Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ubah Gaya Hidup Bisa Bantu Tangani Perubahan Iklim

Kompas.com - 25/06/2024, 05:00 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com- Dalam upaya mengatasi perubahan iklim, seseorang bisa mulai dari hal terkecil, yakni kebiasaan sehari-hari. 

Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Emilya Nurjani menjelaskan, perubahan iklim adalah perubahan yang terjadi pada suhu dan pola cuaca global dalam jangka waktu yang panjang.

Faktor alami seperti variasi aktivitas matahari atau letusan gunung berapi, dapat mempengaruhi iklim. Namun, kegiatan manusia juga telah menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perubahan iklim. 

Kendati terdengar besar dan kompleks, perubahan kecil yang dilakukan dalam jumlah yang banyak dan secara bersama-sama, akan dapat berdampak besar. Oleh karena itu, penting adanya perubahan dari diri sendiri. 

Baca juga: Perubahan Iklim Sebabkan Suhu Bumi 12 Bulan Sangat Panas

"Apa yang sebetulnya bisa kita lakukan (untuk mengatasi perubahan iklim)? Mengubah gaya hidup itu yang paling utama. Dari hal-hal kecil seperti (kebiasaan) makan, jalan kaki," ujar Emilya dalam Workshop "Penanganan Perubahan Iklim yang Berkeadilan (Climate Justice) di Indonesia" yang dipantau daring, Kamis (20/6/2024). 

Dia mencontohkan, dalam sepiring makanan berisi nasi dan lauk pauk seperti ayam, misalnya, telah melalui berbagai proses yang mengeluarkan emisi karbon. 

Maka, hal sederhana yang bisa dilakukan salah satunya dengan menghabiskan makanan sehingga tidak menyisakan sisa-sisa makanan (food waste), yang akan menghasilkan emisi gas metana dan berdampak pada pemanasan global. 

"Lalu kebiasaan jalan kaki, karbon yang dikeluarkan lebih sedikit daripada naik motor atau mobil. Kemudian naik tangga. Secara karbon (yang dikeluarkan) naik lift akan lebih besar daripada naik tangga," imbuh Emilya. 

Perubahan saat ini untuk masa depan

Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan tersebut harus diterapkan se-dini mungkin. Sebab, anak-anak akan lebih mudah dibentuk dan akhirnya kebiasaan positif itu akan terbawa hingga tua nanti. 

"Tidak perlu bicara yang besar-besar, segala sesuatu yang kita lakukan untuk diri kita sendiri, kemudian kita ajak teman, keluarga terdekat, komunitas, itu adalah sesuatu langkah yang besar," tutur Emilya. 

Kebiasaan baik lainnya yang bisa diterapkan, seperti memilah sampah, mengurangi pemakaian plastik, menghemat energi, hingga melakukan daur ulang. 

Sementara itu, Kadiv Keadilan Iklim dan Tata Kelola Lingkungan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Bella Nathania mengatakan pentingnya penanganan perubahan iklim yang berkeadilan. 

Keadilan Iklim adalah keadilan yang menghubungkan pembangunan dan hak asasi manusia untuk mencapai pendekatan berbasis hak dalam penanganan perubahan iklim.

Baca juga: Anak dan Generasi Muda Rentan Terkena Dampak Perubahan Iklim

Keadilan iklim memandang pemanasan global sebagai isu etika dan mempertimbangkan keterkaitan sebab dan akibatnya dengan konsep keadilan, terutama keadilan lingkungan dan keadilan sosial.

Keadilan iklim, kata dia, mempelajari berbagai isu seperti kesetaraan, hak asasi manusia, hak kolektif, dan tanggung jawab terkait perubahan iklim. 

"Keadilan antar generasi juga penting. Jadi memastikan bahwa apa yang kita nikmati sekarang, ini bisa dinikmati juga sama generasi yang akan datang, anak-anak dan cucu kita," ujar Bella. 

Dengan demikian, aksi-aksi penanganan perubahan iklim sederhana, sudah seharusnya dilakukan mulai saat ini, demi memastikan keadilan perubahan iklim untuk semua. 

 

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Swasta
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
LSM/Figur
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
LSM/Figur
Krisis Iklim Makin Parah,  WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
LSM/Figur
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pemerintah
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Pemerintah
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Swasta
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
LSM/Figur
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Pemerintah
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Pemerintah
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Pemerintah
'Circularity Tour', Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
"Circularity Tour", Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Pemerintah
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Pemerintah
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau