Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompas.com Gelar FGD Bersama Pelaku Industri soal Hilirisasi Nikel

Kompas.com, 26 November 2024, 09:31 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kompas.com melalui program Lestari Eco Hub menggelar diskusi terbatas atau focus group discussion (FGD) bersama beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan, untuk membahas soal hilirisasi nikel, Senin (25/11/2024).

Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin menjelaskan, diskusi ini dilaksanakan untuk menghubungkan pemangku kepentingan serta berjejaring membicarakan isu terkait. 

“Industri mining (pertambangan) saat ini sedang ada isu yang sedang menghangat yakni hilirisasi. Di FGD kali ini kami membahas tema tentang hilirisasi nikel dan kontroversinya,” ujar Amir di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Senin.

Baca juga:


Menurutnya, FGD akan diselenggarakan dalam beberapa sesi. Amir menyebut, dalam sesi pertama, Kompas.com menghadirkan pihak selain pelaku industri agar mengkritisi kebijakan maupun memberikan pandangan mengenai keuntungan maupun kerugian hilirisasi nikel.

“Ada beberapa pembicara yang kritis soal bagaimana nikel ke depan, bukan perkara kita punya pasokan berlimpah terus kemudian nanti kita akan menanggung keuntungan dari situ. Ini masih banyak tantangan untuk kita bisa menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen di pemerintahan Prabowo,” ungkap Amir.

Secara bertahap, kata dia, FGD lainnya bakal membahas isu-isu lainnya dalam kaitannya dengan sustainability.

“Kami merespon konferensi perubahan iklim di Baku, Azerbaijan yaitu pentingnya negara-negara maju memikirkan benefit yang adil untuk negara-negara berkembang. Yang dia memiliki bahan baku berlimpah untuk mineral kritis, salah satunya nikel itu,” papar Amir.

“Ini penting karena selama ini kita sebagai negara berkembang tempat produksi mineral kritis ini. Tetapi kita tidak dapat benefit yang sepadan dibanding dengan kerusakan lingkungan hidup kita,” imbuh dia.

Pertemukan Stakeholders

Sementara itu, Penasihat Senior Green Asia Network Jalal menilai FGD merupakan wadah untuk mengemukakan berbagai pandangan. Kata dia, FGD tersebut bisa menghadirkan perspektif dari pengamat, aktivis, industri, hingga perusahaan induk.

“(Industri hilirisasi nikel) ke depannya seperti apa tergantung kita mau ngapain. Kami enggak bisa meramalkan apa pun, tetapi kita bisa merancang agar hilirisasi itu benar-benar diarahkan kepada sustainability,” ungkap Jalal.

Tak hanya perusahaan, semua pengaku kepentingan termasuk perbankan, investor, dan pemerintah harus mengedepankan keberlanjutan. Jalal menyebut, saat ini hilirisasi nikel berdampak positif maupun negatif terhadap negara.

Baca juga:


“Ada banyak hal positif, ada banyak hal negatif. Kita PR-nya masih banyak, ada banyak narasi yang enggak pas dan saya kira itu adalah gambaran semua isu yang ada di Indonesia,” ucap dia.

Adapun Lestari Eco Hub menghadirkan perwakilan pakar ESG dari Green Asia Network, Jalal, kemudian pengamat energi dari Energy Shift Putra Adiguna, Corporate Communication PT Indonesia Morowali Industrial Park Moch N Kurniawan.

Lainnya adalah General Manager Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk Tom Malik, Head Corporate Relationship Department PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Singapore Branch Josua Sijabat, serta Direktur Keuangan PT Mitra Murni Perkasa Achmad Zuhraidi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
LSM/Figur
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Pemerintah
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
LSM/Figur
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Swasta
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
Pemerintah
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Pemerintah
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
LSM/Figur
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
Pemerintah
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Swasta
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Pemerintah
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Swasta
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Pemerintah
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Pemerintah
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau