KOMPAS.com - Penelitian baru mengungkapkan bahwa komitmen untuk mengatasi perubahan iklim di antara 500 perusahaan terbesar di dunia telah melonjak tiga kali lipat sejak tahun 2019.
Hal ini berdasarkan laporan terbaru dari Climate Impact Partners, yang mengamati bagaimana perusahaan-perusahaan raksasa dalam daftar Fortune Global 500.
Perusahaan yang terdaftar dalam Fortune Global 500 ini jika digabungkan menguasai lebih dari sepertiga total kekayaan ekonomi di seluruh dunia (PDB global).
Dan menurut laporan perusahaan yang termasuk sektor teknologi, otomotif, layanan keuangan, energi, dan sektor lainnya itu sedang merombak total strategi iklim mereka.
Melansir Edie, Rabu (17/6/2026) menurut laporan tersebut, sebanyak 72 persen dari perusahaan-perusahaan raksasa ini sekarang sudah memiliki minimal satu janji nyata terkait iklim, jauh meningkat dibanding tahun 2019 yang hanya 24 persen. Bahkan, lebih dari separuhnya (51 persen) sudah memasang target untuk mencapai nol emisi karbon.
Baca juga: Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Jika digabungkan, perusahaan-perusahaan di wilayah Eropa dan Amerika Utara menyumbang 64 persen dari total seluruh perusahaan dalam daftar yang memiliki komitmen iklim.
Sementara janji net-zero di antara perusahaan-perusahaan Amerika Utara telah melonjak sebesar 141 persen sejak tahun 2021, di mana saat ini sebanyak 54 persen dari mereka telah menerapkan sistem kerja nol emisi karbon.
Di antara semua perusahaan tersebut, sebanyak 63 persen target mereka sekarang dipasang untuk tahun 2030 atau lebih lama lagi, dibanding tahun 2019 yang hanya 11 persen. Hal ini mencerminkan bahwa rencana kerja mereka kini dibuat untuk jangka panjang yang membentang hingga tahun 2050 dan 2060.
Laporan ini juga mencatat bahwa kredit karbon telah menjadi alat yang semakin umum digunakan dalam strategi iklim perusahaan, terutama di antara perusahaan-perusahaan yang memiliki target ramah lingkungan yang tinggi.
Lebih dari 44 persen perusahaan dalam daftar Fortune Global 500 sekarang secara tegas menyatakan rencana mereka untuk menggunakan kredit karbon. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 75 persen antara tahun 2022 dan 2025.
Analisis ini juga menemukan bahwa perusahaan yang memiliki target nol emisi karbon punya peluang 11 kali lebih besar untuk menggunakan kredit karbon dibandingkan dengan perusahaan lainnya.
Lebih lanjut, di antara 500 perusahaan terbesar di dunia, hanya ada 47 perusahaan yang menggabungkan janji nol emisi karbon dengan target jangka pendek berbasis standar ilmiah serta keanggotaan dalam kelompok RE100 atau kelompok yang berkomitmen memakai 100 energi terbarukan.
Baca juga: Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Sektor teknologi memimpin kelompok ini, diikuti oleh sektor kesehatan, telekomunikasi, dan layanan keuangan. Selain itu, ada juga perwakilan dari sektor makanan dan minuman, transportasi, ritel, serta otomotif.
Eropa tetap menjadi wilayah terdepan yang paling banyak menggunakan kredit karbon, dengan 82 perusahaan berencana memakainya dalam strategi iklim mereka. Sementara itu, tingkat penggunaan di Amerika Utara dan Asia cenderung mendatar setelah sempat melonjak tajam antara tahun 2023 dan 2024.
"Temuan dalam laporan FG500 tahun ini menandai momen yang sangat penting, tidak hanya bagi tindakan penyelamatan iklim tetapi juga bagi pasar karbon. Bagi perusahaan-perusahaan terkemuka, perdebatan sudah selesai, mereka kini fokus pada cara menggunakan pasar karbon dengan baik," kata Sheri Hickok, Kepala Eksekutif Climate Impact Partners.
"Masalahnya sekarang adalah kemampuan. Hal yang membedakan antar perusahaan bukan lagi soal apakah mereka menggunakan pasar karbon atau tidak, melainkan seberapa baik mereka menggunakannya untuk mencapai hasil. Sebab tanpa pasar karbon, banyak target nol emisi yang tidak akan bisa tercapai dengan kecepatan atau skala yang dibutuhkan saat ini," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya