Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu

Kompas.com, 15 Februari 2026, 18:28 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber AFP

KOMPAS.com - Kepala Bidang Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell mendesak negara-negara untuk bersatu melawan ancaman terhadap kerja sama internasional dari sejumlah kelompok yang mendukung bahan bakar fosil.

Adapun pesan tersebut disampaikan menjelang Konferensi Iklim COP31 di Antalya, Turkiye, pada akhir tahun ini. COP31 akan dipimpin oleh Australia, sedangkan Turkiye menjadi tuan rumah.

Baca juga:

"COP31 di Antalya akan berlangsung pada masa-masa yang luar biasa. Kita berada dalam ketidakstabilan dunia yang baru (new world disorder)," kata Stiell dalam pidatonya, dilansir dari AFP, Minggu (15/2/2026).

Menurut Stiell, dunia sedang memasuki periode ketidakstabilan dan ketidakamanan. Ia menilai konsep kerja sama internasional sedang diserang.

PBB ajak negara kerja sama lawan krisis iklim

Bayang-bayang kebijakan Donald Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.AFP/BRENDAN SMIALOWSKI Presiden Amerika Serikat Donald Trump. PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.

Stiell tidak menyebut nama negara secara langsung. Namun, pernyataan itu muncul saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengguncang tatanan global.

Trump dikenal mendukung industri minyak, gas, dan batu bara. Ia juga menarik Amerika Serikat dari perjanjian iklim utama PBB.

Trump bahkan menyebut pemanasan global sebagai "hoaks", serta mencabut temuan ilmiah penting yang menjadi dasar regulasi Amerika Serikat untuk membatasi polusi pemicu pemanasan bumi.

Di sisi lain, Trump juga memicu ketegangan dengan sekutu Eropa. Ia menyatakan keinginan untuk mengakuisisi Greenland. Wilayah Arktik saat ini menjadi medan strategis baru karena es laut yang mencair.

Dalam konferensi pers, Stiell mengatakan, pintu tetap terbuka bagi Amerika Serikat untuk kembali bekerja sama dalam upaya iklim global.

Baca juga:

Ancaman nyata bagi kerja sama iklim

Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq, dan Executive Secretary, Simon E Stiell, saat COP30. PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.Dok.KLH Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq, dan Executive Secretary, Simon E Stiell, saat COP30. PBB serukan persatuan dunia hadapi krisis iklim saat Donald Trump dukung bahan bakar fosil.

Stiell memperingatkan kerja sama iklim internasional sedang berada dalam ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia menyinggung kekuatan pro bahan bakar fosil yang ingin meningkatkan ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas. Menurutnya, langkah itu bertentangan dengan logika ekonomi dan ilmiah.

"(Kerja sama iklim internasional) berada di bawah ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya: Dari mereka yang bertekad menggunakan kekuasaan mereka untuk menentang logika ekonomi dan ilmiah, serta meningkatkan ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas yang mencemari lingkungan," jelas Stiell.

Ia mengakui kekuatan tersebut sangat besar. Namun, ia menegaskan bahwa kekuatan itu tidak harus menang.

“Ada alternatif yang jelas dari kekacauan dan kemunduran ini,” ujarnya.

Alternatif yang dimaksud adalah negara-negara berdiri bersama dan memperkuat kerja sama global. Ia mendorong agar pencapaian yang sudah ada diperluas dan dipercepat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau