Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masuki Era Digital, Kekerasan Gender Berbasis Online Makin Mengancam

Kompas.com, 26 Juli 2024, 16:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Perkembangan teknologi komunikasi, khususnya internet, turut memunculkan kerentanan dan ancaman baru bagi remaja berupa kekerasan berbasis gender online (KGBO).

Kepala Pusat Riset Kependudukan (PRK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nawawi mengatakan, dari berbagai bentuk KGBO, non-consensual intimate image abuse (NCII) menjadi sebuah fenomena global. NCII adalah distribusi foto atau video intim seseorang tanpa sepengetahuan atau concern mereka.

"Hal ini memberikan konsekuensi meningkatnya kekerasan seksual terhadap perempuan," kata Nawawi dalam webinar bertajuk Reproductive Issues & Sexual Education (RISE), Kamis (25/7/2024), sebagaimana dikutip dari situs web BRIN.

Baca juga: Aturan Perlindungan Anak di Dunia Digital Harus Ditegakkan

Data dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan, sepanjang 2022 terdapat 82 kasus KGBO. 

Sementara data dari Kepolisian RI (Polri) mengungkapkan, ada 3.200 kasus penanganan kekerasan anak, termasuk kekerasan secara seksual melalui media sosial.

Sementara itu, Peneliti PRK BRIN Anastasia Septya Titisari menyampaikan, berdasarkan penelitian pada 2015, ada sekitar 5,3 persen remaja melaporkan pernah melakukan hubungan seksual.

"Kebanyakan mereka melakukan hubungan seksual pertama kali sebelum umur 15 tahun," kata Anastasia.

Di sisi lain, paparan teknologi informasi dan internet kini semakin masif dan bahkan dapat dijangkau sejak dini , termasuk mereka yang lahir antara 1997 hingga 2012 yang dikenal sebagai Generasi Z (Gen Z).

Baca juga: Evaluasi Pemilu 2024, Diskriminasi dan Kekerasan pada Perempuan Meningkat

"Sejak kecil, Gen Z sangat akrab dan fasih dengan teknologi dan sosial media, bahkan sangat tergantung pada internet," jelas Anastasia.

Dia menambahkan, internet turut memengaruhi gaya hidup, salah satunya motivasi penggunaan aplikasi kencan pada remaja. 

"Terdapat 13,9 persen remaja menggunakannya (internet) untuk mencari sex partner," urainya.

Ada lagi sebuah scooping review yang dilakukan pada 2023 menemukan, pengguna aplikasi kencan memiliki prevalensi yang cukup tinggi mengalami kekerasan seksual. 

Dia juga mengungkap studi yang sama bahwa perempuan merupakan kelompok yang berisiko mengalami kekerasan seksual dalam penggunaan aplikasi kencan.

Baca juga: 6 Tahun Terakhir, Komnas Perempuan Terima 308 Aduan Kekerasan Berbasis Gender

Anastasia mencontohkan kasus NCII di Australia meningkat hingga enam kali lipat di antara pengguna aplikasi kencan selama lockdown pandemi Covid-19.

"Sebuah kanal media Australia juga memaparkan, aplikasi kencan dapat menjadi senjata baru bagi para pelaku kekerasan seksual karena sifatnya yang anonim. Selain itu penghapusan akun tidak menjamin pelaku untuk berhenti melakukan aksinya," imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Awas KBGO Southeast Asia Freedom of Expression Net (SAFEnet) Wida Arioka membeberkan, aduan KBGO yang mereka terima sepanjang Januari-Maret 2024 mencapai 480.

"Perempuan merupakan yang paling terdampak sebanyak 62,1 persen. Tetapi laki-laki juga mengalami peningkatan menjadi 36,9 persen" bebernya.

Baca juga: Mahasiswa UNP Kembangkan Aplikasi Cegah Kekerasan Seksual Anak

Jika dilihat berdasarkan usia, usia 18-25 tahun menjadi kelompok yang sangat rentan dengan persentase aduan 57 persen, diikuti oleh kelompok usia di bawah 18 tahun sebesar 26 persen. 

"Jika dilihat dari jenis kasusnya, ancaman penyebaran konten menjadi kasus terbanyak dengan jumlah 253 kasus, kemudian diikuti oleh sextortion 90 kasus, dan NCII 73 kasus," ujar Wida.

Meski demikian, Wida menyatakan angka tersebut layaknya gunung es, karena masih belum diketahui seberapa besar kasus KGBO yang belum tercatat. 

Korban juga berpotensi mengalami dampak yang cukup besar seperti psikologi, ekonomi, keterasingan sosial, mobilitas terbatas atau dibatasi, dan menyensor diri karena merasa malu atau takut.

Baca juga: Anak Selalu Jadi Korban dari Kekerasan dalam Rumah Tangga

Aman di dunia maya

Agar lebih aman dalam menggunakan internet, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pengguna.

Di antaranya adalah melakukan inventarisasi atas seluruh aset digital serta memberikan pengaturan keamanan dan privasi, seperti verifikasi dua langkah dan mengubah kata sandi berkala. 

"Terkadang korban NCII apalagi yang punya hubungan dekat dengan pelaku, tidak menyadari bahwa ia sudah memberikan akses berbagai sosial medianya kepada pelaku," tuturnya.

Jika mengalami KBGO, Wida menyarankan korban untuk tetap tenang dan menyimpan segala barang bukti seperti tautan dan tangkapan layar. 

"Petakan risiko yang akan terjadi dengan mencari tahu siapa pelakunya, motif, di mana, kenapa, dan bagaimana ia melakukannya," jelas Wida. 

Jika berniat mengajukannya ke jalur hukum, disarankan mencari bantuan lembaga bantuan hukum terdekat untuk pendampingan dalam menyusun kronologi kasus.

Baca juga: Tantangan Jurnalis Saat Alami Kekerasan, Lambatnya Aparat Hukum

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau