Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Taman Bumi, Maros-Pangkep Diharapkan Jadi Situs Warisan Dunia

Kompas.com, 20 November 2024, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Setelah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Global Geopark alias Taman Bumi Dunia, kawasan karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan kini diharapkan menjadi World Heritage alias Warisan Dunia.

Hal tersebut disampaikan General Manager Badan Pengelola Kawasan Geopark Maros-Pangkep Dedy Irfan di sela Sosialisasi Kawasan Lindung Geologi yang diselenggarakan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Makassar, Selasa (19/11/2024).

"Kawasan bentangan karst merupakan kawasan lindung geologi yang harus diselamatkan, sehingga potensi ini diusulkan menjadi warisan dunia," kata Dedy, sebagaimana dilansir Antara.

Baca juga: 1.500 Mangrove Ditanam di Instalasi Tambak Silvofishery Maros

Dia mengatakan, kawasan bentangan karst dari Kabupaten Maros hingga Kabupaten Pangkep tersebut diharapkan dapat menyandang warisan dunia.

Dengan penetapan tersebut, lanjut dia, kawasan ini bukan hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga sumber daya alam geologi melalui pertambangan, termasuk kawasan konservasi Maros dan Pangkep.

Menurut dia, penetapan batas-batas kawasan taman bumi tersebut kurang lebih 5.000 hektare di wilayah darat.

Selebihnya berada di perairan sekitar pulau-pulau di Kabupaten Pangkep hingga ke kawasan Kepulauan Spermonde di Makassar.

"Ketika berbicara isu karst, maka ada dua hal. Yang pertama dari sudut ekonomi atau pemanfaatan termasuk di dalamnya pertambangan. Kedua isu perlindungan atau konservasi," jelas Dedy.

Pada kesempatan ini, lanjut dia, yang sedang dibahas adalah konservasinya. 

Sedangkan persoalan pertambangan itu sendiri tidak ada masalah sepanjang berada di kawasan atau zona pertambangan.

Mengenai aktivitas pertambangan yang dapat mengancam kawasan konservasi, Dedy mengatakan, akan sangat berefek terutama pada pemanfaatan air tanah.

"Tentu dengan pertambangan yang ada di sekitar kawasan konservasi diharapkan dilakukan dengan remaining yakni pascapenambangan dilakukan perbaikan lingkungan," ujar Dedy.

Baca juga: 6 Taman Nasional Indonesia yang Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau