Penulis
Stiell menyoroti fakta bahwa investasi energi bersih tahun lalu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil. Energi terbarukan juga telah melampaui batu bara sebagai sumber listrik terbesar.
Ia mengingatkan banyak pemimpin dunia berbicara soal keamanan. Namun, definisi keamanan sering kali terlalu sempit.
Menurutnya, kenaikan emisi gas rumah kaca memicu cuaca ekstrem. Dampaknya adalah kelaparan, perpindahan penduduk, dan konflik.
Tiga tahun terakhir tercatat sebagai tahun terpanas secara global. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.
Baca juga:
Stiell mendesak negara-negara untuk menepati kesepakatan COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, tahun 2023.
Dalam pertemuan itu, negara-negara sepakat untuk melipatgandakan kapasitas energi bersih hingga tiga kali lipat pada tahun 2030 dan bertransisi dari bahan bakar fosil.
Ia juga mendorong negara-negara paling ambisius untuk membentuk “coalitions of the willing” (koalisi negara yang bersedia). Koalisi ini diharapkan mempercepat aksi nyata.
"Kerja sama iklim adalah obat penawar bagi kekacauan dan paksaan yang terjadi saat ini, dan energi bersih adalah solusi yang jelas untuk biaya bahan bakar fosil yang terus meningkat, baik dari segi manusia maupun ekonomi," tutur Stiell.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya