Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sebanyak Apapun, Sawit Tetap Bukan Hutan, Kenapa?

Kompas.com, 5 Januari 2025, 18:02 WIB
Add on Google
Yunanto Wiji Utomo

Editor

Sumber

KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia perlu memperluas lahan perkebunan kelapa sawit tanpa perlu takut hutan Indonesia mengalami deforestasi. "Saya kira ke depan kita juga harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut," ujar Prabowo.

"Apa itu katanya membahayakan, deforestation. Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?" lanjut Prabowo dalam pidatonya di acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) pada 30 Desember 2024 lalu.

Pidato Prabowo ini menimbulkan pro dan kontra di masyarakat Indonesia. Para pegiat lingkungan dan konservasionis, terutama, meradang. Mereka angkat bicara agar masyarakat Indonesia maupun para pemimpinnya punya wawasan dan tingkat literasi lingkungan yang lebih baik lagi ke depannya.

Dalam isi pidatonya, Prabowo seolah menyamakan lahan sawit seperti hutan dan menyamakan kelapa sawit dengan pohon lainnya di hutan. Mengapa ini adalah pernyataan yang salah? Dan mengapa pohon kelapa sawit sebanyak apa pun tak bisa dianggap sebagai hutan?

Baca juga: Jangan Balikkan Kemajuan, Jangan Dukung Sawit dengan Cara Salah

Wong Ee Lynn pernah menjelaskan dalam sebuah tulisan di Malaysiakini bahwa perkebunan kelapa sawit tidak dapat tergolong dalam kategori hutan rimba, atau lebih tepatnya hutan, karena perkebunan tersebut terdiri dari tanaman monokultur. Artinya lahan kelapa sawit itu hanya terdiri atas satu jenis tanaman yang jumlahnya banyak di suatu area pada waktu yang sama.

"Ekosistem hutan yang beragam menyediakan keseimbangan alami untuk menjaga kesehatan tanah dan tanaman," tulis Lynn. "Sebaliknya, perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, bakterisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru beberapa cara alam melindungi tanaman."

Seiring berjalannya waktu, hama, gulma, dan jamur berevolusi menjadi kebal terhadap bahan kimia, dan petani akhirnya menggunakan semakin banyak bahan kimia pada tanaman monokultur, dan hal ini pada gilirannya berdampak buruk pada ekosistem alami dan kesehatan manusia.

Di perkebunan monokultur, tidak ada varietas tanaman yang secara alami menyediakan nutrisi bagi tanah, seperti legum pengikat nitrogen, atau tanaman penutup tanah yang meningkatkan kandungan nutrisi lapisan atas tanah, atau berbagai tanaman dengan kedalaman akar yang berbeda untuk mengurangi erosi.

Di lahan sawit ini jelas jumlah spesies mikroorganisme dan bakteri menguntungkan di dalam tanahnya lebih sedikit. Selain itu, tidak ada berbagai spesies serangga untuk memastikan bahwa satu populasi tidak tumbuh terlalu besar dan merusak terlalu banyak tanaman.

Pembukaan lahan kelapa sawit jelas merupakan bentuk deforestasi terhadap hutan-hutan alam. "Perkebunan merupakan ancaman langsung bagi hutan," tegas Lynn.

"Di perkebunan monokultur, tanaman penutup tanah dihilangkan, sehingga tidak ada lagi perlindungan alami terhadap erosi tanah," jelasnya. "Tanah yang terdegradasi menjadi tidak dapat digunakan untuk pertanian setelah beberapa tahun."

Di lahan sawit ini jelas jumlah spesies mikroorganisme dan bakteri menguntungkan di dalam tanahnya lebih sedikit. Selain itu, tidak ada berbagai spesies serangga untuk memastikan bahwa satu populasi tidak tumbuh terlalu besar dan merusak terlalu banyak tanaman.

Pembukaan lahan kelapa sawit jelas merupakan bentuk deforestasi terhadap hutan-hutan alam. "Perkebunan merupakan ancaman langsung bagi hutan," tegas Lynn.

Baca juga: Perluasan Lahan Sawit Dikhawatirkan Ancam Eksistensi Lahan Pangan

"Di perkebunan monokultur, tanaman penutup tanah dihilangkan, sehingga tidak ada lagi perlindungan alami terhadap erosi tanah," jelasnya. "Tanah yang terdegradasi menjadi tidak dapat digunakan untuk pertanian setelah beberapa tahun."

Studi ilmiah yang dipublikasikan menunjukkan bahwa hutan seluas 300 lapangan sepak bola ditebang setiap jam atau mengalami deforestasi untuk memberi ruang bagi perkebunan kelapa sawit. Selain merusak tanah, perkebunan kelapa sawit juga boros air karena menyedot banyak sumber air.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau