Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perdagangan Karbon Lintas Negara Bawa Kesempatan Sekaligus Tantangan bagi Pelaku Usaha Indonesia

Kompas.com, 6 Desember 2024, 17:18 WIB
Rafa Zahra Atifa,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Praktik jual-beli kredit karbon di Indonesia diselenggarakan melalui Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI). Kemudian, kredit ini dilelang kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia (IDX) Carbon sebagai penyelenggara bursa karbon.

Saat ini, transaksi kredit karbon di SRN-PPI dan IDX Carbon hanya dapat dilakukan antar-entitas yang berada di Indonesia.

Hal itu dilakukan karena adanya perbedaan standar metodologi dan jenis aksi mitigasi emisi yang diakui di antara berbagai negara. Selain itu, pembatasan tersebut juga dilakukan untuk mencapai target nationally determined contribution (NDC) Indonesia.

Ke depan, pembatasan transaksi antarnegara itu akan berubah setelah berlangsungnya Conference of the Parties (COP) ke-29 di Baku, Azerbaijan. Konferensi yang digelar pada November 2024 ini telah mengonfirmasi rencana pengembangan registry tingkat global, melalui penyeragaman metodologi dan jenis aksi mitigasi yang diakui.

Melalui penyeragaman itu, kredit karbon yang terdaftar di SRN-PPI dan IDX Carbon diperkirakan dapat diperdagangkan kepada pembeli internasional, dengan syarat registry karbon di Indonesia harus bisa menyelaraskan standarnya dengan standar global.

Potensi peningkatan permintaan kredit karbon di Indonesia

Perdagangan karbon lintas negara berpotensi meningkatkan permintaan kredit karbon dari entitas internasional, yang pada akhirnya mendorong potensi kenaikan harga kredit karbon di Indonesia.

Saat ini, harga karbon di Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Oleh karena itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pilihan utama dalam pengadaan kredit karbon untuk pasar internasional.

Berdasarkan data IDX Carbon per Oktober 2024, harga satu ton karbon (tCO2e) adalah sebesar Rp 58.800. Angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan harga satu ton karbon di pasar karbon China sebesar 103 yuan atau sekitar Rp 225.000 per Oktober 2024.

Bahkan, angka itu memiliki perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan pasar karbon Uni Eropa per Oktober 2024 dengan harga 65 euro atau sekitar Rp 1,1 juta.

Climate Change and Sustainability Services Leader Ernst and Young (EY) Indonesia Albidin Linda menilai, potensi peningkatan harga karbon domestik merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha di Indonesia.

“Pembukaan perdagangan karbon lintas negara memberikan keuntungan bagi pelaku usaha dengan strategi rendah karbon yang kuat, tetapi dapat menjadi beban bagi pelaku usaha yang masih berada di tahap awal merancang strategi tersebut,” ujar Albidin dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (6/12/2024).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pelaku usaha dengan strategi rendah karbon yang kuat akan memiliki berbagai aksi mitigasi yang dapat diperdagangkan pada pasar karbon sehingga berpotensi memperoleh margin dari peningkatan harga tersebut.

Sebaliknya, pelaku usaha dengan profil emisi tinggi mungkin akan melampaui Batas Atas Emisi (BAE) sehingga membutuhkan pengadaan kredit karbon yang mengalami kenaikan harga.

Keterbatasan kewajiban pelaporan emisi di Indonesia

Peraturan kewajiban pelaporan emisi di Indonesia saat ini masih cenderung minim. Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 16 Tahun 2022 hanya mewajibkan sektor ketenagalistrikan untuk mengadopsi skema BAE dan melaporkan emisinya.

Selain itu, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 51 Tahun 2017 mewajibkan pelaporan bagi perusahaan terbuka, perusahaan publik, dan lembaga jasa keuangan apabila emisi diidentifikasi sebagai topik material bagi perusahaan tersebut. Sementara itu, sektor dan lembaga lain belum dikenai kewajiban serupa.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau