Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 13 Juli 2024, 20:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerima 500 sampel dari eksplorasi maritim yang dilakukan oleh badan tersebut bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan OceanX.

500 sampel tersebut didapatkan dari tahap satu dan tahap dua eksplorasi di perairan Indonesia pada Mei 2024.

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto mengatakan, semua data survei dalam keadaan aman.

Baca juga: Kemenko Marves Sebut Industrialisasi Maritim Berpeluang Dikembangkan

"Data atau sampel diserahkan ke BRIN sehingga semua informasi adalah milik Indonesia," kata Nugroho di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor, Kamis (11/7/2024) dikutip dari situs web BRIN.

Nugroho menuturkan, pemerintah akan menggunakan data dan temuan penelitian dari misi tersebut guna mendesain dan penempatan area konservasi laut dan pengelolaan perikanan.

Data dan temuan tersebut juga akan dimanfaatkan sebagau landasan mitigasi bencana alam yang lebih baik tentang gempa bumi dan tsunami di Sumatera.

Hasil dari misi penelitian ini akan mendukung tujuan dan komitmen Indonesia terhadap Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2045.

Baca juga: Potensi Maritim RI Melimpah, Luhut Dorong Eksplorasi Lebih Jauh

Visi itu mencakup penciptaan kawasan konservasi laut di 30 persen wilayah perairan Indonesia, perikanan berbasis kuota, mendukung keselarasan Indonesia dengan Dekade Ilmu Pengetahuan Kelautan PBB, dan memahami perbaikan kondisi laut.

"Geosains dan informasi yang diperoleh akan digunakan dalam mitigasi, adaptasi, pemantauan, dan pengawasan iklim," tambah Nugroho.

Adapun empat topik penelitian utama dalam misi ini yaitu geologi kelautan, oseanografi, keanekaragaman hayati dan perikanan, serta ekologi mamalia laut.

"Misi ini juga akan menjadi peluang peningkatan kapasitas peneliti Indonesia untuk mempelajari metode penelitian baru dan mengembangkan kolaborasi lintas institusi," terang Nugroho.

Lebih lanjut Nugroho mengatakan, sebagian besar atau hampir seluruh proses ilmiah pada sampel-sampel yang diakuisisi di lapangan dapat dilakukan di dalam negeri, dengan kemampuan dalam negeri.

Baca juga: Keputusan Pengadilan Maritim PBB: Emisi Karbon Jadi Polusi Lautan

"Tentunya, kolaborasi dengan periset asing bisa menambah wawasan dan khasanah periset Indonesia tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang mutakhir," kata Nugroho.

Dia berharap periset Indonesia, baik dari perguruan tinggi maupun BRIN, dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada agar menghasilkan karya ilmiah unggul di tingkat global.

Sehingga, peran Indonesia di tingkat global dapat lebih signifikan.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana Fungsi Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN Darmawan mengaku, beberapa peneliti masih belum mengetahui akses data dan prosedur yang berlaku di BRIN.

"Selama ini, mereka khawatir dengan izin akses dan keamanannya. Tetapi hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena Direktorat Pengelola Koleksi dapat dipercaya akan melakukan penyimpanan sampel sesuai prosedur di BRIN. Dan hal ini sesuai dengan keinginan periset," tandasnya.

Baca juga: Data Geospasial Maritim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau