Lebih lanjut, sebuah penelitian terbaru tentang sektor minuman botol plastik (PET) di Sri Lanka mengungkapkan bahwa pengurangan sampah plastik dalam jumlah besar sangat mungkin dilakukan hanya dengan cara memperbaiki desain kemasannya.
Baca juga: PBB: Plastik Daur Ulang untuk Bungkus Makanan Butuh Regulasi Ketat
Tim peneliti mengukur berat botol plastik, tutup botol, dan cincin pengikatnya dari berbagai merek minuman dan ukuran botol. Mereka menemukan perbedaan besar dalam efisiensi kemasan.
"Hal ini menunjukkan bahwa banyak produk ternyata menggunakan bahan plastik yang jauh lebih banyak daripada yang sebenarnya dibutuhkan," kata salah satu penulis penelitian tersebut, Champika Kankanamge dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Ruhuna.
Penelitian tersebut memperkirakan bahwa kemasan minuman menghasilkan gunungan sampah plastik dalam jumlah yang sangat besar setiap tahunnya. Riset ini juga menegaskan bahwa mengurangi berat botol, tutup, serta komponen kemasan terkait lainnya adalah peluang paling cepat untuk memotong penggunaan plastik, tanpa menurunkan kualitas produk itu sendiri.
Temuan ini menunjukkan bahwa jika seluruh industri mau menerapkan standar efisiensi kemasan yang sama, jumlah sampah plastik yang masuk ke tempat pembuangan sampah di Sri Lanka setiap tahunnya bisa berkurang secara drastis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya