Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan

Kompas.com, 9 Maret 2026, 20:47 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com - Survei mengenai greenwashing terhadap lebih dari 3.500 perusahaan yang memiliki komitmen iklim menemukan, 96 persen dari sampel tersebut gagal memenuhi setidaknya satu indikator risiko.

Indikator risiko merupakan kriteria tertentu yang digunakan untuk mendeteksi apakah sebuah perusahaan hanya berpura-pura peduli lingkungan atau benar-benar jujur.

Baca juga: 

Studi ini menggambarkan potret suram mengenai janji-janji iklim perusahaan, dan muncul setelah serangkaian kekalahan hukum bagi perusahaan-perusahaan yang dituduh melakukan greenwashing, dilansir dari Trellis, Senin (9/3/2026).

Namun, studi ini juga menawarkan beberapa solusi yang relatif mudah dilakukan.

“Kami tidak ingin ini menjadi sekadar upaya untuk menyalahkan perusahaan atas kesalahan yang mereka lakukan,” ujar Elizabeth Brown, mahasiswa Ph.D. di Data-Driven EnviroLab, University of North Carolina, sekaligus salah satu penulis studi.

"Ini justru semacam ajakan untuk menunjukkan bahwa sebenarnya mudah bagi perusahaan untuk membuktikan kredibilitas yang lebih baik," katanya.

Peduli lingkungan atau hanya greenwashing?

Secara sederhana greenwashing merupakan strategi pemasaran atau pencitraan palsu agar sebuah perusahaan terlihat ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak demikian.

Kendati demikian, peneliti menggunakan sumber-sumber standar industri untuk mendefinisikan greenwashing, termasuk kriteria kredibilitas yang disusun oleh kampanye Race to Zero yang didukung PBB.

Ada tujuh indikator yang bisa menjadi penanda praktik tersebut, antara lain sebagai berikut:

  • Tidak adanya target emisi jangka menengah.
  • Target tidak mencakup emisi Scope 3.
  • Perusahaan belum menyusun rencana untuk mencapai targetnya.
  • Target bergantung pada skema offset atau kompensasi karbon tanpa merinci bagaimana kompensasi tersebut akan digunakan.
  • Target hanya mencakup karbon dioksida (CO2), tapi tidak mencakup gas rumah kaca lainnya.
  • Perusahaan melakukan lobi yang justru memperlemah aksi iklim.
  • Perusahaan gagal menunjukkan kemajuan yang berarti dalam mencapai targetnya.

Menggunakan data mengenai komitmen dan emisi perusahaan yang dikumpulkan oleh tiga inisiatif nirlaba yakni CDP, Net Zero Tracker, dan InfluenceMap para peneliti kemudian memberikan nilai kepada 3.574 perusahaan yang telah membuat semacam janji atau komitmen iklim.

Baca juga:

Masalah dalam emisi Scope 3

Sebanyak 96 persen sampel perusahaan yang disurvei gagal memenuhi setidaknya satu indikator risiko tentang greenwashing. Apa sebabnya?SHUTTERSTOCK Sebanyak 96 persen sampel perusahaan yang disurvei gagal memenuhi setidaknya satu indikator risiko tentang greenwashing. Apa sebabnya?

Hasil analisis kemudian menyimpulkan masalah perusahaan yang paling parah terkait dengan greenwashing adalah soal emisi Scope 3.

Sebanyak 70 persen perusahaan mengabaikan polusi yang dihasilkan oleh pemasok atau penggunaan produk mereka, padahal justru di situlah sumber polusi terbesarnya.

Masalah lainnya mencakup penggunaan skema kompensasi karbon yang meragukan sebanyak 40 persen, misalnya asal klaim sudah tanam pohon tapi tidak ada buktinya.

Selain itu, tidak adanya target jangka menengah perusahaan (21 persen), dan kurangnya kemajuan yang berarti dalam mencapai target perusahaan (20 persen).

Setelah semua hasil digabungkan, hanya empat persen perusahaan bersih dari greenwashing.

Studi ini juga mempertanyakan tentang bagaimana perusahaan memantau janji-janji mereka.

“Pedoman sukarela yang ada saat ini tidak benar-benar memberi insentif bagi perusahaan untuk menghindari seluruh spektrum masalah greenwashing,” kata Brown.

Misalnya, Standar Net Zero Perusahaan yang ada saat ini dari inisiatif Science Based Targets (SBTi) mewajibkan menghitung emisi Scope 3 dan gas rumah kaca selain karbon dioksida.

Di sisi lain, rencana transisi dan pengungkapan kegiatan lobi bersifat dianjurkan, tapi tidak diwajibkan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau