Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 21 Februari 2025, 07:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Tambak budi daya udang berkelanjutan yang dikembangkan di Desa Lalombi, Donggala, Sulawesi Tengah disebut diminati oleh investor asing, khususnya dari Jepang.

Sistem yang diberi nama Climate Smart Shrimp Farming (CSSF) tersebut dikembangkan oleh perusahaan rintisan, JALA, bersama para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas Kehutanan Universitas Tandolako, dan Yayasan Konservasi Indonesia.

CEO JALA Aryo Wiryawan mengatakan, investor dari Jepang datang ke lokasi tambak.

Baca juga: Tekstil Berkelanjutan Indonesia Dipamerkan di Source Fashion London

"Mereka tertarik mempelajari inovasi tambak kita, kemudian berinvestasi dan mengembangkannya juga," kata Aryo sebagaimana dilansir Antara, Kamis (20/2/2025).

Tambak tersebut merupakan sistem budi daya udang berkelanjutan yang perdana dilakukan secara nasional untuk tujuan memulihkan ekosistem mangrove.

Sistem tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan hasil produksi tambak udang dengan cara yang ramah lingkungan.

Aryo menjelaskan, dari 12 hektar lahan mereka di Desa Lalombi, tidak semua digunakan untuk menjadi tambak udang, tetapi dibagi secara proporsional sesuai dengan hasil kajian para peneliti.

Berdasarkan desain rencana, hanya seluas 3,5 hektar lahan dibangun untuk tambak pembiakan udang.

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas, Ini Inovasi APRIL Group dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Lahan lainnya ditanami mangrove dan dibuat kolam instalasi pengolahan air limbah (IPAL) demi memaksimalkan proses penyaringan alami air dengan luas sekitar 6,5 hektare.

"Dilakukan seperti ini, karena fokus CSSF bukan pada tambak udangnya, tetapi keberlanjutan lingkungan, dan sirkulasi hidrologinya yang mesti dijaga," kata Aryo.

Ia menambahkan, skema pemanfaatan lahan jadi aspek yang diperhitungkan secara rinci demi menyukseskan proyek DSSF senilai 1,2 juta dollar AS ini.

Aryo menjabarkan, prinsip kerja dari sistem CSSF yang mereka kembangkan adalah untuk memanajemen air supaya tetap berkualitas baik.

Mulai dari air laut yang dipompa masuk mengalir ke saluran masuk untuk mengisi tambak pembiakan udang.

Baca juga: Cara Produksi Hidrogen Berkelanjutan Dikembangkan, Bebas Emisi Karbon

Selanjutnya, dalam siklus budi daya atau sekitar per empat bulan (120 hari) sekali, air dari tambak udang itu akan dialirkan kembali ke laut melalui rangkaian pipa yang melintasi kolam IPAL dan area mangrove terlebih dulu.

"Dikatakan berhasil jika air masuk dan air keluar itu sama jernih atau netral. Produksi mencapai target sekitar 35 ton per siklus. Nah bagian ini yang mereka ngotot sekali. Ingin tahu detail, bagaimana rangkaian pipa dan sistem pompanisasi yang tim teknik kami bangun untuk CSS ini," kata dia.

Aryo mengaku tak terkejut dengan tingginya minat dari orang Jepang untuk berinvestasi pada budi daya udang berkelanjutan seperti ini, meskipun projeknya baru dimulai dan masih perlu disempurnakan.

Hal ini dikarenakan, selain karena bangsa Jepang yang sudah sadar inovasi teknologi dan berwawasan bisnis berkelanjutan, mereka juga dikenal sangat suka makan enak dari olahan seafood berkualitas premium.

Baca juga: Standar Pelaporan Emisi Kakao Terbit, Dorong Cokelat Berkelanjutan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bencana di Indonesia Dinilai Akan Jadi Rutinitas dan Mudah Diprediksi
Bencana di Indonesia Dinilai Akan Jadi Rutinitas dan Mudah Diprediksi
LSM/Figur
DSC Salurkan Hibah Rp 2,5 Miliar, Ada UMKM Inovasi Alat Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga
DSC Salurkan Hibah Rp 2,5 Miliar, Ada UMKM Inovasi Alat Penyerap Karbon Berbasis Mikroalga
Swasta
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Dedi Mulyadi Rencanakan Hutan Bambu di Lahan Longsor Cisarua, Ahli Ingatkan Tak Cukup Sekadar Tanam
Pemerintah
IPB Sinergikan Program 'One Village One CEO' dengan Koperasi Merah Putih
IPB Sinergikan Program "One Village One CEO" dengan Koperasi Merah Putih
Pemerintah
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
LSM/Figur
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
Pohon di Hutan Kian Seragam, Pohon Asli mulai Menghilang
LSM/Figur
Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi
Hutan Hujan Amazon Terancam Mengering akibat Deforestasi
LSM/Figur
Air Fryer Disebut Lebih Ramah Lingkungan, Ini Penelitiannya
Air Fryer Disebut Lebih Ramah Lingkungan, Ini Penelitiannya
Pemerintah
Trump Tarik AS dari Berbagai Komitmen Iklim Padahal Jadi Negara Pengemisi Terbesar
Trump Tarik AS dari Berbagai Komitmen Iklim Padahal Jadi Negara Pengemisi Terbesar
Pemerintah
Cuaca Ekstrem di Indonesia Diprediksi hingga Maret 2026, Ini Kata BMKG
Cuaca Ekstrem di Indonesia Diprediksi hingga Maret 2026, Ini Kata BMKG
Pemerintah
Sejumlah Ikan di Perairan Pasifik Tercemar Mikroplastik, Fiji Paling Tinggi
Sejumlah Ikan di Perairan Pasifik Tercemar Mikroplastik, Fiji Paling Tinggi
LSM/Figur
PIS Tekan Emisi Karbon 116.761 Ton CO2e Sepanjang 2025
PIS Tekan Emisi Karbon 116.761 Ton CO2e Sepanjang 2025
BUMN
Raja Charles III Inggris Soroti Krisis Iklim Global lewat Dokumenter
Raja Charles III Inggris Soroti Krisis Iklim Global lewat Dokumenter
Pemerintah
Rumitnya Penanganan Polusi Udara, Tak Mengenal Batas Wilayah
Rumitnya Penanganan Polusi Udara, Tak Mengenal Batas Wilayah
LSM/Figur
Bambu Bisa Jadi 'Superfood', tapi Ada Risiko yang Perlu Diperhatikan
Bambu Bisa Jadi "Superfood", tapi Ada Risiko yang Perlu Diperhatikan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau