Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 17 Desember 2024, 09:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) melihat dampak krisis iklim dapat mengakibatkan kehilangan kearifan lokal yang dimiliki perempuan akibat kerusakan alam karena eksploitasi berlebihan.

Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional Uli Arta Siagian mengatakan, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), perempuan rata-rata berkontribusi memproduksi 60-80 persen pangan di sebagian negara berkembang.

Perempuan juga berkontribusi terhadap sebagian produksi pangan dunia dalam kontribusinya di setiap subsistem pertanian.

Baca juga: Rembuk Perempuan Pesisir Dorong Layanan Air Bersih hingga Pengelolaan Sampah

Akan tetapi, krisis iklim yang dihadapi dunia daat ini dapat mengakibatkan penurunan sumber pangan.

Pada akhirnya, situasi ini dapat berdampak kepada perempuan sebagai salah satu aktor penting dalam rantai produksi pangan.

Tidak hanya itu, penurunan sumber pangan juga akan berpengaruh terhadap kearifan lokal yang dimiliki perempuan terkait pangan dan obat-obatan tradisional yang dimiliki sejak lama.

"Lalu kemudian perempuan kehilangan pengetahuan lokal terhadap pangan dan obat-obatan tradisional, akibat rusaknya hutan dan hilangnya biodiversitas," kata Uli, sebagaimana dilansir Antara, Senin (16/12/2024).

Baca juga: Keterlibatan Perempuan dalam Pengelolaan Lahan Mutlak Diperkuat

Hutan, terutama bagi masyarakat adat, menjadi supermarket bagi warga lokal untuk mendapatkan pangan dan sumber obat-obatan. 

Kehilangan hutan berarti pengetahuan pangan dan obat-obatan tradisional yang kebanyakan dimiliki oleh perempuan di dalam sebuah komunitas adat, juga akan hilang.

Krisis iklim yang berdampak kepada air juga akan berpengaruh terhadap entitas perempuan. 

Dia memberikan contoh bagaimana air bersih sangat penting untuk memenuhi hak reproduksi perempuan.

Baca juga: Perempuan Berperan Penting Atasi Perubahan Iklim, Penggerak Solusi Inovatif

Sehingga kehilangan air bersih dapat menambah kerentanan mereka terhadap penyakit reproduksi.

"Hilangnya ekonomi rakyat yang bertumpu pada alam akan membuat perempuan terlempar ke sektor padat karya, menjadi buruh kerja murah, sementara mereka masih dibebankan oleh kerja-kerja reproduksi sosial sepenuhnya," ujar Uli.

Dia juga memberikan contoh bagaimana di pedesaan perempuan mengerjakan banyak tugas sekaligus mulai dari istri yang mengurus suami, ibu yang mengurus anaknya, buruh tani, dan mengerjakan pekerjaan serabutan lainnya.

Baca juga: Inisiatf G2C2, Membentuk Pemimpin Perempuan untuk Masa Depan Berkelanjutan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau