Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 14 November 2023, 17:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati masuk dalam Papan Utama Pencatatan Saham Bursa Efek Indonesia (BEI), namun PT Metropolitan Land Tbk (Metland) belum melaporkan aktivitas penerapan pembangunan berkelanjutan untuk pilar Environment, Social, and Governance (ESG).

"Kami memang belum membuat laporan terkait ESG ini. Tapi sejak lama kami telah melakukan praktik-praktik pembangunan berkelanjutan. Kami rasa ESG Risk Ratings Perseroan mungkin low risk ya," ungkap Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan Metland Olivia Surodjo, menjawab pertanyaan Kompas.com, saat Public Expose, Senin (13/11/2023).

Menurut Olivia, praktik keberlanjutan yang dijalankan perseroan tak hanya sebatas mengalokasikan lahan yang dikuasai dan dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH), melainkan juga bahan baku dan barang reduce, recycling, dan reuse (3R).

Baca juga: Risiko Bisnis BSDE Paling Rendah di Antara Emiten Properti

Salah satu contohnya adalah pembuatan batu bata dengan bahan baku campuran 80 persen pasir silika dan 20 persen limbah plastik.

Direktur Eksekutif Metland Nitik Hening menjelaskan, batu bata campuran ini digunakan untuk membangun kantor-kantor pemasaran atau marketing gallery di proyek-proyek yang dikembangkan Metland.

"Selain itu, kami juga menggunakan batu bata ini untuk kantor-kantor pengelola perumahan di proyek kami," ujar Nitik.

Penggunaan air juga dirancang supaya dapat melalui proses 3R. Perseroan menghindari penggunaan air sekali buang, melainkan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keperluan menyiram tanaman, dan pembersihan jalan-jalan lingkungan.

Baca juga: Tingkat Risiko ESG Emiten Barang Baku Mayoritas Tinggi, Siapa Paling Parah?

Presiden Direktur Metland Anhar Sudradjat memastikan Perseroan akan tetap berkomitmen menerapkan praktik-praktik keberlanjutan, di luar aktivitas community developmentcharity atau tanggung jawab sosial (corporate social responsibility).

"Dan kami akan mengarah pada pelaporan aktivitas-aktivitas keberlanjutan tersebut," imbuh Anhar.

Untuk diketahui, di antara 28 emiten properti dan real estat yang tercantum pada Papan Pencatatan Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya delapan emiten yang memberikan laporan ESG.

Dan di antara delapan emiten ini, hanya dua yang tercatat berbisnis dengan risiko rendah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Ciputra Development tbk (CTRA).

BSDE mencatat skor ESG Risk 14,8 alias rendah risiko (low risk), dan CTRA mencatat skor 18,9. Sementara enam emiten lainnya menjalankan bisnisnya dengan risiko medium (medium risk).

Baca juga: Mayoritas Emiten Energi Punya Tingkat Risiko ESG Tinggi, Siapa Paling Parah?

Peringkat ESG Risk Ratings menjadi penting ketika investor menganalisis potensi investasinya pada masa depan, dan oleh karena itu hal ini tidak boleh diabaikan oleh perusahaan.

Sebagian besar pemeringkatan ESG Risk Ratings, termasuk Morningstar Sustainalytics yang menjadi acuan Kompas.com, mengukur eksposur perusahaan terhadap risiko dan peluang terkait E=environment (lingkungan), S=social (sosial), dan G=governance (tata kelola).

Berikut daftar lengkap delapan emiten dengan skor ESG Risk Ratings rendah hingga medium:

  1. PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan skor 14,8 (low risk)
  2. PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan skor 18,9 (low risk)
  3. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dengan skor 20,4 (medium risk)
  4. PT Kawasan Industri Jababeka (KIJA) dengan skor 23 (medium risk)
  5. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dengan skor 23,2 (medium risk)
  6. PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dengan skor 24,0 (medium risk)
  7. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dengan skor 25,7 (medium risk)
  8. PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) dengan skor 26,7 (medium risk)
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Pemerintah
Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
LSM/Figur
Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan
Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan
Swasta
Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
LSM/Figur
Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
LSM/Figur
Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon
Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon
LSM/Figur
Habiskan Waktu di Alam Bantu Jaga Kesehatan Mental Karyawan
Habiskan Waktu di Alam Bantu Jaga Kesehatan Mental Karyawan
LSM/Figur
Kurang Gerak akibat Panas Ekstrem Picu Lonjakan Kematian Dini
Kurang Gerak akibat Panas Ekstrem Picu Lonjakan Kematian Dini
LSM/Figur
Pemerintah Perlu Perkuat Diplomasi Global untuk Hadapi EUDR
Pemerintah Perlu Perkuat Diplomasi Global untuk Hadapi EUDR
Pemerintah
Bahaya Makanan Ultra-Proses UPF, Bisa Pengaruhi Ukuran Embrio
Bahaya Makanan Ultra-Proses UPF, Bisa Pengaruhi Ukuran Embrio
LSM/Figur
Akademisi IPB: Limbah Sawit Potensial jadi Produk Bernilai Tambah
Akademisi IPB: Limbah Sawit Potensial jadi Produk Bernilai Tambah
Pemerintah
Pertamina Perkenalkan Program Hutan Lestari di Sejumlah Daerah
Pertamina Perkenalkan Program Hutan Lestari di Sejumlah Daerah
BUMN
Merawat Sumber Air Kawasi di Pulau Obi demi Keberlanjutan Generasi Mendatang
Merawat Sumber Air Kawasi di Pulau Obi demi Keberlanjutan Generasi Mendatang
Swasta
Rasa Takut Jadi Pendorong Masyarakat Dukung Kebijakan Iklim
Rasa Takut Jadi Pendorong Masyarakat Dukung Kebijakan Iklim
LSM/Figur
WFH ASN 1 Hari Seminggu untuk Efisiensi BBM, Ahli Sebut Bisa Hambat Pelayanan Publik
WFH ASN 1 Hari Seminggu untuk Efisiensi BBM, Ahli Sebut Bisa Hambat Pelayanan Publik
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau