Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo
Wadan Kodiklatad

Wakil Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat

Membangun Desa dengan Kemandirian dan Kewilayahan

Kompas.com, 6 Maret 2024, 10:40 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DESA punya potensi masing-masing, ia adalah lembaga yang sudah memiliki kelengkapan sehingga mampu berdiri di atas kakinya sendiri (Lestary & Hadi, 2021).

Kata-kata ini menunjukkan bahwa sebetulnya desa, sebagai institusi pemerintahan terendah sejatinya sengaja dibentuk dan dibangun oleh masyarakat karena memang sudah dianggap mampu dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Dalam tatanan pemerintahan Indonesia, keberadaan desa sudah jauh sebelum Indonesia ada. Di berbagai daerah terdapat nama-nama tersendiri seperti Nagari di Sumatera Barat, Huta di Sumatera Utara, Gampong di Aceh, Subak di Bali, dan sebutan lainnya.

Istilah desa adalah unit pemerintahan di Jawa yang kemudian dijadikan sebagai penyebutan untuk wilayah lain (Yenrizal, 2023). Kebijakan dalam UU No. 5/1974 dan UU No. 5/1979 adalah cikal bakal penyeragaman ini.

Setelah reformasi bergulir di 1998, barulah nama-nama tersebut dikembalikan ke daerah masing-masing.

Hakikatnya, desa atau sebutan lain adalah wilayah hukum yang memang memiliki kelengkapan perangkat, baik struktur pemerintahan maupun struktur sosial budaya yang menjamin keterlaksanaan tatanan kehidupan sosial budaya dan ekonomi.

Dengan kata lain, desa sebenarnya adalah otonom, punya kemampuan dan potensi sendiri-sendiri.

Berkaca pada hal itu, maka sejatinya desa-desa di Indonesia adalah wilayah mandiri dan berdaulat atas pelaksanaan pembangunan di daerahnya masing-masing.

Bukankah desa memiliki kekayaan masing-masing, entah itu berupa pasar desa, lahan pertanian, perikanan, persawahan, dan sebagainya. Memang setiap desa bisa saja bervariasi potensi yang dimiliki, tetapi mereka telah punya sesuai karakteristiknya.

Apabila kemudian desa-desa di Indonesia identik dengan ketertinggalan, ketergantungan, keterisoliran, saya rasa itu hanya satu dari sekian banyak desa yang sebetulnya sudah sangat mandiri.

Bisa juga karena opini yang mungkin lebih banyak sisi kepentingan tertentu untuk politisasi kehidupan di desa. Apapun itu, kita percaya bahwa di desa semua bermula dan di desa ada potensi serta kemandirian.

Liputan dari situs berita Mongabay menunjukkan kasus di Desa Gelebak Dalam, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, di mana desa ini berjuang dan kemudian mampu menunjukkan kemandirian, secara perlahan-lahan ingin tidak tergantung pada kucuran dana desa.

Desa yang sebelumnya terkenal dengan sentra api saat musim kemarau, sekarang mampu tampil sebagai desa dengan zero fire. Kehidupan ekonomi desa juga terus bergeliat dan berbagai potensi termasuk pengembangan sektor agrowisata jadi prioritas.

Begitu juga yang terjadi di Desa Huntu Selatan dan Desa Lamahu di Gorontalo, yang mampu menunjukkan kemandirian dan kebangkitan potensi melalui desa wisata serta pengembangan potensi energi.

Hal sama juga bisa dilihat di Desa Kamanggih, Sumba Timur yang mampu menunjukkan kemandirian sektor energi dengan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Swasta
Pakar Jelaskan Pengaruh MJO dan Topografi pada Pola Hujan Indonesia
Pakar Jelaskan Pengaruh MJO dan Topografi pada Pola Hujan Indonesia
LSM/Figur
Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
LSM/Figur
Perjanjian Laut Lepas PBB Mulai Berlaku, Upaya Besar Lindungi Samudera
Perjanjian Laut Lepas PBB Mulai Berlaku, Upaya Besar Lindungi Samudera
Pemerintah
Bahan Bakar Bersih Terancam Tertinggal Tanpa Lonjakan Investasi Global
Bahan Bakar Bersih Terancam Tertinggal Tanpa Lonjakan Investasi Global
Swasta
Sido Muncul Kembali Pulihkan Senyum Anak Indonesia di Wilayah Bogor
Sido Muncul Kembali Pulihkan Senyum Anak Indonesia di Wilayah Bogor
BrandzView
Kualitas Udara dan Air di China Meningkat pada 2025
Kualitas Udara dan Air di China Meningkat pada 2025
Pemerintah
KPA Catat 404 Ledakan Konflik Agraria, Reforma Agraria Belum Jadi Prioritas
KPA Catat 404 Ledakan Konflik Agraria, Reforma Agraria Belum Jadi Prioritas
LSM/Figur
Tahu Banyak Orang Peduli Aksi Iklim, Mengapa Tetap Enggan Berubah? Ini Penelitiannya
Tahu Banyak Orang Peduli Aksi Iklim, Mengapa Tetap Enggan Berubah? Ini Penelitiannya
LSM/Figur
Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati
LSM/Figur
Microsoft Beli 2,85 Juta Kredit Karbon, Disebut Terbesar di Dunia
Microsoft Beli 2,85 Juta Kredit Karbon, Disebut Terbesar di Dunia
Swasta
Gugatan KLH Soal Banjir Sumatera, Menteri LH Sebut Tak Boleh Diam Ketika Lingkungan Rusak
Gugatan KLH Soal Banjir Sumatera, Menteri LH Sebut Tak Boleh Diam Ketika Lingkungan Rusak
Pemerintah
Tumbuhan Ungkap Karakter Iklim dan Tanah Suatu Tempat
Tumbuhan Ungkap Karakter Iklim dan Tanah Suatu Tempat
Swasta
IWIP Target Pangkas 4 Juta CO2 per Tahun lewat PLTS hingga Truk Listrik
IWIP Target Pangkas 4 Juta CO2 per Tahun lewat PLTS hingga Truk Listrik
Swasta
Polusi Udara Dalam Ruangan Tingkatkan Risiko Kematian Dini
Polusi Udara Dalam Ruangan Tingkatkan Risiko Kematian Dini
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau