Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anemia hingga Pernikahan Dini, Penyebab Lahirnya Bayi Stunting

Kompas.com, 10 Januari 2024, 13:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Manusia mengalami proses pertumbuhan fisik dan perkembangan organ reproduksi yang cenderung meningkat saat masa remaja, sehingga membutuhkan gizi yang optimal.

Sayangnya, di usia tersebut, banyak dari kita yang sering mempunyai pola makan kurang tepat, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Sehingga mengakibatkan timbulnya masalah gizi seperti anemia dan Kurang Energi Kronis (KEK).

Anemia dan KEK dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain kekurangan asupan dalam waktu lama, kurangnya konsumsi makanan sumber Fe, serta sering mengonsumsi teh, kopi, terutama setelah makan.

Baca juga:

"Kondisi tersebut perlu ditangani segera karena remaja putri yang menderita anemia dan KEK berisiko menjadi ibu hamil anemia dan KEK yang nantinya melahirkan bayi stunting," kata Ketua Tim Pengabdi UI Diah M Utari, dikutip dari laman Universitas Indonesia, Selasa (10/1/2024).

Kegagalan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak tersebut dapat pula terjadi akibat adanya pernikahan dini. Perempuan yang menikah di usia remaja akan berebut zat gizi dengan janin yang dikandungnya.

"Selain berpeluang melahirkan bayi stunting, ibu muda yang hamil dengan anemia dan KEK juga berisiko meninggal saat melahirkan," imbuhnya. 

Pola gizi makan yang tepat

Untuk mencegah risiko tersebut, remaja putri diimbau mengikuti pola makan gizi seimbang dan mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) secara teratur.

Selain itu, remaja harus membiasakan perilaku hidup bersih dan aktif melakukan kegiatan fisik untuk mempertahankan berat badan.

“Tidak semua remaja putri mau mengonsumsi TTD yang diberikan dengan alasan rasa dan bau TTD yang tidak enak, tidak merasa perlu, dan efek samping yang timbul seperti tinja berwana hitam dan konstipasi," ujar Diah. 

Baca juga: Optimistis Stunting Jadi 14 Persen, Pemerintah Percepat Penyediaan Air Bersih

Oleh karena itu, Tim Pengabdi UI turun langsung ke lapangan untuk menginformasikan bahwa efek yang timbul setelah minum TTD tidak berbahaya dan TTD wajib diminum karena mempunyai efek jangka panjang yang sangat baik. 

Ia bersama tim pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) melalui Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) turun ke masyarakat memperluas promosi kesehatan, dan mengajak kelompok-kelompok potensial, seperti ustazah dan guru untuk terlibat dalam edukasi kesehatan.

UI gelar sosialiasi 

Pada Jumat (15/12/2023), Tim Pengabdi UI memberikan pembekalan pengetahuan seputar anemia remaja dan ibu hamil kepada ustadzah, guru SMA/sederajat, dan guru SMP/sederajat yang ada di Kelurahan Pasir Putih Kota Depok.

Menurut Diah, tujuan kegiatan tersebut agar ustadzah dan guru ikut berperan dalam upaya mempercepat penurunan anemia dan stunting di Kota Depok.

"Ustadzah diharapkan dapat membagikan pengetahuannya kepada jamaah dan masyarakat di sekitarnya termasuk remaja putri, sedangkan guru dapat menyebarkan pengetahuan tersebut kepada muridnya," kata dia. 

Baca juga: Cegah Stunting, Suami Perlu Jaga Psikologis Istri saat Hamil

Pada kegiatan tersebut, para peserta dibekali booklet berisi materi kesehatan dan gizi remaja putri. Booklet itu memuat lima materi utama, yakni Pertumbuhan Remaja, Gizi Seimbang dan Isi Piringku, Kebutuhan Gizi Remaja, Dampak Kurang Gizi pada Remaja, serta Gizi Remaja, Kehamilan, dan Stunting. 

Keseluruhan materi dalam booklet dijelaskan oleh Tim Pengabdi UI yang terdiri dari Asih Setiarini; Mardatillah, Latifah, dan M Imaddudin. 

Kegiatan edukasi tersebut diawali dengan pre-test dan diakhiri dengan post-test. Hasil tes menunjukkan adanya kenaikan skor pengetahuan gizi sebesar 30 persen. Edukasi ini mendapat antusiasme yang tinggi yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan dari para peserta terkait anemia yang dialami remaja putri. 

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau