Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

COP28 Sepakati Dana Kerugian dan Kerusakan untuk Negara Miskin

Kompas.com, 1 Desember 2023, 16:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – KTT iklim PBB COP28 resmi dibuka pada Kamis (30/11/2023) di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

Hampir 200 negara sepakat untuk meluncurkan pendanaan guna mendukung negara-negara yang terkena dampak pemanasan global.

Kesepakatan bernama dana “kerugian dan kerusakan” yang telah lama diupayakan oleh negara-negara yang rentan terhadap perubahan iklim ini memberikan kemenangan awal dalam COP28.

Baca juga: Indonesia Kawal 4 Agenda Krusial dalam COP28

Dana tersebut akan disalurkan kepada negara-negara miskin mengatasi bencana iklim yang merugikan.

“Kami telah mengukir sejarah hari ini,” kata presiden COP28 Sultan Al Jaber ketika para delegasi berpelukan, bersorak dan memberikan tepuk tangan meriah, sebagaimana dilansir AFP.

Jaber mengatakan, keputusan penting dalam hari pertama COP tersebut dilakukan secara cepat, unik, fenomenal, dan bersejarah.

“Ini bukti bahwa kita bisa mewujudkannya. COP28 bisa dan akan terwujud,” ucap Jaber.

Para pemimpin dunia telah didesak untuk bergerak lebih cepat menuju masa depan energi yang ramah lingkungan dan melakukan pengurangan emisi yang lebih besar.

Baca juga: Presiden COP28 Bantah Investigasi BBC soal Kesepakatan Energi Fosil Jelang KTT

Fokus utama COP28 kali ini adalah meninjau kemajuan dunia dalam mengendalikan pemanasan global, serta penilaian capaian negara-negara dalam Perjanjian Paris.

Berukuran dua kali lipat dari COP27 tahun lalu, COP28 ini disebut-sebut sebagai KTT iklim terbesar yang pernah ada.

Lebih dari 140 kepala negara dan pemerintahan akan menyampaikan pidato pada Jumat (1/12/2023) dan Sabtu (2/12/2023), dimulai dengan Raja Inggris Charles III yang akan memulai pidatonya secara seremonial.

Pendanaan iklim telah menjadi isu utama dalam COP, di mana negara-negara kaya yang paling bertanggung jawab atas emisi tidak memenuhi janji mereka untuk mendukung negara-negara rentan yang terkena dampak paling parah.

UEA mengumumkan dana “kerugian dan kerusakan” senilai 100 juta dollar AS, diikuti oleh Uni Eropa sebesar 246 juta dollar AS.

Baca juga: Mengenal COP28 Dubai: Urgensi dan Pesertanya

Janji-janji lainnya diperkirakan akan diberikan dalam beberapa hari mendatang, namun jumlah tersebut sejauh ini masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan oleh negara-negara berkembang sebesar 100 miliar dollar AS.

“Kemajuan yang kami capai dalam membentuk dana kerugian dan kerusakan sangat penting bagi keadilan iklim, namun dana kosong tidak dapat membantu masyarakat kita,” kata Madeleine Diouf Sarr, ketua Group of the 46 Least Developed Countries.

Jaber meningkatkan kekhawatiran atas konflik kepentingan di tengah seruan untuk melakukan perundingan secara bertahap terhadap bahan bakar fosil di Dubai.

Menjelang pertemuan COP, Jaber terpaksa menyangkal bahwa dia memanfaatkan jabatannya sebagai Presiden COP28 untuk mencapai kesepakatan bahan bakar fosil baru.

Dalam pidato pembukaannya, Jaber mengatakan kepada para delegasi bahwa mereka harus memastikan dimasukkannya peran bahan bakar fosil dalam setiap perjanjian iklim final.

Baca juga: Jelang COP28, Industri Migas Dituntut Tetapkan Strategi Jelas Capai Netralitas Karbon

Dia juga memuji perusahaan-perusahaan minyak yang bersedia ikut serta dalam perundingan tersebut.

“Mereka bisa memimpin. Dan memimpin akan memastikan bahwa orang lain akan mengikuti dan mengejar ketinggalan,” ucap Jaber.

Sekretatis Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) PBB Simon Stiell dalam COP28 menegaskan pentingnya menyetop bahan bakar fosil untuk melawan perubahan iklim.

“Jika kita tidak memberikan sinyal bahwa era bahan bakar fosil akan segera berakhir seperti yang kita ketahui, maka kita menuju kemunduran yang kita alami sendiri,” ucap Stiell.

Baca juga: Investigasi BBC: UEA Dorong Kesepakatan Gas Bumi Jelang KTT Iklim COP28

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau