“BTN berkomitmen mendukung pertumbuhan berkelanjutan untuk Indonesia dengan mengusung konsep ‘Become The ESG Champion’ sebagai landasan,” ujar Nixon dalam Laporan Keberlanjutan BTN 2024.
Langkah ini menunjukkan pergeseran orientasi BTN daris ekadar volume kredit menuju kualitas dampak pembiayaannya.
Baca juga: Dorong Penerapan ESG, BTN Jadi Anggota UNEP FI
Transformasi keberlanjutan BTN juga menyasar perilaku nasabah. Pada September 2025, perseroan meluncurkan program "Bayar Angsuranmu Pakai Sampahmu". Terobosan ini memungkinkan nasabah mengurangi cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) melalui pengelolaan sampah rumah tangga.
Melalui kerja sama dengan perusahaan pengelola sampah berbasis teknologi, nasabah dapat menyetorkan sampah yang telah dipilah, seperti plastik, kardus, botol kaca, hingga minyak jelantah.
Sampah tersebut kemudian diolah menjadi poin bernama Rekopoin yang dikonversi menjadi saldo tabungan di rekening BTN untuk membantu pembayaran angsuran.
Baca juga: Kunjungi Bekasi, Ratu Belanda Soroti Program BTN yang Ubah Sampah Jadi Tabungan KPR
Nixon menjelaskan, program tersebut merupakan wujud peran aktif BTN di bidang ESG. Di program ini, sampah rumah tangga yang dikumpulkan bisa dikonversi jadi rupiah ke tabungan serta dapat mengurangi angsuran 10-15 persen per bulan.
"Jadi, kalau angsurannya sekitar Rp 1,1-1,2 juta per bulan, nasabah bisa menabung dari sampah rumah tangga sekitar Rp100-200.000 per bulan. Ini sekaligus membantu negara, bumi, dan lingkungan agar lebih bersih dan green," ujar Nixon di bekas, Jakarta, Rabu (26/11/2025), seperti dikutip dari laman resmi BTN.
Dengan rerata rumah tangga menghasilkan sampah 4 kg per hari, program ini pun bisa mendukung keberlanjutan lingkungan.
“Sampah yang selama ini dianggap beban ternyata punya nilai ekonomi. Melalui program ini, sampah dipilah, ditimbang, dan dikonversi menjadi tabungan untuk mengurangi cicilan rumah. Semakin rajin memilah, semakin ringan cicilan mereka,” ujar Nixon.
Program ini sudah berjalan di beberapa lokasi di Bogor, Jawa Barat, dan direncanakan akan diperluas ke sekitar 100 titik di Pulau Jawa hingga akhir 2026. BTN juga menilai inisiatif ini sejalan dengan agenda nasional dalam pengembangan ekonomi hijau dan percepatan penanganan sampah.
Inovasi itu mendapat sorotan global. Ratu Belanda Queen Máxima dalam kapasitasnya sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Kesehatan Keuangan mengapresiasi inisiatif tersebut karena dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi keluarga berpenghasilan rendah sekaligus mengurangi beban sampah di tingkat masyarakat terkecil.
Komitmen sosial BTN juga tecermin dari penyaluran dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Sepanjang 2024, nilai TJSL yang disalurkan mencapai Rp 88,96 miliar untuk program pemberdayaan masyarakat, pendidikan, bantuan sosial, hingga pelestarian lingkungan.
Pada periode Januari hingga Juni 2025, BTN kembali menggelontorkan dana TJSL sebesar Rp 40,7 miliar untuk menyokong Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta mendukung program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Sebagian besar alokasi diarahkan pada sektor pangan.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando menegaskan bahwa keberhasilan bisnis tidak terlepas dari kontribusi sosial perusahaan.
“Keberhasilan BTN dalam menjalankan bisnis tidak dapat dilepaskan dari kontribusi nyata terhadap masyarakat dan lingkungan. BTN hadir sebagai bank yang memberikan berbagai layanan keuangan bagi masyarakat serta sebagai mitra pembangunan yang aktif,” ujarnya, Rabu (23/7/2025).
Baca juga: TJSL BTN Salurkan KPR Mikro hingga Bantuan untuk Pencegahan Stunting
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya