Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal

Kompas.com, 12 Maret 2026, 14:17 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPS.com - Adaptasi virus bukanlah syarat mutlak bagi munculnya wabah virus zoonosis baru, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada awal Maret 2026.

Adaptasi yang dimaksud adalah proses virus mengalami perubahan genetik atau mutasi agar bisa bertahan hidup dan berkembang biak di tubuh inang yang baru.

Baca juga: 

Tanpa adanya adaptasi, tingkat bahayanya pun akan meningkat signifikan karena inang tidak memiliki waktu untuk bersiap.

Sebagai gambaran, jika tanpa adaptasi, virus sudah siap untuk menyerang inangnya, tanpa ada peringatan sebelumnya. Pandemi bisa meledak kapan saja secara tiba-tiba.

"Tujuan kami bukan hanya untuk memahami masa lalu, tetapi agar bisa lebih siap menghadapi masa depan," kata kata Joel Wertheim, peneliti Universitas California dan salah satu penulis studi, dilansir dari Down to Earth, Kamis (12/3/2026).

"Dengan memperjelas bagaimana pandemi sebenarnya bermula, kita bisa memfokuskan perhatian pada pengawasan, pencegahan, dan pengurangan peluang terjadinya 'limpahan virus' (viral spillover) yang terus-menerus terjadi," tambah dia.

Baca juga:

Virus tak perlu adaptasi untuk memicu pandemi

Tak ada tanda virus berubah sebelum menyerang manusia

Adaptasi virus bukanlah syarat mutlak bagi munculnya wabah virus zoonosis baru. Hal ini penting untuk mencegah virus berkembang pada masa depan.Freepik/benzoix Adaptasi virus bukanlah syarat mutlak bagi munculnya wabah virus zoonosis baru. Hal ini penting untuk mencegah virus berkembang pada masa depan.

Dalam studinya, para peneliti yang dipimpin oleh Jennifer L. Havens dari University of California, Amerika Serikat (AS), menggunakan metode pelacakan sejarah virus (filogenetik) untuk mengetahui apakah virus dari hewan benar-benar perlu beradaptasi atau berubah dulu sebelum bisa menular terus-menerus antarmanusia.

Para peneliti kemudian menganalisis sejarah evolusi dari beberapa wabah virus utama, termasuk COVID-19, pandemi flu H1N1 tahun 2009, epidemi penyakit virus Ebola di Afrika Barat tahun 2013-2016, epidemi Marburg di Angola tahun 2004-2005, serta epidemi mpox tahun 2022-2023.

Hasil studi mengungkapkan, peneliti tidak menemukan tanda-tanda bahwa virus tersebut berubah atau memperkuat dirinya tepat sebelum menyerang manusia.

Misalnya, studi ini menyatakan bahwa virus penyebab COVID-19 (SARS-CoV-2) sama sekali tidak berubah sampai ia benar-benar muncul pada manusia.

Ada dugaan bahwa virus COVID-19 sengaja diubah atau dikembangkan di laboratorium sebelum muncul.

Penelitian ini menyatakan, jika virus tersebut memang benar hasil rekayasa laboratorium atau telah berubah melalui hewan perantara, seharusnya ada jejak perubahan genetik yang bisa ditemukan. Kenyataannya, jejak tersebut tidak ada.

Namun, setelah meneliti 15 bagian genetik virus COVID-19, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa virus itu berubah menjadi lebih kuat atau lebih lemah sebelum menyerang manusia.

Sifat virusnya masih sama persis dengan virus yang ditemukan pada kelelawar di alam liar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Komitmen Net-Zero Perusahaan Global Tumbuh 61 Persen pada 2025
Pemerintah
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia
Pemerintah
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau