KOMPAS.com – Studi terbaru yang diterbitkan di International Journal of Climatology menunjukkan, curah salju di Pegunungan Alpen menurun hingga 34 persen dalam dalam 100 tahun terakhir.
Ilmuwan dari pusat penelitian Eurac di Italia menyatakan, fenomena tersebut disebabkan karena perubahan iklim.
Studi ini menganalisis data curah salju musiman serta curah hujan dari 46 lokasi di Pegunungan Alpen, dari Prancis hingga Slovenia.
Baca juga: Kenapa Salju Tak Kunjung Turun di Gunung Fuji Jepang? Ini Penjelasannya
Para ilmuwan mengumpulkan data dari stasiun cuaca modern dan data historis catatan tangan di lokasi tertentu.
"Terdapat tren negatif yang nyata terkait curah salju di Pegunungan Alpen. Secara khusus, penurunan yang signifikan diamati setelah tahun 1980. Tanggal ini juga bertepatan dengan peningkatan suhu yang sama tajamnya,” ungkap Ahli Meteorologi Lingkungan di Eurac sekaligus penulis utama studi Michele Bozzoli dikutip dari Euro News, Rabu (10/12/2024).
Dia menegaskan, perubahan iklim mengubah wajah pegunungan tertinggi dan terluas di Eropa tersebut. Sementara itu, penelitian mengungkapkan penurunan rata-rata 34 persen curah salju di seluruh Pegunungan Alpen terjadi pada 1920-2020.
Tim ilmuwan menyampaikan, lereng barat daya gunung mengalami dampak paling besar. Bozzoli berkata, kendati curah hujan meningkat selama musim dingin, curah salju justru berubah menjadi hujan di ketinggian rendah seiring dengan kenaikan suhu akibat emisi gas rumah kaca.
Di daerah selatan, suhu kian meningkat sedemikian rupa. Bahkan, hujan seringkali mendominasi di ketinggian yang sama.
Baca juga: Es di Samudra Arktik Diprediksi Akan Mencair Lebih Cepat
“Trennya terjadi di bawah ketinggian 2.000 meter dan berada di wilayah selatan seperti Italia, Slovenia, dan sebagian Pegunungan Alpen Austria," papar Bozzoli.
Penurunan salju, menurut Bozzoli, berdampak negatif bagi lingkungan sekitarnya. Salju berperan sebagai reservoir untuk aliran air di pegunungan.
Hal ini juga berpengaruh terhadap olahraga ski dan pariwisata yang menjadi sumber ekonomi bagi warga sekitar.
"Penurunan salju tidak hanya berdampak pada olahraga musim dingin, tetapi juga pada semua aktivitas dan proses yang bergantung pada air. Aspek ini tidak bisa lagi diabaikan dalam perencanaan kebijakan pengelolaan air,” tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya