Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030

Kompas.com, 10 Maret 2026, 19:35 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bumi menanas dua kali lebih cepat dari sebelumnya sehingga menyebabkan kenaikan suhu yang diprediksi melebihi batas 1,5 derajat celsius sebelum tahun 2030, menurut studi terbaru. 

Berdasarkan riset Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), pemanasan global yang masif ini terjadi sejak 2015 lalu. Para peneliti mencatat, suhu global meningkat dengan laju sekitar 0,35 derajat celsius per dekade.

Baca juga:

Angka ini melonjak tajam dibandingkan dengan laju pemanasan rata-rata yang hanya kurang dari 0,2 derajat celsius per dekade yang tercatat pada 1970 hingga 2015.

“Sekarang kami dapat menunjukkan percepatan pemanasan global yang kuat dan signifikan secara statistik sejak sekitar tahun 2015,” ujar ahli statistik Amerika Serikat (AS) sekaligus penulis studi, Grant Foster dilansir dari Scitech Daily, Selasa (10/3/2026).

Bumi alami pemanasan global yang masif sejak 10 tahun lalu

Penelitian menyatakan bumi mengalami pemanasan global dua kali lipat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.Freepik Penelitian menyatakan bumi mengalami pemanasan global dua kali lipat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Tim peneliti menggunakan catatan pengukuran suhu sejak tahun 1880. Hasilnya menunjukkan kenaikan suhu paling tinggi terjadi dalam satu dekade terakhir.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters, para peneliti juga menjelaskan bahwa faktor alami seperti El Niño, letusan gunung berapi, dan siklus matahari dapat memengaruhi suhu global dalam jangka pendek.

Faktor tersebut terkadang membuat tren pemanasan jangka panjang menjadi kurang terlihat. Untuk itu, peneliti menyaring pengaruh alami dari data suhu.

“Kami menyaring pengaruh alami yang diketahui dalam data observasi, sehingga gangguan berkurang, membuat sinyal pemanasan jangka panjang yang mendasarinya lebih jelas terlihat,” ucap Foster.

Analisis dilakukan melalui pengukuran langsung dari lima kumpulan data suhu global, antara lain milik NASA, NOAA , HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5.

Peneliti lain, Stefan Rahmstorf, menjelaskan bahwa setelah data disesuaikan dengan pengaruh alami, percepatan pemanasan global tetap terlihat secara konsisten.

“Data yang disesuaikan menunjukkan percepatan pemanasan global sejak tahun 2015 dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen,” ujar Rahmstorf.

Studi ini tidak secara khusus meneliti penyebab percepatan pemanasan tersebut. Namun, para peneliti menyebut temuannya sejalan dengan pemahaman ilmiah tentang perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Rahmstorf menilai, jika laju pemanasan dalam 10 tahun terakhir terus berlanjut, maka batas kenaikan suhu 1,5 derajat celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris bisa terlampaui sebelum 2030.

“Seberapa cepat bumi terus memanas pada akhirnya bergantung pada seberapa cepat kita mengurangi emisi CO2 (karbon dioksida) global dari bahan bakar fosil hingga nol," beber dia.

Baca juga:

Permukaan laut alami kenaikan

Penelitian menyatakan bumi mengalami pemanasan global dua kali lipat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.pexels Penelitian menyatakan bumi mengalami pemanasan global dua kali lipat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Menurut studi lain yang dipublikasikan di jurnal Nature, terungkap bahwa permukaan air laut lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.

Penulis utama studi dari University of Padua, Italia, Katharina Seeger menuturkan, banyak penelitian menghitung dampak kenaikan permukaan laut tanpa melihat langsung ketinggian laut yang sebenarnya. Alhasil, studi sebelumnya disebut salah menghitung ketinggian laut sesungguhnya.

"Secara regional, terutama di negara-negara Selatan, rata-rata permukaan laut yang terukur dapat lebih dari satu meter di atas geoid global dengan perbedaan terbesar di Indo-Pasifik," kata Seeger dalam studinya.

"Penelitian kami menyoroti perlunya evaluasi ulang penilaian dampak pesisir yang ada dan peningkatan standar komunitas penelitian, dengan implikasi yang mungkin bagi para pembuat kebijakan, pendanaan iklim, dan adaptasi pesisir," imbuh dia.

Para peneliti memperkirakan jika permukaan laut naik lebih dari satu meter pada akhir abad ini, seperti yang diproyeksikan beberapa penelitian, maka air laut bisa menenggelamkan hingga 37 persen lebih banyak daratan.

Sebanyak 77 juta-132 juta orang bisa terancam dampak kenaikan permukaan laut yang pada akhirnya membebani perekonomian. Asia Tenggara merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak yang sudah terancam oleh kenaikan permukaan laut.

Kendati demikian, sejumlah ilmuwan menilai penelitian ini mungkin melebih-lebihkan dampak kenaikan laut.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau