KOMPAS.com - Boeing membeli setidaknya 40.000 ton kredit penghapusan karbon dioksida (CDR) yang bersifat permanen.
Hal tersebut berdasarkan pengumuman dari Carbonfuture, perusahaan spesialis pembersih karbon, mengenai kerja sama dengan perusahaan aviasi tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Baca juga:
"Untuk mendukung tingginya permintaan perjalanan udara global dalam jangka panjang, industri penerbangan telah menetapkan target untuk mengurangi emisi. Kami sangat antusias untuk berkolaborasi dengan Carbonfuture dalam mendukung inovasi teknologi penghapusan karbon demi membantu memenuhi kebutuhan tersebut," terang Wakil Presiden Keberlanjutan Perusahaan Global di Boeing, Allison Melia, dilansir dari ESG Today, Selasa (10/3/2026).
Hal tersebut berarti, Boeing tidak bisa menghilangkan polusi dari pesawatnya secara instan sehingga mereka membayar proyek pembersihan karbon agar sebanyak 40.000 ton gas karbon "disedot" dari udara secara permanen.
Menurut Carbonfuture, kredit karbon ini akan diambil dari empat proyek berbeda yang menggunakan teknik biochar. Proyek-proyek ini tersebar di berbagai negara berkembang.
Sebagai informasi, biochar adalah arang yang dibuat dengan memanaskan sisa kayu atau limbah pertanian tanpa oksigen. Hasilnya adalah karbon yang sangat stabil.
Jika arang ini ditanam ke dalam tanah, ia bisa mengunci karbon selama berabad-abad sekaligus membuat tanah jadi lebih subur.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Boeing akan menggunakan kredit penghapusan karbon untuk menangani sisa emisi Scope 3 kategori 6 yang berasal dari perjalanan dinas.
Baca juga:
Boeing membeli setidaknya 40.000 ton kredit penghapusan karbon dioksida (CDR) yang bersifat permanen. Langkah ini mendukung strategi besar perusahaan dalam mengurangi dan menetralkan emisi yang memang sulit dihilangkan di sepanjang rantai operasional mereka.
Sejak tahun 2020, Boeing sudah secara sukarela membayar proyek lingkungan untuk mengompensasi emisi karbon dioksida Scope 1 dan Scope 2 dari pabrik dan fasilitas operasionalnya.
Namun, mulai tahun 2024, mereka disebut punya aturan baru "Kurangi dulu, bersihkan sisanya kemudian".
Strategi ini berarti Boeing akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah atau mengurangi polusi langsung dari sumbernya terlebih dahulu.
Jika ternyata masih ada polusi yang benar-benar sulit dihilangkan seperti emisi dari bahan bakar pesawat, barulah mereka akan menggunakan teknologi pembersihan karbon sebagai langkah terakhir.
"Kami membantu Boeing menangani emisi yang sangat sulit dihilangkan. Kami senang dapat bermitra dengan perusahaan pemimpin seperti Boeing untuk mendukung pertumbuhan sektor penghapusan karbon permanen," kata CEO Carbonfuture, Hannes Junginger-Gestrich.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya