Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pola Pengasuhan hingga Makanan Instan Picu Tingginya Stunting di Sambas

Kompas.com, 3 September 2023, 09:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

SAMBAS, KOMPAS.com - Prevalensi anak stunting di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, terbilang masih cukup tinggi.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Sambas mencapai 30,5 persen. Angka ini mengalami penurunan bila dibandingkan 2021 yakni 32,6 persen.

Di sisi lain, prevalensi stunting di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia tersebut lebih tinggi dibandingkan Provinsi Kalimantan Barat yakni 27,8 persen pada 2022.

Baca juga: 1.000 Hari Pertama Kehidupan Bayi Penting Cegah Stunting, Ini Alasannya

Pejabat Subkoordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas Desi Haryuni mengatakan, tingginya stunting di sana disebabkan oleh berbagai faktor.

Pola pengasuhan yang tidak optimal, akses sanitasi yang kurang merata, dan pemberian makanan yang tidak tepat disinyalir menjadi beberapa penyebabnya.

Desi mencontohkan, dari segi pengasuhan, nenek memiliki peran yang cukup tinggi dalam mengasuh anak.

"Peran nenek masih kuat dalam hal pemberian makanan solid pada bayi," kata Desi kepada wartawan di Puskesmas Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Selasa (29/8/2023).

Desi menyampaikan, pemerintah kabupaten telah berkomitmen untuk mengentaskan kasus stunting dengan memprioritaskan dana kesehatannya.

Baca juga: Keluarga Rentan Stunting Dapat Bantuan Beras dan Telur 3 Bulan

Prioritas dana tersebut menyasar berbagai pemenuhan kebutuhan dan perbaikan kesehatan, khususnya perempuan, mulai dari gizi, pelayanan penyakit, sanitasi, dan lainnya.

Sementara itu, Desa Sungai Kumpai dan Desa Lela di Kecamatan Teluk Keramat menjadi contoh desa dengan prevalensi stunting tinggi di Kabupaten Sambas pada 2022.

Prevalensi stunting di Desa Sungai Kumpai menurut data Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) pada 2022 tercatat 36,36 persen. Angka ini turun pada Februari 2023 menjadi 25 persen.

Sedangkan di Desa Lela, prevalensi stunting pada 2022 dilaporkan mencapai 27,92 persen. Sedangkan pada Februari 2023, angkanya turun tipis menjadi 27,84 persen.

Kepala Puskesmas Sekura Elvira Ismail mengatakan, pola pengasuhan sangat berpengaruh besar terhadap tingginya kasus stunting di Desa Sungai Kumpai dan Desa Lela. Kedua desa tersebut masuk dalam wilayah pelayanan Puskesmas Sekura.

Baca juga: Kontribusi Sosial dan Lingkungan, Phapros Fokus Berdayakan UMKM dan Pengentasan Stunting

Kepala Puskesmas Sekura Elvira Ismail saat ditemui di Puskesmas Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (29/8/2023).KOMPAS.com/DANUR LAMBANG PRISTIANDARU Kepala Puskesmas Sekura Elvira Ismail saat ditemui di Puskesmas Sekura, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (29/8/2023).

"Ada kepercayaan lokal bahwa jangan kasih makan ikan ke anak balita karena takut cacingan," ujar Elvira.

Cakupan pemberian air susu ibu (ASI) ekslusif juga masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Pada 2022, pemberian ASI eksklusif baru mencakup 76 persen.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Induk dan Anak Gajah Ditemukan Tewas di Bengkulu, Kemenhut Telusuri Penyebabnya
Pemerintah
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
Percepat Transisi Energi, PLN Garap PLTS Mentari Nusantara I Berkapasitas 1.225 GW
BUMN
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Perancis Targetkan Bebas Energi Fosil pada 2050
Pemerintah
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Jadi Masalah Lingkungan dan Inefisiensi, Limbah Makanan Industri Perhotelan Disorot
Pemerintah
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Waspada Krisis Energi, India Imbau Warganya Pakai Listrik Sampai Pukul 17.00
Pemerintah
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Awas Ikan Sapu-sapu Rusak Ekosistem dan Ancam Ikan Lokal di Indonesia
Pemerintah
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
UT School Gelar Wisuda Nasional Mekanik Alat Berat Batch 37
Swasta
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah hingga 7 Mei 2026
Pemerintah
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Pemerintah
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Setelah Krisis Selat Hormuz, Ancaman Besar Masih Menanti Dunia
Pemerintah
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Sejarah Hari Buruh: Berawal dari Tuntutan Pekerja Kurangi Jam Kerja
Pemerintah
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
Rumah Tangga Tanggung Biaya Energi Fosil 3 Kali Lipat saat RI Kehilangan Windfall Tax Batu Bara
LSM/Figur
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau