Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout

Kompas.com, 26 Februari 2026, 16:29 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena micro-retirement (pensiun mikro) beredar di kalangan Generasi Z (Gen Z). Selama periode "pensiun" tersebut, Gen Z memilih berwisata ke berbagai destiansi dengan bujet murah. 

Inilah fenomena ketika, alih-alih menunggu masa pensiun yang sesungguhnya untuk berkeliling dunia, Gen Z mengambil jeda di antara pekerjaan untuk beristirahat dan pulih dari burnout

Baca juga:

Cara tersebut digunakan untuk mencapai keseimbangan kerja dan kehidupan yang lebih baik, di tengah angka burnout yang kian naik di kalangan pekerja muda. Pola kerja ini telah berubah pesat dari yang dianut generasi sebelumnya.

"Meningkatnya tingkat stres membuat jeda istirahat yang direncanakan semakin dipandang penting untuk produktivitas jangka panjang," kata Chief Marketing Officer (CMO) Dragonpass, Andrew Harrison-Chinn, dilansir dari Euronews, Kamis (26/2/2026).

Fenomena micro-retirement (pensiun mikro) Gen Z

Tunda kepuasan masa depan demi kenangan saat ini

Fenomena micro-retirement ramai di kalangan Gen Z. Mereka memilih jeda kerja untuk traveling dan pulih dari burnout.Dok. Unsplash/Eirc Shi Fenomena micro-retirement ramai di kalangan Gen Z. Mereka memilih jeda kerja untuk traveling dan pulih dari burnout.

Harrison-Chinn menambahkan, pensiun mikro sering dilakukan beberapa kali sebelum usia pensiun lazimnya dengan tujuan menghindari burnout.

Pensiun mikro muncul dari pergeseran pola pikir yakni menunda kepuasan masa depan menjadi menciptakan kenangan saat ini. 

Faktor pendorong tren ini meliputi aktualisasi diri, fear of missing out (FOMO atau takut tertinggal tren), pemulihan dari burnout, serta pencarian keseimbangan kerja dan kehidupan yang lebih sehat. Pensiun mikro juga dinilai berdampak baik terhadap produktivitas pekerja.

Terkadang, pensiun mikro dipadukan dengan pekerjaan lepas, kerja jarak jauh, atau paruh waktu sambil mempertimbangkan langkah karier berikutnya.

“Rencana perjalanan menjadi lebih lama dan santai, perencanaan lebih fleksibel, dan destinasi dipilih berdasarkan kombinasi gaya hidup, konektivitas, serta akses ke fasilitas kebugaran. Wisatawan tidak hanya memikirkan ke mana mereka pergi, tetapi juga bagaimana keseluruhan perjalanan akan terasa termasuk pengalaman di bandara,” jelas Harrison-Chinn. 

“Ada juga ekspektasi yang makin besar agar semuanya berjalan mulus, segala sesuatu yang mengurangi hambatan dan membuat perjalanan terasa lancar sangat menarik bagi mereka,” imbuh dia.

Berdasarkan data platform pemasaran rekrutmen Joveo, lebih dari 10 persen pekerja mempertimbangkan pensiun mikro pada pertengahan 2025.

Survei lain dari SideHustles.com menunjukkan bahwa 54 persen responden percaya pensiun mikro dapat mencegah burnout.

Baca juga: 

Kembalinya para pensiunan

Pensiunan yang kembali bekerja bisa membawa manfaat

Fenomena micro-retirement ramai di kalangan Gen Z. Mereka memilih jeda kerja untuk traveling dan pulih dari burnout.Dok. Unsplash/Dave Weatherall Fenomena micro-retirement ramai di kalangan Gen Z. Mereka memilih jeda kerja untuk traveling dan pulih dari burnout.

Bila Gen Z mengambil pensiun mikro, generasi di atasnya yaitu Baby Boomer (kelahiran 1946-1964) justru meninggalkan masa pensiun dan berbondong-bondong untuk kembali bekerja.

Dilansir dari Forbes, Shanna Milford selaku pimpinan HR AS di IRIS Software Group menuturkan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan generasi tersebut berencana kerja lagi.

"Bagi 13 persen pensiunan yang berencana kembali bekerja pada 2025, tekanan finansial seperti kenaikan biaya hidup (69 persen) dan utang non-medis (34 persen) menjadi pendorong utama. Selain stabilitas keuangan, kembali bekerja juga memberi manfaat sosial, rasa tujuan hidup baru, dan kesempatan untuk tetap aktif tanpa benar-benar berhenti," terang Milford.

Menurut dia, para pensiunan membawa keberagaman generasi ke tempat kerja, yang meningkatkan kolaborasi dan inovasi tim.

Karyawan muda pun mendapat akses pada kebijaksanaan dan pengalaman rekan kerja yang lebih senior,sehingga membantu menutup kesenjangan pengetahuan.

Baca juga:

Di sisi lain, kembalinya pensiunan juga menguntungkan perusahaan.

“Pensiunan adalah kumpulan talenta berpengalaman, sering kali membutuhkan pelatihan awal yang lebih sedikit dan membawa keterampilan yang dapat mengisi kesenjangan penting. Untuk industri yang mengalami kekurangan tenaga kerja seperti akuntansi di mana 75 persen CPA memenuhi syarat pensiun pada 2020 ini sangat menguntungkan," jelas dia.

Pensiunan juga memiliki pengetahuan institusional, keahlian, dan kemampuan mentoring yang membantu menjembatani kesenjangan keterampilan, mendukung peran kepemimpinan, melatih karyawan junior, hingga memberi konsultasi pada proyek strategis.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau