Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Pramono Dwi Susetyo
Pensiunan

Pemerhati masalah kehutanan; penulis buku

Merawat Bendungan di Tengah Krisis Iklim

Kompas.com, 3 Mei 2024, 17:29 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Bendungan bantuan pemerintahan Jepang (OECF) itu kondisinya memang kritis/gundul. Perlakuan lingkungan menjadi satu paket dengan pembangunan fisik waduk dan menjadi syarat mutlak dalam proposal yang diminta negara donor (OECF).

Umur atau masa pakai waduk dihitung dengan menimbang kekuatan badan bendung menahan air dengan mengabaikan faktor sedimentasi yang masuk dalam genangan waduk, karena sedimentasi yang masuk dalam genangan dianggap nol (tidak terjadi sedimentasi).

Untuk melindungi bendungan, DAS Jeneberang harus ditanami vegetasi kayu-kayuan. Dalam wilayah kawasan hutan yang telah kritis dapat ditanami jenis vegetasi kayu-kayu berdaun lebar dan perakaran yang dalam dengan jarak yang rapat 2 x 3 meter agar tanaman hutan ini kelak menyerap air hujan ke dalam tanah (infilitrasi) lebih besar dibanding mengalir di permukaan tanah (surface run off).

Untuk lahan kritis di luar kawasan hutan, namun masuk dalam kawasan lindung meski bisa ditanami tanaman pangan (semusim), harus dicampur dengan tanaman kayu-kayuan dengan sistem wana tani.

Jenis kayu-kayuan dalam sistem wana tani berupa jenis manfaat ganda seperti buah-buahan.

Sementara di daerah genangan waduk yang lahannya telah kritis perlu jenis vegetasi kayu berdaun lebar, perakaran dalam dan kuat serta memenuhi kriteria cepat tumbuh karena ancaman sedimentasi lahan kritis yang berada di atas genangan waduk sangat nyata dan cepat larut dalam genangan.

Ancaman lain bagi tanaman hutan yang berproses menjadi pohon dewasa bila berhasil tumbuh dengan baik adalah kebakaran saat musim kemarau.

Untuk menghindari dan menekan ancaman tersebut bisa dengan membuat sekat bakar setiap petak (25 hektare) atau blok (100-200 hektare) secara berkeliling dengan lebar tertentu (10-20 meter).

Bentuknya dapat berupa jalur kuning (tanah terbuka) maupun jalur hijau (ditanami dengan tanaman yang tahan api).

Sebagai kontrol, setiap blok dibuat menara pengawas setinggi 15-25 meter. Kantong-kantong air atau embung untuk cadangan air pada musim kemarau dan memadamkan api jika terjadi kebakaran.

Agar pohon tumbuh dewasa hingga usia 15-20 tahun, pemeliharaan perlu dengan penyulaman, pendangiran, hingga pemupukan.

Memulihkan tutupan hutan melalui rehabilitasi memang mahal, namun investasinya hanya 30 persen dari biaya membuat waduk. Sebab, bila rehabilitasi hulu waduk gagal, nasibnya seperti Bendungan Bili-bili.

Pengalaman pembangunan Bendungan Bili-Bili di Kabupaten Gowa Sulsel tahun 1994/1995 yang terlambat dalam perbaikan lingkungan di daerah atas genangan dan hulunya belum dapat berfungsi secara optimal mereduksi banjir, menjadi pelajaran berharga.

Buktinya pada 2019 lalu, Sulsel khususnya Kabupaten Gowa dilanda banjir bandang dan longsor. Isunya bendungan Bili-Bili jebol, meskipun berita ini tidak benar.

Ini mengindikasikan bahwa perlakukan lingkungan khususnya dengan rehabilitasi/revegetasi jenis tanaman kayu-kayuan yang diterapkan bagi daerah tangkapan air di hulu bendungan tersebut mengalami kegagalan.

Secara fungsional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) langsung maupun tidak langsung harus berperan aktif dan mendampingi pemulihan lingkungan daerah sekitar bendungan dan daerah hulunya.

Perlu dipikirkan untuk pembuatan persemaian permanen di daerah bendungan untuk menyuplai kebutuhan bibit rehabilitasi lahan daerah hulu dan genangan bendungan, sebagaimana KLHK membangun persemaian berskala besar untuk daerah destinasi wisata prioritas di Danau Toba Sumut, Labuan Bajo, NTT, Mandalika NTB dan Likupang di Sulut.

Rasanya, 61 bendungan yang telah dibangun tersebut perlu diperlakukan sama dengan daerah-daerah wisata prioritas dalam dukungan rehabilitasi lahannya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau