Selain proyek pembangunan PLTS, perusahaan juga mengoptimalkan teknologi waste heat recovery (WHR) pada unit PT HPL yang mampu memulihkan panas buang menjadi energi listrik.
Dikutip dari situs web resmi Harita Nickel, teknologi tersebut setara dengan 9 juta liter bensin per tahun dan berkontribusi pada 73 persen total emisi yang berhasil dihindari perusahaan.
Inovasi lain yang dilakukan adalah pemanfaatan gasifikasi batu bara menjadi syngas. Inovasi ini mampu menekan emisi hingga 935.901 ton setara karbon dioksida (CO2e).
Efisiensi energi juga didorong melalui penggunaan biosolar B35 sebagai campuran bahan bakar pembangkit listrik serta penggunaan kendaraan penarik dan forklift listrik di area pergudangan.
Baca juga: Komitmen Keberlanjutan, Harita Nickel Bakal Diaudit IRMA
Atas berbagai langkah tersebut Harita Nickel meraih Katadata Green Initiatives Awards (KGIA) 2025 pada acara Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta.
Penghargaan didapat lantaran Harita Nickel mampu memanfaatkan minyak jelantah dari kantin karyawan sebagai pengganti batu bara dalam fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF).
Gultom menjelaskan bahwa energi terbarukan dapat diolah dari hal sederhana. Contohnya, minyak jelantah yang dihasilkan dari konsumsi harian sekitar 20.000 karyawan.
Minyak jelantah tersebut disuling kembali sebagai bahan bakar alternatif smelter. Hal ini mampu menggantikan 21 persen kalori batu bara dan memangkas konsumsi batu bara sekitar 10 ton per hari.
Baca juga: Strategi Harita Nickel (NCKL) Genjot Laba dan Pendapatan di Tengah Penurunan Harga Nikel
“Penghargaan ini menjadi dorongan bagi kami untuk terus memperkuat agenda keberlanjutan di setiap lini operasi,” ucap Gultom.
Selain minyak jelantah, perusahaan juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif serta pemanfaatan botol bekas sebagai media biofilter.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2024 Harita Nickel, berkat penggunaan bahan bakar alternatif tersebut, bauran EBT perusahaan kini telah mencapai 23,8 persen. Pada saat yang sama, melalui berbagai inisiatif berkelanjutannya, perusahaan berhasil mengurangi sekitar 1,5 juta ton emisi karbon.
Gultom meyakini bahwa hilirisasi mineral harus sejalan dengan praktik pertambangan yang bertanggung jawab demi memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat luas.
“Pertambangan yang bertanggung jawab harus membawa manfaat jangka panjang, tidak hanya secara ekonomi, tapi juga sosial dan ekologis,” tutur Gultom.
Perusahaan berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam memperkuat peran Indonesia pada agenda dekarbonisasi dunia lewat penerapan standar ISO 14001 yang berfokus ada manajemen lingkungan dan ISO 45001 tentang kesehatan serta keselamatan kerja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya