bumi utara.

Baca juga:

Pusat Prediksi Iklim AS meramalkan anomali atmosfer masih mencerminkan aspek La Niña, meski melemah akibat variabilitas submusiman.

Anomali angin barat tingkat rendah hadir di Pasifik khatulistiwa bagian barat, sedangkan anomali angin barat tingkat atas berlanjut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah timur.

Pergeseran La Nina menuju El Nino

Cuaca ekstrem diprediksi terjadi

Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.Pexels/Lerone Pieters Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.

La Niña merupakan bagian dari siklis iklim ENSO yang memengaruhi suhu air di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur.

La Niña menyebabkan suhu air lebih dingin, serta meningkatkan kemungkinan banjir dan kekeringan, yang dapat berdampak pada tanaman.

Ketika ENSO netral, suhu air tetap berada di sekitar tingkat rata-rata, yang mengakibatkan cuaca lebih stabil dan berpotensi meningkatkan hasil panen.

Kepala peramal cuaca internasional di AccuWeather, Jason Nicholls mengatakan, adanya tanda-tanda bahwa La Nina melemah dan kondisi ENSO netral diperkirakan akan kembali dalam beberapa bulan ke depan.

Transisi ke kondisi El Nino bisa muncul pada akhir musim semi.

Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.SHUTTERSTOCK/Piyaset Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.

"Kondisi kekeringan mulai muncul di beberapa bagian Australia tenggara dan transisi ke El Nino dapat menyebabkan kondisi kekeringan yang memburuk dan masalah untuk musim tanam berikutnya," ujar Nicholls, dilansir dari Reuters, Jumat (13/2/2026).

Menurut ahli meteorologi pertanian di Vaisala Weather, Donald Keeney, berakhirnya La Nina semestinya disertai semakin banyak hujan di Argentina dan lebih sedikit hujan di wilayah utara-tengah Brasil.

Selain itu, kemungkinan curah hujan yang lebih sedikit juga terjadi di Asia Tenggara saat memasuki musim panas jika La Nina mereda.

Para ilmuwan memperngatkan suhu lebih ekstrem kemungkinan akan terjadi masa mendatang, mengingat adanya gelombang panas dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor melanda belahan bumi selatan pada awal tahun 2026.

Baca juga:

Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.canva.com Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.

Krisis iklim yang dikombinasikan dengan pola cuaca La Niña siklik berdampak pada banjir dahsyat di seluruh Afrika bagian selatan pada akhir Desember 2025 dan awal Januari 2026.

Sementara itu, Biro cuaca Jepang menyatakan ada kemungkinan 60 persen fenomena El Nino terjadi saat musim panas.

Dengan demikian, 50 persen El Nino terjadisaat musim semi dan sisanya kemungkinan kondisi normal berlanjut.

Sebelumnya, Studi terbaru mengungkapkan El Nino dan La Nina menyingkronkan kekeringan dan banjir di seluruh penjuru dunia.

El Nino-Southern Oscillation (ENSO), pola iklim di Samudera Pasifik khatulisiwa yang melibatkan El Nino dan La Nina, telah menjadi pendorong utama ekstremitas penyimpanan air secara total di tingkat global selama dua dekade terakhir.

ENSO mempunyai efek sinkronisasi pada ekstremitas penyimpanan air di berbagai benua.

Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.Pexels/Andrius La Rotta Ada 60 persen peluang La Nina bergeser ke El Nino pada Februari–April 2026. Dampaknya picu kekeringan, banjir, dan suhu ekstrem global.

Profesor riset di Biro Geologi Ekonomi di Sekolah Geosains Jackson UT, Bridget Scanlon mengatakan, memahami bagaimana kejadian ekstrem terjadi di seluruh dunia memiliki dampak kemanusiaan dan kebijakan.

"Jika kita melihat skala global, kita dapat mengidentifikasi wilayah mana yang secara bersamaan basah atau kering. Dan tentu saja hal itu memengaruhi ketersediaan air, produksi pangan, perdagangan pangan, semua hal global ini," ujar Scanton, salah satu penulis studi itu, dilansir dari Phys.

Total penyimpanan air di area tertentu menjadi metrik iklim yang penting. Hal itu termasuk air permukaan di danau, sungai, lapisan salju, kelembapan tanah, serta yang berada di bawah tanah.

Studi tersebut juga melacak total ekstrem air dan ENSO di tingkat global.

Asisten profesor riset di Biro Geologi Ekonomi di Sekolah Geosains Jackson UT, Ashraf Rateb mengatakan, hal tersebut memungkinkan para peneliti untuk mengamati bagaimana ekstrem air saling terkait.

Kata dia, sebagian besar studi menghitung kejadian ekstrem atau mengukur seberapa parah dampaknya.

"Tetapi menurut definisi, kejadian ekstrem jarang terjadi. Hal itu memberikan sangat sedikit titik data untuk mempelajari perubahan dari waktu ke waktu. Sebagai gantinya, kami meneliti bagaimana kejadian ekstrem terhubung secara spasial, yang memberikan informasi jauh lebih banyak tentang pola yang mendorong kekeringan dan banjir secara global," tutur Rateb, penulis utama studi itu.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau