Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040

Kompas.com, 6 Maret 2026, 15:04 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Uni Eropa (UE) sepakat memangkas emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 90 persen tahun 2040. Target iklim baru ini sangat diperjuangkan oleh sejumlah pemerintah negara anggota dan Parlemen Eropa sejak 2025.

Target tersebut dinilai lebih ambisius dibandingkan komitmen pengurangan emisi dari sebagian besar ekonomi besar dunia, termasuk China.

Baca juga: 

Negara-negara anggota Uni Eropa harus mengurangi emisi dari sektor industri sebesar 85 persen dibandungkan tingkat emisi pada 1990, dilansir dari Reuters, Jumat (6/3/2026).

"Anggota Parlemen Eropa mendukung kesepakatan politik dengan Dewan mengenai amandemen Undang-Undang Iklim Uni Eropa dengan 413 suara mendukung, 226 menolak, dan 12 abstain, untuk memasukkan target iklim Uni Eropa yang baru, sementara, dan mengikat pada tahun 2040 yaitu mengurangi emisi gas rumah kaca bersih sebesar 90 persen dibandingkan dengan tingkat tahun 1990," demikian tertulis dalam laman resmi Parlemen Eropa.

Uni Eropa pangkas emisi gas rumah kaca hingga 90 persen

Untuk mencapai target penurunan GRK hingga 90 persen, Uni Eropa akan mendanai negara berkembang melalui sistem kredit karbon sehingga negara-negara itu mengurangi emisi atas nama Eropa.

Blok tersebut turut mempertimbangkan menggunakan kredit karbon internasional untuk menambah lima persen dari target pengurangan emisi pada tahun 2040.

Langkah ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap upaya pengurangan emisi domestik.

Di sisi lain, kesepakatan pemangkasan emisi 90 persen berimbas pada tertundanya peluncuran pasar karbon baru Uni Eropa selama satu tahun dari rencana awal 2027 menjadi 2028.

Tujuannya, memperoleh dukungan dari negara-negara yang masih skeptis terhadap target iklim baru.

Baca juga:

Tuai pro dan kontra

Uni Eropa menargetkan pengurangan emisi GRK hingga 90 persen pada tahun 2040.freepik Uni Eropa menargetkan pengurangan emisi GRK hingga 90 persen pada tahun 2040.

Uni Eropa menyepakati target penurunan emisi usai perdebatan panjang antara negara anggota. Spanyol, misalnya, menganggap bahwa kekeringan dan kebakaran hutan yang kian parah menjadi alasan untuk menetapkan target yang lebih ambisius.

Sebaliknya, Polandia dan Italia berupaya melonggarkan target pengurangan emisi dengan alasan industri yang sedang kesulitan tidak mampu menanggung besarnya investasi awal.

Para menteri negara anggota Uni Eropa akhirnya memberikan persetujuan terakhir terhadap target yang mengikat secara hukum dalam pertemuan di Brussels.

Namun, Republik Ceko, Slovakia, Polandia, dan Hungaria menolak kebijakan tersebut.

Dengan persetujuan ini, target iklim baru akan menjadi bagian dari hukum Uni Eropa.

Nantinya, Komisi Eropa akan menilai perkembangan pengurangan emisi setiap dua tahun sekali dengan mempertimbangkan data ilmiah terkini, perkembangan teknologi, dan kondisi daya saing industri Uni Eropa.

Penilaian itu juga akan mempertimbangkan tren harga energi dan dampaknya bagi bisnis serta rumah tangga, termasuk perkembangan penyerapan energi bersih.

"Setelah peninjauan tersebut, Komisi dapat mengusulkan amandemen terhadap Undang-Undang iklim Uni Eropa yang mencakup modifikasi target tahun 2040 atau mengambil langkah-langkah tambahan untuk memperkuat kerangka kerja pendukung, misalnya untuk melindungi daya saing, kemakmuran, dan persatuan sosial Uni Eropa," kata parlemen.

Kesepakatan akan mulai berlaku 20 hari setelah dokumennya dipublikasikan di Jurnal Resmi Uni Eropa pasca-disetujui anggota Dewan UE.

Undang-Undang Iklim Eropa sendiri menetapkan target netralitas iklim pada 2050 sebagai kewajiban hukum bagi seluruh negara anggota.

Regulasi tersebut juga mewajibkan Uni Eropa mengurangi emisi gas rumah kaca bersih setidaknya 55 persen pada 2030 dibandingkan tingkat 1990.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau