Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Boeing Teken Penghapusan 40.000 Ton Karbon lewat Teknologi Biochar

Kompas.com, 10 Maret 2026, 16:17 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Boeing membeli setidaknya 40.000 ton kredit penghapusan karbon dioksida (CDR) yang bersifat permanen. 

Hal tersebut berdasarkan pengumuman dari Carbonfuture, perusahaan spesialis pembersih karbon, mengenai kerja sama dengan perusahaan aviasi tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga: 

"Untuk mendukung tingginya permintaan perjalanan udara global dalam jangka panjang, industri penerbangan telah menetapkan target untuk mengurangi emisi. Kami sangat antusias untuk berkolaborasi dengan Carbonfuture dalam mendukung inovasi teknologi penghapusan karbon demi membantu memenuhi kebutuhan tersebut," terang  Wakil Presiden Keberlanjutan Perusahaan Global di Boeing, Allison Melia, dilansir dari ESG Today, Selasa (10/3/2026).

Hal tersebut berarti, Boeing tidak bisa menghilangkan polusi dari pesawatnya secara instan sehingga mereka membayar proyek pembersihan karbon agar sebanyak 40.000 ton gas karbon "disedot" dari udara secara permanen.

Menurut Carbonfuture, kredit karbon ini akan diambil dari empat proyek berbeda yang menggunakan teknik biochar. Proyek-proyek ini tersebar di berbagai negara berkembang.

Sebagai informasi, biochar adalah arang yang dibuat dengan memanaskan sisa kayu atau limbah pertanian tanpa oksigen. Hasilnya adalah karbon yang sangat stabil.

Jika arang ini ditanam ke dalam tanah, ia bisa mengunci karbon selama berabad-abad sekaligus membuat tanah jadi lebih subur.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Boeing akan menggunakan kredit penghapusan karbon untuk menangani sisa emisi Scope 3 kategori 6 yang berasal dari perjalanan dinas.

Baca juga:

Boeing beli 40.000 ton kredit penghapusan karbon dioksida

Dukung strategi perusahaan menetralkan emisi

Boeing membeli setidaknya 40.000 ton kredit penghapusan karbon dioksida (CDR) yang bersifat permanen. Boeing Boeing membeli setidaknya 40.000 ton kredit penghapusan karbon dioksida (CDR) yang bersifat permanen. 

Langkah ini mendukung strategi besar perusahaan dalam mengurangi dan menetralkan emisi yang memang sulit dihilangkan di sepanjang rantai operasional mereka.

Sejak tahun 2020, Boeing sudah secara sukarela membayar proyek lingkungan untuk mengompensasi emisi karbon dioksida Scope 1 dan Scope 2 dari pabrik dan fasilitas operasionalnya.

Namun, mulai tahun 2024, mereka disebut punya aturan baru "Kurangi dulu, bersihkan sisanya kemudian".

Strategi ini berarti Boeing akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah atau mengurangi polusi langsung dari sumbernya terlebih dahulu.

Jika ternyata masih ada polusi yang benar-benar sulit dihilangkan seperti emisi dari bahan bakar pesawat, barulah mereka akan menggunakan teknologi pembersihan karbon sebagai langkah terakhir.

"Kami membantu Boeing menangani emisi yang sangat sulit dihilangkan. Kami senang dapat bermitra dengan perusahaan pemimpin seperti Boeing untuk mendukung pertumbuhan sektor penghapusan karbon permanen," kata CEO Carbonfuture, Hannes Junginger-Gestrich.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau