Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG

Kompas.com, 18 Februari 2026, 22:07 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Terdapat kekhawatiran soal lonjakan konsumsi energi di tengah perlombaan operator telekomunikasi dalam memperluas jangkauan jaringan 5G mereka.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI atau Artificial Intelligence) dalam jaringan 5G dinilai bisa mengubah teknologi ini menjadi alat yang ampuh untuk memangkas emisi dan mempercepat pencapaian target ESG.

Baca juga:

Studi dari University of Surrey di Inggris dan Tsinghua University di China membantah anggapan bahwa internet yang lebih cepat pasti akan menghasilkan lebih banyak polusi karbon, dilansir dari KnowESG, Rabu (18/2/2026).

Sebaliknya, temuan mereka menunjukkan bahwa pembaruan teknis yang tepat sasaran bisa meningkatkan efisiensi energi 5G secara drastis dan mengurangi dampak buruk bagi lingkungan.

Penggunaan AI dalam jaringan 5G bantu capai target ESG

Studi mengungkap, AI dalam jaringan 5G mampu meningkatkan efisiensi energi dan membantu percepatan target ESG.Pexels Studi mengungkap, AI dalam jaringan 5G mampu meningkatkan efisiensi energi dan membantu percepatan target ESG.

Sektor teknologi informasi (TIK) saat ini menyumbang setidaknya 1,7 persen emisi gas rumah kaca global.

Seiring jaringan yang semakin padat demi memenuhi lonjakan permintaan data, angka tersebut bisa terus naik.

Namun, studi ini menemukan bahwa memangkas emisi 5G dengan pemanfaatan AI tidak hanya sekadar menghemat tagihan listrik operator.

Sebab, hal itu juga menurunkan emisi tidak langsung di seluruh rantai pasok, terutama di sektor keuangan dan jasa TI yang sangat bergantung pada data real-time.

Baca juga:

Atur perilaku jaringan saat idle

Salah satu cara paling efektif adalah dengan mengatur perilaku jaringan saat sedang tidak digunakan (idle).

Dulu, operator hanya punya pilihan "nyala" atau "mati" secara penuh. Saat ini, dengan bantuan AI, ada pilihan yang lebih mendalam, seperti mode tidur mikro, tidur ringan, dan tidur nyenyak.

Dengan menggunakan teknologi AI pintar, pemancar sinyal (BTS) bisa memprediksi kapan penggunaan internet akan melonjak.

Jadi, alih-alih mengikuti jadwal kaku, pemancar ini bisa mengatur daya listriknya sendiri secara otomatis.

Kendali pintar ini membantu memutus hubungan antara lonjakan data dan boros listrik, langkah penting untuk memangkas emisi 5G tanpa membuat sinyal jadi lemot.

Integrasi AI dengan jaringan 5G ini juga akan berjalan makin maksimal dengan adanya berbagai tambahan teknologi.

Misalnya saja pembaruan perangkat keras juga sangat penting. Studi ini menonjolkan strategi bernama cluster zooming pada jaringan antena canggih.

Studi mengungkap, AI dalam jaringan 5G mampu meningkatkan efisiensi energi dan membantu percepatan target ESG.SHUTTERSTOCK Studi mengungkap, AI dalam jaringan 5G mampu meningkatkan efisiensi energi dan membantu percepatan target ESG.

Dalam sistem ini, antena bisa mengatur luas jangkauannya secara otomatis tergantung jumlah pengguna. Bila digabung dengan sistem yang mengurangi gangguan sinyal, cara ini berhasil mencapai tingkat efisiensi energi hingga 91 persen dibandingkan cara kerja biasa.

Teknologi lain yang menjanjikan adalah Reconfigurable Intelligent Surfaces (RIS), panel pintar yang bisa memantulkan dan mengarahkan gelombang radio dengan energi yang sangat kecil.

Panel ini memperbaiki jangkauan sinyal tanpa perlu menambah pemancar baru yang boros listrik. Hasilnya, jangkauan sinyal jadi lebih luas, tapi pemakaian energi dinilai tetap rendah.

Hematnya juga dinilai terasa sampai ke perangkat pengguna. Berkat sistem baru, ponsel atau sensor pintar tidak perlu terus-menerus mencari sinyal saat sedang didiamkan.

Baterai jadi lebih awet, tidak perlu sering dicas, dan perangkat tidak cepat rusak. Bagi perusahaan besar, hal ini cukup menghemat biaya dan energi.

Melacak biaya karbon

Studi mengungkap, AI dalam jaringan 5G mampu meningkatkan efisiensi energi dan membantu percepatan target ESG.Freepik/rawpixel Studi mengungkap, AI dalam jaringan 5G mampu meningkatkan efisiensi energi dan membantu percepatan target ESG.

Untuk mengetahui seberapa efektif metode tersebut dijalankan, peneliti menggunakan model khusus yang bisa melacak jejak karbon di 33 sektor ekonomi Inggris.

Hasilnya menunjukkan bahwa infrastruktur 5G yang lebih pintar tidak hanya mengurangi polusi langsung dari emisi telekomunikasi langsung, tapi juga mengurangi polusi tidak langsung dari pemakaian listrik dan seluruh rantai pasok industri lainnya.

Sektor keuangan, TI, dan pemrogaman mendapatkan keuntungan pengurangan polusi paling besar. Bagi industri-industri ini, tingkat polusi dari infrastruktur 5G saat ini menjadi bagian penting dalam laporan emisi mereka.

Baca juga:

Banyak dari teknologi ini sebenarnya sudah direncanakan oleh para insinyur. Namun, penggunaannya bisa lebih cepat jika pemerintah tidak lagi hanya menuntut "semua daerah harus ada sinyal", tapi juga menuntut "semua sinyal harus hemat energi".

Ke depannya, izin penggunaan frekuensi mungkin akan mewajibkan syarat efisiensi energi sehingga operator terpaksa membuktikan bahwa mereka benar-benar memangkas emisi 5G.

Perusahaan-perusahaan kini semakin ketat dalam mengejar target bebas polusi sehingga tekanan pun akan semakin besar.

Bagi perusahaan telekomunikasi, memasang AI di jaringan 5G akan segera berubah, dari yang tadinya cuma cara untuk irit biaya, menjadi syarat wajib agar bisa bersaing dan memenuhi target ESG (Environment, Social, Governance).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau