KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Banten menargetkan proses pembersihan pestisida di Sungai Cisadane rampung dalam waktu satu hingga dua minggu.
Kepala DLH Banten, Wawan Gunawan mengatakan, pembersihan harus dilakukan cepat karena zat pestisida berisiko terhadap kesehatan dan lingkungan. DLH Banten bergerak bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan.
Baca juga:
Pencemaran ini terjadi akibat kebakaran gudang pestisida di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Senin (9/2/2026).
"Nah, ini kan pabrik pestisida. Begitu kejadian kebakaran, akhirnya pestisida mengalir ke sungai. Dampak pestisida itu memang bahaya karena mengandung racun, jadi memang harus dibersihkan segera," ucap Kepala DLH Banten, Wawan Gunawan, dilansir dari Antara, Sabtu (13/2/2026).
Penampakan gudang pestisida di Taman Tekno, Serpong, Tangsel, pascakebakaran, Jumat (13/2/2026). DLH Banten targetkan pembersihan pestisida di Sungai Cisadane dalam dua minggu. Pakar menilai ekosistem butuh waktu tahunan untuk pulih.Menanggapi hal itu, pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani, menyampaikan, tidak mungkin bisa "membersihkan" seluruh dampak pestisida di Sungai Cisadane hanya dalam waktu dua minggu.
"Hanya dua minggu? Untuk air iya, tetapi untuk ekosistem secara keseluruhan sangat tidak mungkin," ujar Etty kepada Kompas.com, Sabtu (14/2/2026).
Menurut Etty, sangat tidak mungkin Sungai Cisadane benar-benar "bersih" dalam dua minggu.
Sebab, pestisida yang tumpah sangat banyak, khususnya, pestisida jenis Cypermethrin yang bersifat mudah terikat pada partikel tanah meski sulit larut dalam air.
Imbasnya, cemaran dari pestisida jenis Cypermethrin relatif stabil di dasar perairan. Bahkan, cemaran dari pestisida jenis Cypermethrin akan tertinggal karena mengendap pada sedimen dan pinggir sungai.
Maka dari itu, proses pembersihan harus memastikan baik dasar maupun pinggir sungai sudah benar-benar "bersih" dari cemaran pestisia.
"Ya (pestisida) bisa mengendap dan berakumulasi dalam sedimen. Waktu (Pestisida yang tumpah) hilang hanya dalam air, begitu air berganti langsung hilang dua minggu (itu) cukup, tetapi yang di dasar dan pinggir sungai enggak mungkin bisa cepat. Butuh waktu panjang, bisa tahunan baru benar-benar hilang dari ekosistem sungai," jelas Etty.
Baca juga:
Penampakan Ikan mati di Sungai Cisadane, Kota Tangerang, pada Selasa (10/2/2026). DLH Banten targetkan pembersihan pestisida di Sungai Cisadane dalam dua minggu. Pakar menilai ekosistem butuh waktu tahunan untuk pulih.Air sisa pemadaman sekitar 20 ton pestisida jenis Cypermethrin dan Profenofos dalam insiden kebakaran di kawasan pergudangan Kota Tangerang Selatan, mengalir ke Sungai Cisadane.
Dampaknya, ekosistem di Sungai Cisadane terkontaminasi kedua jenis pestisida itu.
Etty menuturkan bahwa ikan dari Sungai Cisadane yang telah terkontaminasi kedua jenis pestisida itu tidak bisa dikonsumsi karena berpotensi membahayakan kesehatan.
Ia juga menyarakan warga untuk tidak mengonsumsi biota lain yang hidup di dalam ekosistem Sungai Cisadane.
"(Cemaran pestisida dari Sungai Cisadane bisa berdampak ke ikan) baik secara langsung (dengan) masuk ke dalam tubuhnya maupun melalui proses makan memakan atau melalui rantai makanan akibat mengkonsumsi biota lain yang sudah terkontaminasi oleh kedua pestisida tersebut. Apalagi, kalau ikan tersebut merupakan ikan pemakan dasar," tutur Etty.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya