Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim, Indonesia Alami Tambahan 122 Hari Suhu Panas pada 2024

Kompas.com, 27 Desember 2024, 17:15 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru dari World Weather Attribution (WWA) dan Climate Central menunjukkan, krisis iklim memicu hari dengan gelombang panas yang lebih panjang pada 2024.

Gelombang panas adalah kondisi yang menyebabkan suhu udara naik secara signifikan dalam waktu singkat, melebihi batas normal musim panas.

Para peneliti menyebutkan, hampir setengah dari negara-negara di dunia mengalami suhu panas yang berisiko bagi kesehatan selama dua bulan. Penduduk di negara kepulauan Karibia dan Pasifik paling terdampak suhu panas yang berbahaya tersebut.

"Di sekuruh dunia, suhu harian yang cukup panas sampai membahayakan kesehatan manusia menjadi lebih umum karena perubahan iklim," ungkap peneliti Climate Central Joseph Giguere dikutip dari The Guardian, Jumat (27/12/2024).

Mereka mencatat, Inggris, Amerika Serikat dan Australia juga mengalami periode suhu tinggi tambahan selama tiga minggu akibat polusi bahan bakar fosil.

Pada November 2024, krisis iklim memicu terjadinya puluhan gelombang panas yang sebelumnya dianggap tidak mungkin terjadi.

Baca juga: BMKG: Perubahan Lanskap Salah Satu Penyebab Suhu Panas di Jakarta 

Peneliti mengidentifikasi hari dengan suhu panas berbahaya dengan menghitung suhu ambang batas 10 persen dari 1991-2020. Lalu, mereka membandingkan jumlah hari yang melampaui ambang batas pada 2024 dengan skenario hari tanpa pemanasan global.

Hasilnya memperlihatkan, rata-rata manusia terpapar suhu panas berbahaya selama 41 hari. 

Tim peneliti menyebutkan, Indonesia, Singapura hingga Amerika Tengah mengalami 122 hari tambahan dengan suhu panas berbahaya.

Sementara itu, Arab Saudi mengalami 70 hari panas tambahan dengan 1.300 jemaah haji meninggal karena suhu panas ekstrem pada tahun ini.

Brasil dan Bangladesh mengalami sekitar 50 hari tambahan cuaca panas. Kemudian, Spanyol, Norwegia, dan negara-negara Balkan mengalami satu bulan tambahan dengan suhu tinggi.

Wakil Presiden Bidang Sains di Climate Central, Kristina Dahl, mengatakan, badai juga menjadi lebih kuat akibat krisis iklim di 2024.

“Analisis kami menunjukkan bahwa badai Atlantik tahun ini menjadi lebih kuat akibat perubahan iklim, dan bahwa badai Beryl dan Milton, yang keduanya merupakan badai kategori lima, tidak akan mencapai level tersebut jika bukan karena perubahan iklim," ungkap Dahl.

Menghentikan Sumber Krisis Iklim

Para peneliti memperkirakan, 2024 akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah. Karena itu, upaya mengatasi sumber krisis iklim harus dilakukan dengan memangkas emisi dan menyetop pembakaran batu bara, minyak, serta gas.

Baca juga: Perubahan Iklim Makin Mengkhawatirkan, Rekor Suhu Panas Selalu Terlampaui 

Mereka tak menutup kemungkinan, banyak orang yang tak terhitung jumlahnya meninggal karena pemanasan global dalam beberapa dekade terakhir.

“Banjir di Spanyol, badai di AS, kekeringan di Amazon, dan banjir di seluruh Afrika hanyalah beberapa contoh. Kita tahu persis apa yang perlu kita lakukan untuk menghentikan keadaan menjadi lebih buruk, yakni menghentikan pembakaran bahan bakar fosil," ucap pimpinan WWA Friederike Otto.

Pihaknya menekankan perlunya sistem peringatan dini yang lebih baik untuk melaporkan ataupun mencegah kematian akibat suhu panas harus dilakukan. Sebab, sebagian besar negara di dunia tidak melaporkan soal gelombang panas. Otto mengatakan, dampaknya ialah angka kematian akibat gelombang panas kemungkinan mebih besar daripada yang diperkirakan.

"Jika kita tidak dapat mengomunikasikan dan meyakinkan bahwa sebenarnya banyak orang yang meninggal, akan jauh lebih sulit untuk meningkatkan kesadaran bahwa gelombang panas merupakan peristiwa ekstrem yang paling mematikan," ucap dia.

Baca juga: Suhu Panas Sebabkan 47.000 Kematian di Eropa Tahun 2023

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Google Klaim Berhasil Kurangi Emisi Meski Konsumsi Listrik AI Meningkat
Google Klaim Berhasil Kurangi Emisi Meski Konsumsi Listrik AI Meningkat
Swasta
Studi Perkirakan Gelombang Panas Juni di Eropa Renggut Nyawa 20.000 Orang
Studi Perkirakan Gelombang Panas Juni di Eropa Renggut Nyawa 20.000 Orang
Pemerintah
Yunani Akan Bayar Nelayan untuk Buru Ikan Buntal Invasif
Yunani Akan Bayar Nelayan untuk Buru Ikan Buntal Invasif
Pemerintah
Gelombang Panas di Perancis Tewaskan 2.025 Orang dalam Sepekan
Gelombang Panas di Perancis Tewaskan 2.025 Orang dalam Sepekan
Pemerintah
Kekhawatiran K3 Membayangi Peluang Kerja di Kawasan Industri Nikel Morowali
Kekhawatiran K3 Membayangi Peluang Kerja di Kawasan Industri Nikel Morowali
Swasta
Terinspirasi Kearifan Betawi, Warga Setu Kelola Sampah Organik dengan 'Biopori Gede'
Terinspirasi Kearifan Betawi, Warga Setu Kelola Sampah Organik dengan "Biopori Gede"
LSM/Figur
Kerugian Ekonomi Akibat Makanan Tak Aman Masih Tinggi, BPOM Gandeng IPB Jalankan KKN Tematik
Kerugian Ekonomi Akibat Makanan Tak Aman Masih Tinggi, BPOM Gandeng IPB Jalankan KKN Tematik
Pemerintah
Skema EPR Baru: Sampah Susah Didaur Ulang, Produsen Sampah Bayar Lebih Mahal
Skema EPR Baru: Sampah Susah Didaur Ulang, Produsen Sampah Bayar Lebih Mahal
Pemerintah
Jakarta Jadi Barometer Keberhasilan Kebijakan Tanggung Jawab Produsen Atasi Sampah
Jakarta Jadi Barometer Keberhasilan Kebijakan Tanggung Jawab Produsen Atasi Sampah
Pemerintah
El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
Pemerintah
Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
LSM/Figur
Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Swasta
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
LSM/Figur
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau