KOMPAS.com - Survei baru yang melibatkan pendaki gunung berpengalaman bersama para ilmuwan menemukan partikel ban kendaraan yang aus menjadi sumber polusi nanoplastik terbesar di pegunungan Alpen.
Studi perintis tersebut merupakan penilaian global pertama tentang nanoplastik, partikel plastik yang mudah terbawa angin.
"Ini menjadi studi global pertama tentang polusi nanoplastik. Kita perlu menetapkan dasar tersebut sehingga kita bisa melihat kembali beberapa dekade mendatang dan melihat apakah keadaan menjadi lebih baik lebih buruk," ungkap Dr. Dušan Materi?, dari Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz di Leipzig, Jerman.
Studi ini juga akan membantu mengidentifikasi sumber nanoplastik dan memandu upaya untuk mengurangi polusi.
Seperti dikutip dari Guardian, Rabu (5/2/2025) jutaan ton sampah plastik dibuang ke lingkungan dan banyak yang terurai menjadi fragmen-fragmen kecil seperti nanoplastik.
Baca juga:
Nanoplastik ini memiliki ukuran lebih kecil dari mikroplastik sehingga sulit dikumpulkan dan dianalisis.
Peneliti pun khawatir mengenai dampak kesehatan dari nanoplastik yang mungkin lebih berbahaya daripada mikroplastik karena mampu menembus membran sel dan tetap bersarang di dalam tubuh.
Dalam survei ini, tim mengumpulkan sampel dari 14 lokasi di Pegunungan Alpen Prancis, Swiss, dan Italia.
"Tempat-tempat terpencil ini sangat penting untuk dianalisis karena kita ingin mengetahui sebanyak mungkin polusi plastik di dunia," kata Materi?.
Dari sana, para ilmuwan menganalisis nanopartikel untuk mengetahui keberadaan senyawa seperti polietilena, polietilena tereftalat, polipropilena, polivinil klorida, polistirena, dan partikel keausan ban.
Dari 14 lokasi terpencil, para peneliti mendeteksi polusi nanopartikel dalam sampel dari lima lokasi.
Nanoplastik yang paling banyak adalah partikel ban (41 persen), kemudian polistirena (28 persen) dan polietilena (12 persen).
Studi sebelumnya sendiri mengungkap setiap ban pada 1,6 miliar kendaraan di dunia dapat kehilangan 4 kg selama masa pakainya dan mungkin menjadi sumber polusi plastik kecil terbesar.
Studi terpisah yang diterbitkan akhir tahun 2022 mengungkapkan pula temuan yang mengkhawatirkan. Polusi yang berasal dari ban kendaraan bisa jadi 2000 kali lebih buruk daripada polusi dari knalpot kendaraan.
Baca juga:
Prof Andreas Stohl, dari Universitas Wina, Austria yang tidak menjadi bagian dari tim studi menambahkan peta global nanoplastik akan membuka jalan baru yang penting.
Ia mengatakan nanoplastik menjadi perhatian khusus bagi kesehatan karena, tidak seperti kebanyakan mikroplastik, nanoplastik dapat menembus paru-paru dan memasuki aliran darah.
Akan tetapi ia mencatat sampel Alpen tersebut dikumpulkan pada musim panas sehingga menurut Stohl itu dapat mempersulit penafsiran hasil. Salju yang mencari saat musim panas dapat mengumpulkan atau malah dapat menghilangkannya.
Orang-orang diketahui mengonsumsi partikel plastik kecil melalui makanan dan air, serta menghirupnya.
Dampaknya terhadap kesehatan belum diketahui, tetapi mikroplastik telah terbukti menyebabkan kerusakan pada sel manusia di laboratorium dan telah dikaitkan dengan stroke dan serangan jantung.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya