Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apakah Investor Kurang Peduli Terhadap Keberlanjutan?

Kompas.com, 12 Desember 2024, 20:08 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Survei Investor Institusional Ernst & Young 2024 mengungkap penurunan yang mengkhawatirkan dalam komitmen investor terhadap keberlanjutan.

Temuan survei ini berdasarkan pada pandangan 350 pembuat keputusan investasi dari berbagai lembaga termasuk perusahaan manajemen aset, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan perusahaan manajemen kekayaan, yang kemudian memetakan sentimen investor tentang kinerja ESG.

Laporan mencatat dalam 10 tahun terakhir tren investor yang makin peduli dan menanamkan ESG sebagai pertimbangan ke dalam pengambilan keputusan mereka meningkat.

Baca juga:

Namun, seperti dikutip dari Sustainability Magazine, Kamis (12/12/2024) survei juga mencatat bahwa ada kesenjangan yang jelas antara pernyataan tersebut dan apa yang mereka lakukan.

"Kami mulai menyurvei industri ini lebih dari satu dekade lalu dengan tren yang terus meningkat terhadap investor yang mengatakan ESG merupakan hal mendasar bagi pengambilan keputusan mereka," ungkap Salah satu penulis laporan, Matthew Bell, Pemimpin Global, Climate Change & Sustainability Services, EY.

"Akan tetapi tahun ini kami menilai secara kritis ada kesenjangan yang signifikan antara pernyataan dan tindakan," tambahnya.

Menurut laporan EY ada beberapa pertimbangan yang mendukung klaim tersebut, yakni sebanyak 88 persen investor yang disurvei telah meningkatkan penggunaan informasi ESG tetapi 92 persen khawatir inisiatif terkait ESG ustru merugikan kinerja perusahaan jangka pendek.

Meski pelaporan keberlanjutan meningkat, 66 persen investor mengatakan lembaga mereka cenderung mengurangi pertimbangan terhadap ESG dalam pengambilan keputusan.

Kemudian, Hampir dua pertiga (63 persen) investor yang disurvei mengatakan bahwa pergeseran dalam siklus bisnis adalah faktor yang paling akut atau substansial akan memengaruhi strategi investasi lembaga mereka selama dua tahun ke depan.

Temuan lainnya adalah 85 persen investor mengatakan bahwa greenwashing adalah masalah yang semakin memburuk, tetapi 93 persen yakin bahwa perusahaan akan memenuhi target keberlanjutan mereka.

Lebih lanjut, laporan menyebut investor mengakui pentingnya keberlanjutan secara ekonomi dan politik. Mereka juga memahami adanya nilai jangka panjang yang dihasilkan oleh perusahaan yang beralih ke model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Baca juga:

Kendati demikian temuan dari laporan juga merupakan gambaran yang mengkhawatirkan mengingat investor memiliki peran penting dalam mendorong pergerakan menuju ekonomi berkelanjutan.

Penyebab Kesenjangan

Menurut survei, faktor lain yang berkontribusi terhadap kesenjangan antara pernyataan dan tindakan investor adalah mereka tidak selalu mempercayai informasi yang diberikan oleh perusahaan.

Hal ini membuat mereka berhati-hati dalam mengalokasikan modal kepada bisnis yang mengklaim memiliki sertifikasi keberlanjutan.

"Empat dari lima investor yang disurvei untuk penelitian tersebut (85 persen) mengatakan bahwa greenwashing dan pernyataan menyesatkan tentang kinerja keberlanjutan perusahaan merupakan masalah yang lebih besar dibandingkan dengan lima tahun lalu," tulis laporan.

Ini adalah temuan yang meresahkan, membuat kita bertanya-tanya apakah kepercayaan investor terhadap informasi keberlanjutan perusahaan akan meningkat seiring dengan standar pelaporan dan keberlanjutan yang terus berkembang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Prabowo Bahas Percepatan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Timur Tengah
Pemerintah
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Belajar dari Rwanda, Konservasi Gorila Kini Jadi Sumber Devisa
Pemerintah
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
WWF Usulkan Transformasi Pembiayaan Hutan Indonesia untuk Keberlanjutan
Pemerintah
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Tekanan Rantai Pasok Global Belum Mereda, Industri Didorong Bangun Ketahanan Sistem
Swasta
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Biofoam Bonggol Jagung, Cara Siswa SMAN 1 Blora Atasi Dominasi Styrofoam
Swasta
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
Kesenjangan Gaji Berdasarkan Gender Makin Lebar pada Tahun 2026
LSM/Figur
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Rekor Global 2025, Kapasitas Energi Terbarukan Tumbuh 692 GW
Pemerintah
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Kompetisi Climate Impact Innovations Challenge Dibuka, Hadiahnya Capai Rp 15 miliar
Swasta
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Awasi Perusahaan Tambang di 14 Provinsi, KLH Tak Segan Bekukan Izin Lingkungan
Pemerintah
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
Fellowship Tanoto Foundation Dibuka, Bisa Dapat Pelatihan hingga Uang Saku
LSM/Figur
GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi
GASP Nilai Kebijakan Uni Eropa soal Sawit Tak Selesaikan Masalah Deforestasi
LSM/Figur
Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan
Program Bioetanol Berisiko Bebani Keuangan Negara dan Ancam Ketahanan Pangan
LSM/Figur
TLFF Diluncurkan Ulang, Dorong Pembiayaan Ekonomi Hijau di Indonesia
TLFF Diluncurkan Ulang, Dorong Pembiayaan Ekonomi Hijau di Indonesia
LSM/Figur
BNPB Catat Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Awal April 2026
BNPB Catat Banjir Rendam Sejumlah Wilayah di Awal April 2026
Pemerintah
Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair
Studi Ungkap 70 Persen Area Konservasi Laut Terkontaminasi Limbah Cair
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau