Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peta Potensi Panas Bumi Jawa Tengah

Kompas.com, 7 Mei 2023, 14:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Energi panas bumi adalah salah satu sumber energi terbarukan (EBT) yang potensinya melimpah ruah di Indonesia.

Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar karena dilewati cincin api pasifik atau ring of fire.

Lokasi potensi energi panas bumi di Indonesia tersebar di sepanjang jalur sabuk gunung api mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Baca juga: Potensi Panas Bumi di Indonesia Berdasarkan Pulau

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi energi panas bumi yang besar adalah Provinsi Jawa Tengah.

Dilansir dari situs Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, potensi panas bumi di Jawah Tengah mencapai 965 megawatt ekuivalen (MWe) yang tersebar di enam wilayah.

Berikut peta potensi panas bumi di Jawa Tengah:

Peta potensi panas bumi di Jawa Tengah.DINAS ESDM JAWA TENGAH Peta potensi panas bumi di Jawa Tengah.

  • Guci: 92 MWe
  • Dieng: 280 MWe
  • Umbul Telomoyo: 72 MWe
  • Ungaran: 110 MWe
  • Baturaden: 220 MWe
  • Gunung Lawu: 195 Mwe

Berdasarkan Buku Potensi Panas Bumi yang dirilis Kementerian ESDM pada 2017, teridentifikasi 331 titik potensi panas bumi yang tersebar di 30 provinsi.

Dari 331 titik potensi panas bumi tersebut, sebanyak 70 di antaranya telah ditetapkan sebagai 70 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan sisanya merupakan wilayah terbuka.

Masih menurut Buku Potensi Panas Bumi, terdapat enam WKP yaitu WKP Baturaden, WKP Candi Umbul Telomoyo, WKP Dataran Tinggi Dieng, WKP Guci, WKP Gunung Ungaran, dan WKP Gunung Lawu.

Baca juga: Investasi Pembangkit Panas Bumi Dorong Energi Bersih

PLTP di Jawa Tengah

Pemanfaatan energi panas bumi untuk tenaga listrik bisa dilakukan dengan membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Sejauh ini, di Jawa Tengah baru ada satu PLTP yang beroperasi yaitu PLTP Dieng yang terletak di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara.

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com, terdapat dua unit pembangkit yang beroperasi di PLTP Dieng dengan total 70 MW.

Baca juga: Kementerian ESDM Minta Dibangunkan Jalan Menuju Sumber Panas Bumi

Kedua pembangkit tersebut masing-masing adalah Dieng Unit 1 dengan kapasitas terpasang 60 MW dan Unit Small Scale Dieng sebesar 10 MW.

Total kapasitas terpasang dari dua unit di PLTP Dieng tersebut baru sebesar 70 MW. Padahal, potensi energi panas bumi di Dieng cukup besar yakni sekitar 450 MW ekuivalen.

Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah melaporkan, beberapa potensi panas bumi di Jawa Tengah saat ini sudah masuk dalam tahap eksplorasi.

Potensi WKP Guci 1x55 MW di Tegal yang dikembangkan oleh PT Spring Energy Sentosa, dan WKP Baturaden 2x110 MW di Purwokerto yang dikembangkan oleh PT Sejahtera Alam Energy.

Baca juga: Kementerian ESDM Dukung Pengembangan Panas Bumi untuk Pencapaian Target NZE 2060

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T
Pengamat: Program PLTS 100 GW Bisa Hemat Subsidi BBM Hingga Rp 21 T
LSM/Figur
Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025
Investasi Transisi Energi Global Tembus Rp 38 Triliun pada 2025
LSM/Figur
Jual Kucing Kuwuk lewat Jalur Darat, Pria di Sumatera Utara Ditangkap
Jual Kucing Kuwuk lewat Jalur Darat, Pria di Sumatera Utara Ditangkap
Pemerintah
Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI
Pemprov Jabar Buka Kemungkinan Kerja Sama Pemilahan Sampah pakai AI
Pemerintah
Target Nol Sampah Plastik 2040, Grab Luncurkan Panduan Kemasan untuk Mitra GrabFood
Target Nol Sampah Plastik 2040, Grab Luncurkan Panduan Kemasan untuk Mitra GrabFood
Swasta
Studi Ungkap Pemicu Hilangnya Hiu Putih di Australia Selatan Tiba-tiba
Studi Ungkap Pemicu Hilangnya Hiu Putih di Australia Selatan Tiba-tiba
LSM/Figur
Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik
Gajah Mati Terlilit Kawat Listrik di Aceh, Ahli Soroti Penggunaan Pagar Listrik
LSM/Figur
KKP Targetkan Perdagangan Karbon Biru Dimulai 2027
KKP Targetkan Perdagangan Karbon Biru Dimulai 2027
Pemerintah
Harapan Masyarakat Bukit Batu di Balik Proyek Hilirisasi Bauksit di Mempawah
Harapan Masyarakat Bukit Batu di Balik Proyek Hilirisasi Bauksit di Mempawah
BUMN
Mengenal Eco-Anxiety, Saat Krisis Iklim Bikin Cemas
Mengenal Eco-Anxiety, Saat Krisis Iklim Bikin Cemas
LSM/Figur
FPCI: Transisi Energi jadi Ajang Persaingan Global
FPCI: Transisi Energi jadi Ajang Persaingan Global
Pemerintah
Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim
Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim
LSM/Figur
Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance
Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance
Swasta
Kisah Mantan Kombatan GAM Kelola Perhutanan Sosial dan Tinggalkan Ilegal Logging
Kisah Mantan Kombatan GAM Kelola Perhutanan Sosial dan Tinggalkan Ilegal Logging
LSM/Figur
Karyawan Probation Berhak Dapat THR, Berapa Besarannya?
Karyawan Probation Berhak Dapat THR, Berapa Besarannya?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau