Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alarm Krisis Iklim, Suhu China Tembus 52 Derajat, AS Dilanda Gelombang Panas Ekstrem

Kompas.com - 19/07/2023, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Tingginya emisi GRK yang lepas ke atmosfer memerangkap lebih banyak panas matahari di Bumi hingga memicu perubahan iklim.

Perubahan iklim membuat pola cuaca menjadi kacau. Intensitas dan frekuensi suatu fenomena menjadi meningkat.

Contohnya, panas menjadi sangat ganas dan hujan menjadi semakin lebat seperti yang telah terjadi di berbagai belahan dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Dampak Jangka Panjang Perubahan Iklim Berdasarkan Benua

Menurut sebuah studi tahun 2023 oleh World Weather Attribution (WWA), perubahan iklim membuat gelombang panas setidaknya 30 kali lebih mungkin terjadi di Asia.

Pada April, Thailand mencatat hari terpanas dengan 45,5 derajat celsius. Di bulan yang sama, India mengalami suhu panas hingga 44 derajat celsius.

Dalam laporan terbaru yang diterbitkan awal tahun ini, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa kenaikan suhu 1,5 derajat celsius sangat mungkin terjadi.

Dan baru bulan lalu, para ahli memperingatkan bahwa tingkat emisi GRK berada pada titik tertinggi dalam sejarah, 50 persen lebih tinggi dari tingkat pra-industri.

Terjadinya gelombang panas tidak hanya terbatas di AS dan Asia. Bulan lalu, Juni, adalah bulan terhangat yang pernah tercatat secara global.

Baca juga: Perbedaan Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau