KOMPAS.com - Wilayah Asia-Pasifik diperkirakan akan gagal mencapai 103 dari 117 target pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals atau SDG) yang terukur pada tahun 2030.
Kerusakan lingkungan muncul sebagai ancaman paling serius bagi kemajuan pembangunan di wilayah ini, dilansir dari Eco Business, Kamis (19/2/2026).
Baca juga:
Mmenurut Laporan Kemajuan SDG Asia dan Pasifik 2026 yang dirilis oleh ESCAP, komisi ekonomi dan sosial untuk wilayah Asia Pasifik di bawah PBB, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan melemahnya ekosistem air tawar tengah membalikkan kemajuan yang telah dicapai selama puluhan tahun serta mengungkap kerentanan struktural yang mendalam.
Adapun SDG adalah 17 target global yang disepakati oleh negara-negara anggota PBB pada tahun 2015 untuk menghapus kemiskinan, melindungi planet bumi, dan meningkatkan kesejahteraan pada tahun 2030.
Target-target ini mencakup isu-isu seperti kesehatan, pendidikan, kesenjangan, energi bersih, dan aksi iklim, serta digunakan untuk memantau kemajuan setiap negara menuju pembangunan yang berkelanjutan.
Wilayah Asia-Pasifik diperkirakan akan gagal mencapai 103 dari 117 target pembangunan berkelanjutan (SDG) tahun 2030.ESCAP memperingatkan bahwa kemajuan dalam aksi iklim (SDG 13), pelestarian laut (SDG 14), dan keanekaragaman hayati (SDG 15) justru mengalami kemunduran pesat.
Sementara itu, ketahanan kota semakin melemah, di mana kerusakan berulang pada infrastruktur penting menunjukkan adanya jurang yang lebar antara rencana iklim dengan kesiapan nyata di lapangan.
Transisi energi di wilayah Asia Pasifik juga sedang tersendat meskipun akses masyarakat terhadap listrik meningkat pesat, porsi energi terbarukan dalam bauran energi justru menurun.
PBB menyebut tren ini benar-benar tidak sejalan dengan besarnya risiko iklim yang dihadapi Asia-Pasifik.
Lingkungan yang rusak memicu lebih banyak bencana, yang tidak hanya merusak alam tapi juga memakan korban serta menghancurkan harta benda. Kondisi itu semakin membahayakan kemajuan dalam pengurangan kemiskinan di wilayah Asia Pasifik.
PBB pun menekankan kebutuhan mendesak untuk memperkuat ketahanan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Armida Salsiah Alisjahbana, Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif ESCAP, mengatakan, temuan tersebut menunjukkan bahwa model pertumbuhan di kawasan ini tidak lagi sesuai dengan tujuan.
“Mesin-mesin pertumbuhan yang dulu mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan dan mendorong industri menjadi maju pesat, sekarang justru merusak masa depan kita sendiri,” ujar dia.
Tekanan lingkungan juga merusak kemajuan dalam sistem pangan.
Meski angka kurang gizi telah menurun dan ketahanan pangan jangka panjang sudah membaik, tapi kemunduran dalam pertanian berkelanjutan, seperti hilangnya ras ternak tradisional dan lambatnya penggunaan cara bertani yang tahan iklim, saat ini mengancam pencapaian tersebut.
ESCAP menyatakan bahwa wilayah tersebut harus segera meningkatkan investasi di bidang pertanian yang berkelanjutan dan cerdas iklim.
Baca juga:
Wilayah Asia-Pasifik diperkirakan akan gagal mencapai 103 dari 117 target pembangunan berkelanjutan (SDG) tahun 2030.Meskipun indikator lingkungan memburuk, laporan tersebut menunjukkan beberapa area kemajuan.
Wilayah Asia Pasifik mengalami kemajuan dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3), dengan penurunan angka kematian ibu, bayi baru lahir, dan balita yang berkelanjutan, penurunan angka kelahiran remaja, dan peningkatan bantuan pembangunan untuk penelitian medis dan layanan kesehatan dasar.
Namun, para penulis laporan memperingatkan bahwa pencapaian ini cukup rapuh di tengah tingginya angka penyakit tidak menular, meningkatnya resistensi antimikroba, tingginya pengeluaran kesehatan rumah tangga, dan rendahnya kepadatan tenaga kesehatan.
Lebih lanjut, akses pendidikan terus meningkat, khususnya tingkat kelulusan sekolah stabil, pendaftaran pra-sekolah meningkat, dan akses ke layanan dasar telah menguat.
Kendati demikian, hasil belajar memburuk dengan kemunduran dalam kemampuan membaca dan matematika.
Baca juga: Laporan PBB Sebut Asia dan Pasifik Perlu Pendanaan Mendesak untuk Capai SDG
ESCAP menyatakan bahwa pemerintah harus melampaui akses dan segera berinvestasi dalam kualitas pendidikan, pelatihan guru, dan dukungan yang ditargetkan untuk siswa yang kurang beruntung.
Sementara itu, akses terhadap air dan sanitasi membaik di seluruh wilayah, tetapi kemajuan ini terhambat oleh penurunan badan air permanen, yang menandakan memburuknya kesehatan ekosistem air tawar.
Bila dikombinasikan dengan tekanan air yang tinggi, keberlanjutan jangka panjang sumber daya air di wilayah tersebut berada di bawah ancaman serius.
Meskipun wilayah Asia-Pasifik jauh lebih baik dibandingkan wilayah lain dalam hal kelengkapan data pembangunan, gambaran besarnya menunjukkan bahwa kemunduran justru terjadi semakin cepat.
Dengan empat tahun tersisa hingga tenggat waktu 2030, ESCAP memperingatkan bahwa Asia Pasifik bergerak ke arah yang salah pada banyak target keberlanjutan.
Baca juga: Jadi SDG Pioneer 2024, Lucia Karina Ajak Industri Perkuat Komitmen Keberlanjutan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya