Riset ini melibatkan anak-anak berusia lima tahun, orangtua mereka, gambar ular, serta bahasa deskriptif yang mungkin menunjukkan ular lebih mirip hewan lain daripada benda mati atau sebaliknya.
Para ilmuwan memakai teknik tugas induksi untuk menilai seberapa mirip anak-anak menganggap ular dengan manusia, hewan non-manusia lainnya, dan benda-benda mati.
Sebelum memberi tugas, para peneliti meminta orangtua melihat-lihat buku bergambar ular bersama anaknya. Para peneliti juga membacakan buku cerita tentang kehidupan sehari-hari seekor ular kepada anak-anak.
"Buku cerita tersebut merujuk pada ular lebih seperti sebuah obyek, dengan kata ganti 'itu' dan tidak merujuk pada perasaan atau pikiran, atau lebih seperti seorang pribadi, dengan kata ganti 'dia' dan merujuk pada pikiran dan perasaan," tutur Loucks.
Hasilnya, ketika orangtua menggunakan bahasa negatif saat berbicara tentang ular, anak-anak didorong untuk menganggap ular berbeda dari manusia. Bahasa yang merendahkan dalam buku cerita tersebut memiliki efek yang sama.
Baca juga: Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Sedikitnya 450 dari 4.000 spesies ular terancam punah. Studi menunjukkan sikap negatif anak terhadap ular dipengaruhi bahasa orangtua.Namun, anak-anak umumnya mengira ular mirip dengan hewan non-manusia lainnya menjadi temuan yang tak terduga.
"Jadi, kami melakukan studi kedua dengan subyek yang berbeda, menghilangkan buku bergambar dan buku cerita, dan hanya memberikan tugas induksi kepada anak-anak. Dalam kasus ini, mereka tidak mengira ular mirip dengan manusia atau hewan lain," ucapnya.
Dengan kelompok subyek lain, para peneliti kembali memakai buku bergambar dan buku cerita, serta sekali lagi mereka menemukan bahwa anak-anak menganggap ular mirip dengan hewan lain.
Namun, ular tidak dianggap mirip dengan manusia, yang berarti mengulangi temuan dari bagian pertama riset.
Anak-anak berusia lima tahun, terutama dari budaya barat, cenderung berpikir bahwa ular sangat berbeda dari hewan lain, serta bahasa negatif dan merendahkan dapat berkontribusi atas hal itu.
"Namun, paparan terhadap ular dan pembelajaran tentang kebutuhan biologis mereka dapat berfungsi sebagai penangkal terhadap sikap negatif terhadap ular, yang dapat membantu menumbuhkan kepedulian dan rasa hormat terhadap hewan-hewan ini," ujar Loucks.
Baca juga: Pesut Mahakam Terancam Punah dan Tinggal 66 Ekor, KLH Siapkan Langkah Darurat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya