Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo
Wadan Kodiklatad

Wakil Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat

Membangun Desa dengan Kemandirian dan Kewilayahan

Kompas.com, 6 Maret 2024, 10:40 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Jejaring sosial pada dasarnya adalah kekuatan (Liu et al., 2017). Oleh karena itu, kemandirian desa akan terbantu dan diperkuat oleh jejaring yang dimilikinya.

Pada posisi ini, TNI sejatinya adalah salah satu mata rantai dari jejaring yang terbangun di pedesaan.

Ini menjadi keharusan karena melalui semangat Sishankamrata, TNI juga memandang bahwa masyarakat pedesaan pun adalah jejaring kekuatan yang harus didekati dan dibina hubungannya.

Ketahanan sosial masyarakat pedesaan pasti berhubungan dengan ketahanan bernegara secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, menjadi sangat wajar dan sudah seharusnya bila TNI selalu terlibat dalam berbagai aktifitas masyarakat pedesaan.

Bukan ingin mengintervensi tugas dan kewenangan aparat pemerintah setempat, tapi bagian dari memperkuat basis pertahanan. Desa adalah basis dasar Sishankamrata.

Terhadap potensi-potensi yang dimiliki oleh desa, TNI akan menjadi pihak yang melakukan dinamisator sekaligus menerapkan dan memprakikkan berbagai inovasi yang sudah dimiliki.

Fakta itulah yang terjadi di beberapa wilayah, seperti Gelebak Dalam di Sumatera Selatan, kawasan Pantai Selatan Jawa Barat, Pulau Mentawai di Sumatera Barat dan berbagai daerah lainnya.

Ragam inovasi dan teknologi dipraktikkan, seperti mesin penjernih air yang mampu mengolah air laut menjadi air siap minum, mesin pembuat es batu, mesin pengolah garam, dan sebagainya.

Teknologi terapan, yang belum merata dikenal masyarakat, berhasil diintervensi.
Intervensi dan kolaborasi ini tentu saja memiliki perbedaan dengan pendekatan-pendekatan yang diterapkan sektor swasta yang lebih menekankan sisi ekonomi.

Dalam konteks ini sangat diperlukan kehati-hatian dan komitmen yang kuat pada semua level bahwa kolaborasi adalah untuk kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa. Sasaran akhir adalah terwujudnya desa mandiri dan berdaulat.

Semangat berbagi adalah semangat yang dikembangkan, bukan semangat “menguasai”. Sisi ini yang perlu sekali diperhatikan, karena berbagai fakta menunjukkan dominannya semangat “menguasai”, berdampak pada kegagalan dalam membangun kemandirian.

Alih-alih mandiri, yang terjadi justru ketergantungan dan keterasingan, bersisian pula dengan ketidakadilan.

Pemberdayaan dengan menerapkan kolaborasi justru menciptakan dominasi baru, dan membangun bibit-bibit konflik dengan masyarakat setempat.

Konflik desa dengan perusahaan adalah bukti konkret kegagalan dalam memahami esensi berbagi, bukan menguasai.

Apapun itu mewujudkan desa yang mandiri dan berdaulat, tidak bisa berjalan sendiri, harus berkolaborasi, dan TNI sudah membuka ruang-ruang tersebut.

Kehadiran berbagai Komando Kewilayahan kemudian menjadi “tangan-tangan” yang langsung berjabatan dengan masyarakat di tingkat tapak. Tidak untuk melakukan militerisasi, tapi justru kolaborasi untuk memperkuat basis pertahanan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau