Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia dan OceanX Eksplorasi Laut Dalam secara Lima Tahap

Kompas.com, 25 Juni 2024, 07:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bekerja sama dengan OceanX, organisasi nirlaba global di sektor eksplorasi kelautan, resmi memulai "Misi Indonesia 2024".

Misi ini adalah bagian dari komitmen multi-tahun untuk eksplorasi keilmuan dan penelitian di wilayah perairan Asia Tenggara. Dengan tujuan memperluas pemahaman global tentang kawasan lautan dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan terancam.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan sebelumnya mengatakan, ada penemuan-penemuan inovatif yang akan dihasilkan dari ekspedisi laut ini.

Baca juga: NTTI Pasang Pembatas, Selamatkan Laut Bunaken dari Sampah Plastik

“Kemitraan ini telah dimulai sejak akhir tahun 2022, Kemenko Marves serta BRIN telah menandatangani perjanjian dengan OceanX untuk memastikan kemitraan ini dijalankan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," kata Luhut, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (24/6/2024).

Misi ini dimulai pada 8 Mei di Batam, Kepulauan Riau, dan akan berlanjut hingga 25 Agustus 2024 yakni berakhir di Bitung, Sulawesi Utara.

Ada lima tahap

Sepanjang lima tahap misi, OceanX, Kemenko Marves, dan BRIN akan memanfaatkan teknologi generasi terbaru, ilmu pengetahuan, dan penyampaian cerita yang menarik, untuk  menghubungkan dunia dengan lautan.

Adapun tahap pertama ekspedisi mencakup pemetaan lebih dari 7.500 kilometer persegi dasar laut Indonesia menggunakan OceanXplorer, kapal penelitian dan media tercanggih di dunia.

Kegiatan yang telah dilakukan, antara lain penyelaman dengan kapal selam untuk ilmuwan Indonesia, survei remotely operated vehicle (ROV), observasi karang laut dalam, serta penemuan rembesan hidrotermal dan termogenik di dasar laut. Survei juga dilakukan di lokasi asal tsunami tahun 2004.

Baca juga: Aksi Beach Clean-Up di Labuan Bajo Peringati Hari Laut Sedunia

Saat ini, tahap kedua Misi Indonesia 2024 terus melanjutkan penelitian oseanografi dan geofisika yang dilakukan pada tahap pertama. Sekaligus menambahkan fokus penting pada keanekaragaman hayati.

Fokus khusus pada babak kedua adalah pengelolaan perikanan di area Sumatera Barat. Berbagai metode serta teknologi dimanfaatkan guna membantu memahami karakter spesies ikan, megafauna, ekosistem terumbu karang, dan laut dalam, dalam rangka meneliti ekosistem laut dan keanekaragaman hayati di perairan tersebut.

Selama survei udara megafauna, OceanX menemukan ratusan lumba-lumba, Paus Omura, ikan pari manta samudera, dan tempat hiu karang bermukim.

Penelitian laut dalam 

Sementara itu, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa sejak tahun 2022, BRIN telah mendukung ekspedisi maritim dengan berlayar setiap tahunnya, menggunakan armada kapal penelitian BRIN dan bermitra dengan kapal asing seperti OceanXplorer.

"Program ini dibuat terbuka untuk semua ilmuwan berdasarkan open call dan kolaborasi yang kompetitif. Skema pendukungnya dimaksudkan untuk mendorong penelitian kelautan dan pemanfaatan sumber daya kelautan di seluruh wilayah perairan Indonesia,” ujar Handoko.

Baca juga: Berkat Laut dan Awan, Indonesia Masih Aman dari Gelombang Panas

Tim Peneliti Indonesia, yang terdiri dari perwakilan BRIN, universitas, dan Konservasi Indonesia, dipilih melalui proses permintaan partisipasi terbuka pada Januari 2023.

Proses ini memberikan kesempatan bagi seluruh peneliti Indonesia untuk berpartisipasi dalam kegiatan kapal, serta tahap pemrosesan dan analisis lanjutan untuk menghasilkan hasil yang signifikan.

"Kolaborasi ekspedisi antara periset Indonesia dengan OceanX bertujuan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati laut Indonesia yang belum terekspos," imbuh Handoko. 

Kontribusi BRIN dalam misi ini diharapkan dapat menghasilkan data dan informasi ilmiah tentang keanekaragaman hayati laut Indonesia.

Data dan informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan laut yang berkelanjutan, mengembangkan industri maritim yang inovatif, dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan laut.

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau